Waktu Tak Pernah Kembali

Setiap merasa tidak ada ide untuk menulis di Linimasa ini, yang bisa jadi karena malas, saya selalu berpikir, “Ah, minggu depan saja.” Dengan penuh rasa optimis saya haqul yaqin akan menulis seminggu dari sekarang. Padahal saya tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, apalagi tujuh hari dari sekarang.

Dan ketika hari itu tiba, tepat seminggu kemudian dari awal berpikir soal penundaan tersebut, biasanya saya malah lupa pernah membuat janji seperti di atas. Seringnya malah semakin sibuk dengan rutinitas atau pekerjaan yang menyita waktu. 

Hal yang sama berlaku untuk olahraga. Apalagi olahraga. Apalagi olahraga di masa pandemi. Mengusir atau menaklukkan rasa malas perlu perjuangan yang luar biasa. Selalu ada pemikiran, “Iya, 10 menit lagi mulai yoga.” Sepuluh menit kemudian, “5 menit lagi deh.” Lima menit kemudian, “Tanggung nih, 10 menit lagi, deh.” Sampai akhirnya, notifikasi panggilan meeting muncul, lalu panik. “Ya ampun, mau siap-siap dulu!” Meeting berjalan lama lebih dari dua jam, capek, lalu makan, kenyang dan tidur. Another day has gone by without exercising. Tentu saja ini adalah kisah nyata yang berkali-kali saya alami.

Apakah kita tidak bisa menguasai waktu? Tentu saja bisa. Apakah mudah? Oh, tentu saja tidak. Perlu kedisiplinan yang tidak bisa dikuasai dalam waktu singkat. Kebiasaan untuk menggunakan waktu dengan baik adalah kebiasaan yang harus mau dan rela kita jalani selama bertahun-tahun. Mungkin beberapa dekade. Sesekali pasti kita “jatuh”, back to the comfort and pleasure of our laziness. Selama kita sadar kalau kejatuhan ini hanya sementara, dan kita mulai menjalani rutinitas yang baik, we’re still good to go.

Semoga setelah kita membaca tulisan singkat ini, kita kembali melakukan apa yang sebenarnya harus kita lakukan. Supaya waktu tidak terbuang. Karena waktu bukan uang yang bisa dicari lagi, bukan air, listrik atau sumber energi yang bisa diolah lagi. Once the time is gone, it is gone.

And we move on.

(source: changeboard.com)

Leave a Reply