Adakah Kebenaran dalam Echo Chamber?

APAKAH ini?

Foto: Jawad Jawahir

Kita barangkali akan langsung menyebutnya sebagai semangkuk “air putih”, bahkan tanpa keraguan sama sekali.

Mengapa kita bisa menjawab demikian? Umumnya karena berdasarkan pengalaman, pengamatan, dan pengetahuan yang ada sejauh ini, bahwa;

  1. Isi mangkuk bisa terlihat dari luar,
  2. Isi mangkuk terlihat seperti cairan,
  3. Cairan tersebut tanpa warna, transparan,
  4. Cairan tanpa warna biasanya adalah air.

Padahal, sebelum kita benar-benar membuktikannya sendiri, cairan tersebut belum tentu adalah air yang H2O. Bisa saja cuka (CH₃COOH), alkohol (C2H5OH), hidrogen peroksida (H2O2), atau malah kerosin atau yang lazim disebut minyak tanah.

Terdapat dua jenis kebenaran dari contoh di atas. Pertama, hampir semua umat manusia di bumi tahu bahwa cairan encer yang transparan adalah air (kemudian ciri-cirinya terus bertambah menjadi tanpa rasa, tanpa bau, bisa mendidih menguap saat terkena api, dan bisa membeku saat terpapar suhu dingin). Ini adalah kebenaran konsensual, lantaran DIANGGAP sebagai sebuah kebenaran atas dasar pengalaman dan kesepakatan bersama.

Kedua, kebenaran kesepakatan tadi bertahan begitu saja di sepanjang peradaban manusia, sampai terjadinya ledakan di Inggris pada tahun 1810, dan rumus kimia H2O ditemukan di Italia setahun kemudian. Menghasilkan fakta bahwa gugus H2O ialah air, dan air (murni) haruslah terdiri atas dua atom hidrogen dan satu atom oksigen. Ini merupakan kebenaran mutlak yang tak terbantahkan.

Tanpa peduli ingin berdebat sekencang apa pun, air (murni) ialah H2O. Meski dalam proses pembuktiannya memerlukan upaya lebih lanjut, perlu repot sedikit, atau malah dijatuhi hukuman seperti pengalaman Galileo atas fakta tata suryanya, fakta tetaplah fakta.

Entah air bermineral lebih baik daripada air murni, atau air “yang ada manis-manisnya” lebih enak daripada air murni, atau air pegunungan lebih menyegarkan daripada air keran, dan beragam narasi konflik berikutnya, air murni tetaplah H2O.


Kita makin sering mendengar istilah Echo Chamber atau Ruang Gema beberapa tahun terakhir, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan politik.

Tanpa disadari, kecenderungan untuk terpapar; berdiam; atau bahkan membangun Echo Chamber sebenarnya juga terjadi hampir pada segala aspek kehidupan kita, bukan cuma politik. Makanya, ketika ada yang mengira urusan Echo Chamber dan penjungkirbalikan realitas sudah mereda, harus terus waspada.

Echo Chamber adalah tempurung referensi yang disusun berdasarkan keinginan dan pemahaman kita sendiri. Dalam Echo Chamber, kita akan menyambut dan mengelu-elukan semua informasi yang sejalan dengan keinginan dan pemahaman kita. Begitu pula sebaliknya, kita menutup pemikiran dan menghalau keras semua informasi baru yang berkata sebaliknya. Kita pun bisa memperlakukan kebenaran konsensual selayaknya kebenaran mutlak, kendati levelnya belum memenuhi sampai ke situ.

Dalam Echo Chamber, kita hanya mendengar apa yang ingin kita dengar; bisa dengan membatasi atau memfilter informasi yang masuk, bisa juga dengan mencerna informasi sesuai penafsiran kita sendiri. Dengan demikian, Echo Chamber adalah sikap mental dan tindakan, bukan semata-mata loka pikir atau hasil akhir.

Lalu, adakah kebenaran dalam Echo Chamber? Mungkin … kebenaran mutlak adalah kebenaran yang sudah teruji. Entah asalnya berupa kebenaran konsensual, opini personal, atau malah lawan dari kebenaran konsensual, pengujiannya menghasilkan fakta. Bisa berupa fakta akhir, bisa juga menjadi fakta berkelanjutan yang terus berkembang. Intinya, tanpa perlu dikurung dan dijaga dalam Echo Chamber pun, kebenaran mutlak tetaplah kebenaran.

Jangan lupa, kebenaran konsensual belum tentu kebenaran mutlak, apalagi opini pribadi yang didasarkan pada imajinasi, misinterpretasi, standar-standar longgar lainnya, apalagi sekadar “katanya/kabarnya/mereka bilang…”

Karena itu pula, sebaiknya tidak terlampau fanatik, ngegas dan kenceng berteriak tentang sesuatu yang kita anggap paling benar. Sebab, sekali terbukti bahwa apa yang kita yakini itu salah dan keliru, hasil akhirnya hanya dua: Kecewa, atau justru tutup mata.

Masih mending kecewa, sih. Kekecewaan menyakiti hati kita sendiri, tetapi berpotensi memberikan pelajaran dan penguatan ke depannya. Sementara tutup mata dan tidak peduli adalah bentuk kedunguan. Sudah salah, berisik, ngganggu orang lain, dan bisa banget menyebabkan kerugian bagi lebih banyak orang

… kecuali kalau memang itu tujuan asalnya.

[]

Leave a Reply