Bahagia Tanpa Banyak Alasan

BAHAGIA itu sederhana, yang ribet itu kamunya.” Kalimat teguran ini sangat mudah dipahami, tetapi amat sulit dijalani. Sehingga kita cenderung menjauhkan diri kita sendiri dari rasa bahagia secara sengaja, lewat berbagai kondisi dan alasan.

Kita adalah insan, subjek, yang ingin merasakan bahagia.

Ada hal-hal penyebab munculnya rasa bahagia, baik (1) yang mesti kita kejar dan dapatkan, maupun hal-hal (2) yang belum kita sadari.

Kita merasa bahagia ketika berhasil mendapatkan yang diinginkan. Kita merasa tidak bahagia ketika gagal mendapatkan yang diinginkan. Kita pun akan merasa lebih tidak bahagia ketika orang lain, sesuatu yang lain, atau keadaan yang terjadi seolah-olah merampas apa yang telah kita miliki. Dari sesuatu yang awalnya kita idamkan, lalu berhasil didapatkan dan kita pertahankan, tetapi kemudian dipisahkan dari kita.

Ini untuk situasi yang pertama, yang sudah lazim diketahui. Dengan segala keterbatasan yang kita miliki, kita condong untuk berpegang melekat pada hal-hal yang itu-itu saja; mengejar yang itu-itu saja. Tanpa disadari, apa yang selama ini kita anggap sebagai sumber-sumber kebahagiaan, sebenarnya hanyalah stimulan rasa gembira, kesenangan di tingkat paling dasar. Bukan sebenar-benarnya kebahagiaan.

Semuanya masih terbentang luas, siap untuk dialami sendiri sebagai situasi kedua … pada waktunya.

Berikut beberapa ilustrasinya.

– Ada yang merasa bahagia setelah mendapatkan sesuatu untuk dirinya sendiri.
– Ada yang merasa bahagia setelah mendapatkan sesuatu untuk dirinya sendiri, dan bisa dibagikan pula kepada yang lain.
– Ada yang merasa bahagia setelah mendapatkan sesuatu dari orang lain.
– Ada yang merasa bahagia setelah orang lain kehilangan sesuatu tersebut.
– Ada yang merasa bahagia setelah orang lain tidak mendapatkan sesuatu tersebut. ~ seperti anggota DPR yang sengaja membatalkan pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) dengan dalih … tidak mampu ~
– Ada yang merasa bahagia setelah mendapatkan sesuatu untuk kebahagiaan orang lain.
– Ada yang merasa bahagia setelah melepaskan sesuatu untuk dirinya sendiri.
– Ada yang merasa bahagia setelah melepaskan sesuatu untuk kebahagiaan orang lain.

Dari poin-poin di atas, bahagia mana yang benar-benar memberikan kebahagiaan? Sebab semuanya memerlukan pengkondisian; memerlukan syarat agar bisa terjadi. Dengan kata lain, selama ini kita masih dibelenggu alasan agar bisa merasa berbahagia.

Satu contoh lainnya. Kebahagiaan itu bernama damai dengan diri sendiri. Hal yang dilakukan untuk berdamai dengan diri sendiri adalah meminta/memberikan maaf.

Manakala seseorang meminta maaf, ia tak terlampau bergantung pada respons yang diberikan; apakah maafnya diterima atau justru ditolak. Ia meminta maaf demi berdamai dengan diri sendiri; demi ketenteraman diri sendiri; demi upaya untuk meringankan rasa bersalah yang timbul atas apa yang telah ia lakukan sebelumnya (hingga dia harus minta maaf).

Begitu pula bagi mereka yang memberikan maaf untuk berdamai dengan diri sendiri. Manakala ia bisa melepas kebencian, dendam, dan sakit hati (atas perbuatan yang dimintai maaf), gejolak apa lagi yang masih tersisa untuk berkecamuk di dalam dirinya? Atau bisa juga demikian; manakala ia telah berdamai dengan dirinya sendiri (dengan memberikan maaf), suasana hatinya pun bisa kembali ikhlas dan tenang, mana di manakah kebencian, dendam, dan sakit hati bisa bercokol?

[]

Leave a Reply