Hampa

Me-Lirik-Lagu-Bo-Chord-Hampa-Ari-Lasso-C-D-E-F-G-A-B-karya-valentin-lacoste-unsplash-scaled

Kata yang menurut saya perlu dibahas dengan sabar, perlahan adalah kata ‘hampa’. Sebisa mungkin kita tak menggunakan kamus, namun rasa. Hampa udara. Ruangan tanpa udara. Maka apakah hampa dapat diartikan sebagai ketiadaan. Bagaimana dengan perasaan hampa? Apakah tidak merasakan, tidak ada apa-apa?

Apakah sama dengan vakum?  “Dia sudah vakum dari kegiatan menulis”. Vakum apakah artinya berhenti? Tak bergerak, atau juga tak ada apa-apa. Saking seringnya kita dengar vakum cleaner makanya vakum seolah-olah penyedot. Hahaha.

Apakah hampa sama dengan alpa. Tidak hadir. Hampa untuk benda dan alpa untuk seseorang?

Dalam Gerimis, Raditya Dika menulis: Ketika Alfred diputus pacarnya, hatinya terasa hampa. Pertanyaan berikutnya adalah: apakah perasaannya atau pikirannya? Hampa tentu saja berbeda dengan kosong. Tiada menghamba, karena hampa. Bukan soal raga, namun rasa.

Bagi Raditya Dika,

Hampa itu seperti langkah tak berjejak, senja tapi tak jingga, cinta tapi tak dianggap

Langkah tak berjejak seperti melayang. Senja tapi tak jingga seperti tak biasanya. Cinta tak dianggap adalah sebuah kesia-siaan, namun akibatnya adalah perasan hampa. Kira-kira seperti itu.

Bagi Ahmad Dhani, ‘hampa’ adalah kosong:

Di dalam keramaian aku masih merasa sepi / Sendiri memikirkan kamu / Kau genggam hatiku / Dan kau tuliskan namamu / Kau tulis namamu… //
Tubuhku ada di sini // Tetapi tidak jiwaku / Kosong yang hanya kurasakan / Kau telah tinggal di hatiku

Hampa dapat didekatkan pemaknaannya dengan kondisi fisik riil serupa hampa udara. Namun lebih sering digunakan sebagai ungkapan atas sebuah perasaan.

Demikian halnya bagi Ari Lasso:

Kupejamkan mata ini
Mencoba tuk melupakan
Segala kenangan indah tentang dirimu
Tentang mimpiku
Semakin aku mencoba
Bayangmu semakin nyata
Merasuk hingga ke jiwa
Tuhan tolonglah diriku
Entah dimana dirimu berada
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu
Apakah disana kau rindukan aku
Seperti diriku yang selalu merindukanmu
Selalu merindukanmu
Hampa bagi Ari adalah ‘kehilangan’. Senantiasa hadir lalu tiba-tiba tiada. Dia merasakan ada sesuatu yang hilang yang biasanya ia rasakan.
Saya menemukan di kompasiana, puisi karya Khairu Syukrillah:

Hampa

Rintik hujan nan sendu, menutup geliat senja. Meski angin bergemuruh, halilintar meraung-raung namun pandangan kosong nan hampa menatap kaca yang berembun, lebih mendominasi jiwa.

Saat itu aku terdiam, terpaku, merenung, dengan tatapan kosong menatap hujan, inilah marahnya sang alam pada jiwa yang hampa? Pada jiwa yang meronta namun berteriak dalam diam?

Ada perasaan yang bahkan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, lalu aku berkata, kenapa? Kenapa hampa? Ada apa?

Tanpa jawab, tanpa tanggap dan senyap, seketika jemariku juga kaku untuk menuliskan ratusan kata sebagai jeritan atas jiwa yang hampa.

Semuanya gaduh, semuanya gemuruh, lebih gemuruh dari halilntar yang bergemuruh. Semua gaduh dan semuanya teriak, menjerit, meronta namun tanpa kata, tanpa suara.

