Persiapan Yang Instan Karena Terbiasa

Rencananya hari ini saya akan menulis soal reaksi hasil pemilihan presiden Amerika Serikat. Semacam mengulang tulisan tentang hal serupa empat tahun lalu. Namun melihat updates dari media sosial, kok sepertinya hasil pemilihan presiden ini baru bisa ketahuan dalam beberapa hari. Itu skenario paling cepat. Bisa jadi hasil awal baru diketahui minggu depan. 

Alhasil, saya memilih untuk tidak menulis reaksi tersebut. Toh kita sudah tahu, apa rasanya menjalani hidup yang, meskipun jauh dari Amerika Serikat, tetap saja terpengaruh dengan pemberitaan seputar presidennya. Apalagi presiden yang masih menjabat sekarang. Kalau dia terpilih lagi, maka kita sudah tahu, kurang lebih akan seperti apa sensasi yang dikeluarkan dalam beberapa tahun ke depan. 

Sementara kalau lawannya terpilih, kita bisa menduga-duga, perubahan apa yang akan terjadi. Mungkin akan mirip dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan selama dia menjadi wakil presiden. Mungkin juga, diam-diam dia sudah menyiapkan wakil presidennya untuk menggantikan posisi presiden suatu saat, karena faktor usia.

Apapun hasilnya, perasaan saya memilih untuk tetap tenang. 

Saya pun menjalani aktivitas sehari-hari, yang semakin padat dalam beberapa hari terakhir ini. Maklum, menjelang event pekerjaan dimulai, setiap hari ada saja virtual meetings yang harus diikuti. Sampai saudara saya mengabari kalau ayah saya sakit. 

Tanpa perlu saya bertanya, saudara saya mengatakan kalau penyakit ayah saya, yang pernah menyerangnya beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir, kembali lagi. Saya tidak langsung bereaksi. Saya melanjutkan pekerjaan dan menghadiri meetings. Baru setelah ada waktu luang, saya menelpon ke rumah, menanyakan runut kejadian, dan memastikan ketersediaan obat selama beberapa hari ke depan sampai pemeriksaan selanjutnya. Setelah saya berbicara dengan ayah saya cukup lama, saya pun kembali menjalani aktivitas hari ini.

Ibu saya sempat mengingatkan, bahwa penyakit ayah ini hadir pertama kali sekitar 7-8 tahun lalu. Saat itu, kami semua panik. Baru pertama kali kami ada dalam situasi yang pelik, yang tidak kami sangka akan terjadi. Kami pun bereaksi dalam kepanikan, mengerjakan apa yang bisa dikerjakan, meskipun tidak karuan hasilnya. Ayah sembuh, namun penyakit ini datang lagi kerap kali dalam jangka waktu tertentu. Kadang-kadang tidak diduga. Namun karena kami sudah terbiasa, maka reaksi kami setiap penyakit ini datang menjadi lebih teratur. Sudah tahu apa yang harus dilakukan. 

Kalaupun ada deviasi atau sedikit perbedaan dari gejala-gejala yang sudah pernah terjadi sebelumnya, kami tetap melakukan dengan tenang, tanpa perlu panik. Maklum, sudah terbiasa.

Akhirnya kebiasaan-kebiasaan ini melatih kita untuk menghadapi situasi dengan kepala dingin. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan. 

Siapa yang mengira di akhir tahun 2019, bahwa tahun 2020 kita semua akan babak belur, tanpa terkecuali? Tidak ada yang tahu, bahkan ahli nujum yang paling canggih sekalipun. 

Yang kita tahu pasti adalah tempaan hidup kita akan membuat kita menghadapi apa yang terjadi dengan tenang. Memang, masalah baru memerlukan penyelesaian yang baru. Tapi bukankah penyelesaian baru itu juga dibuat dari pengalaman-pengalaman kita yang dulu-dulu? Kita ambil satu bagian dari menyelesaikan kejadian A, lalu satu bagian dari solusi untuk masalah B, C, D dan lain-lain, lalu kita ramu, dan jadilah penyelesaian yang baru. It takes time, it takes experience, it takes some “getting used to it” attitude just to be calm

Tenang. Kita masih di sini. Apapun yang terjadi.

(source: goalcast)

Leave a Reply