“Emangnya aku dapat apa?”

DAPAT…
Dapat…
Dapat…

Pemikiran ini yang selalu bergelayut dalam benak kita untuk–hampir–segala hal. Kita dilumpuhkan oleh penilaian dalam bentuknya yang paling kasar; perhitungan untung-rugi.

Kita cenderung mau, dan baru akan mau melakukan sesuatu bila jelas hasil akhirnya, atau setidaknya, bila kita merasa yakin atas hasil akhirnya (meskipun belum tentu demikian).

Emangnya aku dapat apa?

Kita cenderung mau, dan baru akan mau melakukan sesuatu bila kita bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan di atas. Pertanyaan yang seolah-olah ditujukan kepada orang lain, padahal sebenarnya juga turut ditujukan kepada diri sendiri.

photo of person walking on desert
Photo by Ethan Jones on Pexels.com

Kita juga seringkali terjebak, bahwa “mendapatkan” itu baik, dan “tidak mendapatkan” itu buruk. Terlepas dari apa pun objeknya, ada kondisi ketiga yang kerap terlupakan atau sengaja diabaikan: “kehilangan”.

Dapat
Tidak dapat
Hilang

Banyak yang menganggap tidak dapat itu sama dengan hilang. Padahal secara gamblang tidak demikian. Dapat, berarti memperoleh sesuatu yang belum ada sebelumnya. Tidak dapat, berarti tidak memperoleh sesuatu yang ada sebelumnya. Sementara hilang berarti melepaskan–seringkali tak diinginkan–sesuatu yang telah ada sebelumnya.

Selama ini, perilaku kita dibentuk oleh kebiasaan diri dan lingkungan, Kita terbiasa merasa senang bila mendapatkan. Teramat senang, bahkan sampai histeris dan hanyut dalam kegembiraan. Kita pun merasa sedih manakala tidak mendapatkan/tidak berhasil mendapatkan dan ketika kehilangan.

Pertanyaannya, mengapa harus merasa sedih saat tidak mendapatkan?

Kita tidak memiliki sesuatu sebelumnya, lalu kita tidak berhasil mendapatkan sesuatu yang tidak kita miliki sebelumnya tersebut. Keadaannya tak berubah, kan? Semua masih sama seperti sebelumnya.

Jadi, apakah yang membuat kita merasa sedih saat tidak mendapatkan?

Keinginan dan ekspektasi, pemikiran penuh harap (wishful thinking), serta kebiasaan bahwa segala hal yang telah dilakukan baik secara fisik maupun mental harus memberikan hasil, harus bisa membuat kita memperoleh sesuatu yang nyata. Itu yang bikin sedih dan mengacaukan hati.

Emangnya aku dapat apa?” menunjukkan bahwa kita menginginkan dan mengharapkan sesuatu. Sesuatu yang ditawarkan oleh pihak lain.

Emangnya aku dapat apa?” menunjukkan bahwa kita masih terpenjara dalam konsep kesia-siaan, bahwa sesuatu yang kita anggap tidak menghasilkan wujud apa-apa ialah tidak berguna. Padahal, siapa yang tahu apa di balik kesia-siaan tersebut.

Emangnya aku dapat apa?” menunjukkan bahwa kita memang seterbatas dan setidak mampu itu. Ya … mungkin memang bukan salahmu juga, sih, karena belum bisa melihat melampaui apa yang ada, atau gampang lelah jasmani maupun batin, atau jangan-jangan … memang tidak ada apa-apa di baliknya?

Mencoba melepaskan diri dari keinginan dan ekspektasi, lakukan/tidak lakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (doing/not doing something for its own sake), bukan semata-mata lantaran mendapatkan/tidak mendapatkan. Merdeka dan mandiri terhadap diri sendiri.

Sampai akhirnya memiliki alasan dan mampu untuk menjawab pertanyaan “emangnya aku dapat apa?” kepada diri sendiri dengan pertanyaan lainnya; “emangnya kenapa kalau enggak dapat apa-apa?

[]

2 thoughts on ““Emangnya aku dapat apa?”

  1. Mas Gono, terima kasih sudah menuliskan ini.
    Tepat baru-baru ini aku tidak mendapatkan kata lolos dalam suatu ujian.
    Bener, harusnya bisa legowo krn sebelumnya jg belum memilikinya, harapan dan ekspektasi saja yg melekat dalam diri jd menderita. Sebelumnya jg menjalani kehidupan tanpa itu.

    Merasa lebih dikuatkan lg pas baca ini barusan. Terima kasih banyak

    1. Yaaah… turut bersimpati atas kejadian itu. Semoga berhasil di kesempatan lainnya, dan semoga bisa menguatkan untuk hal-hal di masa depan.

      Kalaupun belum sebegitu kuat, tak apa. Pelan-pelan saja.

      Terima kasih juga sudah berbagi.

Leave a Reply