Siapa Salah? Salah Siapa?

APA gunanya menyimpan banyak pulpen dan kertas, kalau jarang menulis … atau setidaknya corat-coret sekenanya saat melamun dan berkhayal.

Corat-coret sekenanya; bisa berupa gambar, bisa pula berupa kata-kata. Nama entah siapa, umpatan dan makian tak jelas juntrungannya, kata dan frase yang selintas lewat dalam benak kita. Bisa juga kita menulis panjang lebar kegundahan dan kegalauan hati, lirik lagu yang terngiang, sampai beragam konsep yang terlintas dan tercetuas dalam pikiran.

Saya melihat, seperti ini juga cara kita bermedia sosial akhir-akhir ini. Kita sejatinya sedang bermonolog, berbicara sendiri, membatin, dan ngrasa-rasani tetapi secara terbuka … corat-coret sekenanya. Manakala ada yang melihat, tertarik, tergelitik, dan mungkin malah terpantik. Monolog mulai berubah menjadi dialog, jika dilayani.

Siapa yang salah ketika seseorang bermonolog bahkan untuk hal paling kontroversial sekalipun? Tidak ada. Karena dia berbicara pada dirinya sendiri, meskipun dipamerkan secara umum. Hingga kemudian ada yang melihat atau mendengar, memberikan penilaian dan tanggapan. Melebar, menyebar, dibagikan, makin banyak yang tahu dan terlibat, atau ikut melibatkan diri. Ibarat kertas berisi corat-coret sekenanya yang disebarluaskan, diperbanyak, difotokopi.

Salahnya siapa?

Pikiran yang jahat dan kejam memang berpotensi membahayakan. Namun, selama ia masih tetap tersimpan di dalam pikiran seseorang, hanya di situlah potensinya berada. Bisa jadi justru kita yang membesarkannya, kita yang mendorongnya, memberikannya tenaga untuk diwujudkan dan dijadikan nyata.

Menjadikan corat-coret sekenanya, tidak lagi sekadar sekenanya. Justru diseriusin.

Sebuah pelita, terdiri dari cawan, sumbu, dan minyak agar api bisa menyala. Tak ada salah satunya, di mana api akan/bisa berada? Berjuang untuk menghindari AKIBAT, seringkali kita malah menjadi salah satu SEBAB.

[]

Leave a Reply