Membicarakan Kematian Lagi

Sudah kurang lebih seminggu berlalu sejak seorang teman dekat saya berpulang. Kepergiannya sangat mendadak. Tidak ada yang tahu kalau dia sedang sakit saat itu. Malah kami sempat bertukar pesan beberapa hari sebelumnya, merencanakan janji temu singkat setelah selalu gagal mewujudkan rencana yang sama selama ini. Namun ternyata Tuhan berencana lain.

Tuhan malah merencanakan bahwa teman saya meninggal sendirian di tempat tinggalnya. Hari Senin siang dia masih berkomunikasi ke beberapa teman lainnya, lalu tiba-tiba tidak ada kabar sama sekali sore harinya. Senin malam, tidak bisa dihubungi. Demikian pula sepanjang hari Selasa. Kecurigaan mulai muncul. Lalu di hari Rabu pagi, beberapa temannya, dibantu polisi, mendobrak pintu tempat tinggalnya, dan menemukan teman saya dalam keadaan tidak bernyawa. Meninggal karena serangan jantung, dengan proses yang sangat cepat, sendirian di tempat tinggalnya.

Tentu saja kabar ini membuat banyak orang yang kenal beliau kaget, shocked, nyaris tidak percaya. Tak terkecuali saya, yang langsung membawa pikiran berlarut-larut selama beberapa hari. Kita tidak bisa mengelak, bahwa kabar kepergian orang yang dekat atau pernah dekat dengan kita, akan membuat kita mengobservasi diri kita sendiri lebih dalam. 

Sama seperti teman saya ini, saya tinggal sendiri. Kepergiannya mau tidak mau membuat saya berpikir, apa yang harus saya lakukan untuk mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi, yang terkait kematian.

Kurang lebih setahun yang lalu, saya pernah menulis soal sulitnya membicarakan dan menyiapkan kematian di manapun, dalam situasi apapun. Selama masa pandemi ini, kita sudah semakin sering mendengar kabar saudara atau teman yang berpulang mendahului kita. Namun ternyata frekuensi ini tidak membuat kita menjadi “bebal”. Kita tetap sedih, kita tetap menghela nafas panjang dan dalam setiap mendengar kabar serupa. Kita tetap merasa sulit melangkah, meskipun akhirnya kita tidak punya pilihan lain selain tetap sehat dan melanjutkan hidup.

(source: legacy.com)

Salah satu kesulitan saya dalam proses untuk melanjutkan hidup sepeninggal kepergian teman saya adalah kenyataan bahwa saya harus mulai membuka diri. Seorang teman mengingatkan saya, “Time for a reality check sekarang. Elo sudah ngasih kunci tempat tinggal elo ke temen atau keluarga dekat? Elo sudah punya daftar emergency contact yang udah elo print atau tulis di kertas yang bisa elo ambil setiap saat, atau elo kasih ke orang lain kalau elo butuh pertolongan?” 

Berondongan pertanyaan ini terus terang membuat saya terdiam beberapa saat. Dan mau tidak mau akhirnya saya mengakui, we can never truly live alone. We may die alone, but let’s be honest, we still need other people to settle our last business here on earth.

Terasa aneh saat saya menulis kalimat tersebut, tapi itulah kenyataannya. Kenyataan yang tidak bisa kita hindari.

Terus terang saya belum selesai melakukan proses mendata siapa saja yang harus saya beri akses kunci, kata sandi, dan hal-hal lain yang diperlukan kalau saya berpulang. Saya perlu waktu, dan memulai pembicaraan seperti ini ternyata tidak mudah. Mempersiapkan kematian adalah proses panjang.

Yang saya harapkan sekarang adalah saya punya waktu dan kesehatan untuk mulai melakukan semuanya.

Semoga.

Leave a Reply