Seketika hening, seketika diam dan seketika hampa. Hampa tanpa dosa dan hampa tanpa suara.

Tuhan, maafkan atas candu hampa ini.

Brebes, 9 Februari 2020

Bagi Khairu, hampa membuatnya candu. Dalam puisinya, ‘hampa’ adalah suasana tenang setelah badai perasaan.

Semuanya gaduh, semuanya gemuruh, lebih gemuruh dari halilintar yang bergemuruh. Semua gaduh dan semuanya teriak, menjerit, meronta namun tanpa kata, tanpa suara. 

Seketika hening, seketika diam dan seketika hampa. Hampa tanpa dosa dan hampa tanpa suara.

Tuhan, maafkan atas candu hampa ini.

Menariknya, ia juga menulis:
Saat itu aku terdiam, terpaku, merenung, dengan tatapan kosong menatap hujan, inilah marahnya sang alam pada jiwa yang hampa? Pada jiwa yang meronta namun berteriak dalam diam?
Hampa baginya bukanlah keadaan statis. Hampa adalah kesunyian walaupun sebetulnya menyimpan energi besar yang meronta. Bahkan berteriak tanpa suara.
Sangat menarik bukan pemaknaan hampa bagi banyak orang. Khairu tidak spesifik bicara soal cinta. Ia berbeda dengan Raditya, Ahmad atau Ari. Hampa baginya tidak penting bicara apa asal-muasalnya. Ia justru bicara proses hampa dan akibatnya yang membuatnya kecanduan. Hampa bukan sebagai akibat, namun sebab dari sebuah situasi baru.
Hampa menjadi sebuah subyek. Semacam awal dari tahapan baru.
Bagi saya sendiri, hampa itu menipu. Seolah-olah dia kosong, tanpa apa-apa, padahal hampa adalah segala. Saya menyukai konsep hampa dalam kultur jawa sebagaimana dalam wiki dijelaskan:

Suwung (aksara Jawa: ꦱꦸꦮꦸꦁ) adalah konsep dalam masyarakat Jawa untuk menggambarkan rasa hampa akan kesadaran diri dengan lingkungannya. Hampa di sini dapat diartikan sebagai kondisi kosong yang arupa alias tidak memiliki bentuk.[1] Konsep suwung dipandang sebagai asal-muasal dari alam semesta, hakikat dari segala sesuatu.[2] Suwung adalah kenyataan mutlak yang tidak dapat dijangkau oleh indra manusiawi.[3]

Sementara itu, kelompok beraliran sufisme mengartikan suwung dengan berbeda. Suwung bagi mereka mengandung makna kekosongan yang bernuansa pengendalian diri yang sempurna dan kesadaran sejati akan diri yang berkaitan dengan ketuhanan. Dalam ajaran Suluk Suksma Lelana, suwung adalah tahapan tertinggi, yaitu makrifat. Dalam tahapan ini, seseorang telah berhasil mencapai hakikat ketuhanannya.[1]

Suwung atau hampa dalam khasanah budaya Jawa justru dicari manusia yang ingin menemukan dirinya, (atau menghilangkan dirinya sama sekali). Hampa dirinya untuk sadar atas kehambaannya. Hamba yang hampa agar menjadi hamba sejati.
Bagi masyarakat perkotaan, kata hampa, lebih dimaknai sebagai hidup tanpa makna. Dengan segala kesibukannya yang serba bergegas. Kehidupan yang banal atau nir adiluhung, keras dan trengginas. Juga hidup yang profan, yang jauh dari nilai relijius.
Bagi saya hampa tak bisa dikekang oleh sebuah kamus. Hampa biarlah menjadi apa adanya. Dimaknai oleh banyak orang yang telah mengalami “pengalaman” yang intim, intens dan sangat personal. Hampa bagai kepompong, yang menjadikan kita kupu-kupu indah.
Bagi kamu, apa arti hampa?

 

Leave a Reply