Benarkah Benar-benar “Bahagia”?

BAHAGIA dengan tanda petik, lantaran setiap orang memiliki pemahaman yang berbeda-beda tentang tingkat kebahagiaan. Senang, gembira, suka, suasana hati yang nyaman, tenteram, girang, sukacita, atau sekadar ceria.

Saya teringat dengan sebuah contoh ini.

Aku bahagia banget bisa makan itu lagi.

Katakanlah makanan tersebut adalah menu favoritnya; sesuatu yang susah dijumpai; sesuatu yang mengingatkan pada masa kecil; atau sesederhana makanan tersebut lezat banget.

Pertanyaannya, apakah “bahagia banget” yang dia rasakan, ucapkan, dan tunjukkan adalah benar-benar bahagia? Kebahagiaan yang begitu berkesan, saking berkesannya hingga benar-benar berbekas di dalam hati, bertahan cukup lama, dan bahkan susah digantikan dengan emosi atau perasaan lain yang muncul kemudian.

Hal berikut ini barangkali akan terasa menyebalkan, karena terang-terangan berusaha untuk mengurangi “kebahagiaan” yang tengah dinikmati. Namun, kembali lagi ke tujuan awal, apakah “bahagia banget” yang dia rasakan, ucapkan, dan tunjukkan adalah benar-benar bahagia? Ataukah sekadar gejolak emosi sesaat saja?

  • Apakah makanan yang dimakan itu harus diperoleh dengan upaya memperoleh, yaitu dengan menanam, mencari, berburu, memasak, atau membeli?
  • Apakah memungkinkan dalam rangka mencari itu, si pencari itu tidak berhasil mendapatkan, dan akan kecewakah kecewa ketika ia tidak mendapatkan?
  • Apakah bahan makanan yang telah diperoleh itu perlu dijaga agar tidak dirampas oleh pihak lain?
  • Apakah ada kecemasan atau ketakutan dalam rangka menjaganya itu?
  • Apakah ada kekecewaan jika bahan makanan yang dijaga itu dirampas secara paksa?
  • Apakah bahan makanan yang telah disimpan itu perlu diolah sehingga menjadi layak makan?
  • Apakah enaknya makanan itu berlangsung dalam sekejap waktu, lenyap berbareng dengan masuknya makanan lewat kerongkongan?
  • Adakah kekecewaan terhadap singkatnya rasa enak makanan yang berlangsung di dalam mulut?
  • Apakah ampas makanan yang telah dimakan itu menjadi beban untuk dikeluarkan?
  • Akankah kesenangan atas makanan yang telah dimakan itu, suatu ketika akan muncul lagi, dan lagi?
  • Dalam rangka menikmati rasa makanan itu, akankah seseorang mengingini rasa lain, dan lainnya lagi?

Membaca pertanyaan-pertanyaan di atas saja sudah bikin males, belum lagi jika melanjutkannya dengan verifikasi dan penyelidikan atas jawaban-jawabannya. Jika kebanyakan pertanyaan tersebut cukup bisa dijawab dengan “ya”, situasi yang dianggap “bahagia banget” tadi ternyata mudah sekali berubah menjadi tidak menyenangkan. Sebut saja … rasa bahagia yang rentan; rentan berkurang, rentan hilang, dan rentan berubah menjadi kegelisahan serta emosi negatif lainnya.

… dan ini baru untuk satu situasi: Makan. Kegiatan yang fungsi dasarnya adalah untuk melangsungkan kehidupan, tetapi lama-kelamaan malah lebih terkenal dengan sensasi nikmat yang terasa di lidah, di dalam mulut.

Di sisi lain, sudut pandang ini berlaku secara menyeluruh. Bukan hanya untuk hal-hal yang alamiahnya menyenangkan, melainkan juga untuk hal sebaliknya, peristiwa yang menyebabkan kesedihan, kemarahan, dan perasaan malang. Pada intinya, kita berhati-hati dengan jebakan diri sendiri.

Mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, dinikmati sewajarnya, dan dilepas pergi ketika kondisinya memang demikian. Sebaliknya manakala mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan, didiamkan secukupnya hingga sensasinya berlalu, sambil tetap melihat solusi atau jalan keluar apa yang bisa diambil. Jika kembali mengambil contoh makanan tadi, bentuknya kurang lebih menjadi: “Gembira ketemu makanan yang disukai. Dinikmati secukupnya dan semampunya. Ketika habis, ya, sudah, memang demikian keadaannya. Seenak apa pun makanan tersebut…

Lalu, kenapa mesti ribet meneliti, memverifikasi, dan menyelidiki urusan “sepele” seperti ini? Karena sehebat-hebatnya kita sebagai makhluk, kita tetap lemah dengan hati dan perasaan kita sendiri. Entah ditipu dan diperdaya oleh perasaan sendiri, kita tetap turut serta. Menjadikan kita insan yang rentan, gampang digoyahkan kegembiraan dangkal menyebabkan kesedihan superfisial. Dalam filosofi Jawa, populer dengan ora kagetan lan ora gumunan, tidak gampang terkejut dan tidak gampang bingung.

Capek, soalnya. Dikit-dikit takjub, dikit-dikit bingung.

[]

Leave a Reply