Menjadi Terlupakan

BEBERAPA hari lalu, saya terpapar dengan syair berikut:

Kebahagiaan berasal dari niat untuk membahagiakan orang lain,
penderitaan berasal dari niat untuk memenuhi keinginan diri sendiri saja.

Tanpa melihatnya sebagai sebuah pemikiran yang terlampau disederhanakan (oversimplification) dan rawan diselewengkan, saya cenderung setuju dua kalimat tersebut. Manakala dengan berpikir serta menumbuhkan niat untuk bisa membahagiakan orang lain saja, bisa turut menumbuhkan rasa bahagia dalam diri kita sendiri. Apalagi jika niat tersebut diupayakan sekuat tenaga, berhasil tertunaikan, dan turut memberikan kebahagiaan bagi orang lain, bahagia yang kita rasakan akan berkembang berkali lipat.

Membahagiakan orang lain bisa beragam bentuknya. Misalnya memberikan bantuan, meringankan beban, mewujudkan harapan, maupun mengkondisikan kegembiraan. Dalam hal ini kita tetap harus bertindak bijaksana, melihat kepatutan, ya … karena itu tadi, masih rawan diselewengkan. Makanya, cukup niat sebagai pembuka.

Nah, masalah muncul bila kita melakukan kalimat kedua. Diawali dengan niat untuk memenuhi, dan hanya memenuhi keinginan diri sendiri. Termasuk ketika kita seolah-olah berniat dan ingin membahagiakan orang lain, padahal yang kita lakukan sebenarnya adalah untuk memenuhi keinginan diri sendiri.

Inilah yang seringkali terjadi, baik disadari atau pun tidak. Pun oleh diri kita sendiri. Dimulai dari hal paling mendasar:

Mengapa kita bersusah payah ingin meninggalkan kesan yang baik melalui ucapan dan tindakan?
Mengapa kita sedemikian inginnya diingat oleh orang lain atas perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan?
Apa yang sebenarnya kita inginkan dari kesan, ingatan, atau citra positif tersebut?
Apa yang sebenarnya ingin kita capai?

Manakala jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tadi adalah: “Menyenangkan rasanya jika bisa menjadi orang yang baik bagi sesama,” dua kalimat pembuka di atas pun akhirnya saling berkelindan; merasa menderita ketika tidak berhasil membahagiakan orang lain, lantaran kita merasa gagal jadi orang baik.

Sementara itu, salahkah kiranya bila kita ingin membahagiakan orang lain, sebagai upaya pemenuhan keinginan kita sendiri? Entahlah. Niatan untuk membahagiakan orang lain semestinya bukan sesuatu yang mengikat, mengekang, atau justru menjadi beban tambahan. Membahagiakan orang lain sebagai bentuk latihan melepaskan diri dan ego, bukan justru malah mengeratkannya.

Teman-teman muslim mengenalnya sebagai ria (iya, di KBBI tertulis begini, bukan riya), yang konon tergolong dosa, makanya harus dihindari. Begitulah dalam bentuknya yang paling kasar, kebanggaan yang beda tipis dengan kesombongan. Sedangkan dalam bentuknya yang berangsur menghalus, kebahagiaan setelah merasa berhasil membahagiakan orang lain juga termasuk salah satunya.

Ini pun bukan sekadar persoalan benar dan salah, tatkala kita berniat membahagiakan orang lain, kemudian menjadi terlupakan tanpa ada yang terasa hilang/merasa kehilangan.

Apa salahnya menjadi terlupakan?

Lagipula, apanya yang hilang jika sejatinya kita tak memiliki apa-apa, termasuk dualisme bahagia/derita itu sendiri.

[]

Leave a Reply