Sekolah

KAMU mendingan sekolah lagi aja…”

Sekilas, itu yang sempat saya dengar di warung Pecel Lele langganan tak jauh dari rumah beberapa malam lalu.

Ucapan tersebut disampaikan pelan dan santai oleh sang empunya warung kepada pegawai baru (karena tidak pernah kelihatan sebelumnya), sambil sesekali membalik lauk yang tengah digoreng, kemudian disambi membungkus nasi, lalapan, dan sambal terasi. Dia yang bekerja, bukan pegawainya.

Saat itu, susah bagi saya untuk tidak menduga-duga apa yang sedang terjadi, meskipun dalam hati saja. Apakah si pegawai kurang gesit dan terampil dalam bekerja, sampai keluar ucapan tersebut? Apakah ucapan tersebut merupakan bentuk penolakan halus kepada si pegawai agar berhenti bekerja di sana? Atau apakah ucapan tersebut justru merupakan bentuk simpati kepada si pegawai yang masih relatif muda untuk memutuskan bekerja di warung Pecel Lele?

Apa pun latar belakang yang sebenarnya terjadi, saya yakin pasti dianggap penting dan cukup menyita perhatian. Pasalnya, pesanan saya tidak seperti biasa, kurang kering. Nasinya juga jauh lebih banyak dibanding sebelumnya. Dia agak kurang fokus.


Saya baru terpapar dan membaca utas ini semalam. Kisah latar yang bersinggungan dengan sekolah disampaikan dalam cuitan kedua.

Terlepas dari ceritanya secara spesifik, sekolah ternyata tak hanya menjadi tempat belajar-mengajar secara formal. Keterpaparan seseorang terhadap ideologi, konsep, ide dan gagasan, teori, hingga berbagai percabangannya terjadi di sekolah. Bisa dibilang, proses indoktrinasi, dogmatisasi, atau pun internalisasi nilai-nilai (hampir apa saja) bisa berlangsung efektif di dalam lingkungan sekolah, untuk kemudian dikuatkan di rumah masing-masing. Terlebih oleh para orang tua yang abai, kurang cakap, bahkan ignorant atas asupan kognitif anak-anaknya.


Dua contoh kecil di atas tentu tidak memadai untuk membahas sekolah–secara harfiah atau sebagai institusi–secara menyeluruh.

Ada yang menempatkan sekolah sebagai solusi menjalani masa depan. Ada pula yang justru menempatkan sekolah sebagai tempat penitipan anak plus-plus, setidaknya pada hari dan jam kerja. Makin mahal sekolahnya, makin bergengsi pula kesannya. Menentukan seberapa bangga dan besar hatinya sang orang tua.

Namun pada akhirnya, sang anak sendiri yang menentukan sekaligus merasakan fungsi dan manfaat sekolah itu bagi dirinya … sampai bertahun-tahun setelah lulus.

Di saya sendiri, baru seminggu terakhir tercerap dalam grup WhatsApp satu angkatan SMA (SMUN 1 Samarinda); grup kontak langsung pertama setelah sekian belas tahun lamanya.

Sekolah dan tiga tahun pengalaman hidup di dalamnya membantu kami menjadi seperti sekarang dalam segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Begitu terkumpul kembali, praktis, inilah salah satu fungsi dasarnya.

[]

Leave a Reply