Cerita Kita

Beberapa hari lalu, saya menonton film berjudul Minnie and Moskowitz (1971), karya sutradara John Cassavetes. Sutradara ini sering mengangkat cerita seputar orang-orang kecil, biasanya dari kalangan menengah ke bawah, di kota New York. Sering kali mereka tampak invisible di tengah riuh-rendahnya kehidupan metropolitan, namun mereka punya cerita sendiri-sendiri yang menarik. Film-filmnya pun biasanya digarap dengan biaya produksi yang rendah, dengan beberapa aktor yang sudah menjadi langganan produksinya, dan dibuat di lokasi di New York, bukan di studio di Hollywood, sehingga tampilan filmnya cenderung gritty and real.

Film yang saya sebut di atas mengisahkan perempuan bernama Minnie, yang bekerja sebagai kurator museum, yang tanpa diduga bisa menjalin hubungan asmara dengan Moskowitz, tukang parkir mobil yang neurotic dan obsesif. Namun sebelum Minnie pacaran dengan Moskowitz, dia bertemu dengan beberapa pria yang mengajaknya kencan. Salah satunya bernama Zelmo. Kencan ini berakhir dengan buruk, karena Zelmo yang memberikan banyak pressure terhadap Minnie di pertemuan mereka saat makan siang.

Ada salah satu bagian yang menarik perhatian saya di adegan makan siang mereka.

Zelmo meminta Minnie menceritakan siapa Minnie. Minnie, mungkin bingung harus memulai dari mana, menjawab, “I can’t.” Zelmo terus memaksa. Minnie, yang semakin bingung, cuma bisa menjawab, “I am single, I live here, and I work in museum.” Zelmo tertawa sinis, dan berkata, “That’s it? I can’t work with that.” Zelmo tidak tertarik untuk bertanya lebih lanjut di museum apa, di mana, sebagai apa, dan malah meneruskan asumsinya tentang siapa Minnie versi rekaan Zelmo.

Seperti bisa dilihat di tautan cuplikan video di sini, kencan makan siang mereka berakhir secara tidak baik-baik. Zelmo marah, mungkin kecewa dengan harapannya sendiri, sementara Minnie kaget melihat amarah Zelmo yang tidak disangkanya. Akhirnya mereka berpisah, dengan sedikit kekerasan fisik, sampai akhirnya Minnie bertemu dengan Moskowitz.

Yang menarik buat saya dari adegan ini adalah ketika Minnie diminta untuk menceritakan tentang dirinya, dia tidak bisa menjawab. Minnie mungkin gambaran sebagian dari kita yang bingung, dari mana harus mulai untuk mendefinisikan diri sendiri. Mungkin juga dia adalah perwakilan karakter orang-orang yang merasa perlu kehadiran orang lain untuk mendeskripsikan dirinya. Mungkin yang terbiasa menjawab pertanyaan atau permintaan “Tell me something about yourself” dengan “Why don’t you tell me how you see I am”.

Tidak ada yang salah dengan skenario di atas, selama dilakukan dalam dosis yang tidak berlebihan, melihat situasi dan tidak sampai menenggelamkan jati diri atau rasa percaya diri. Hanya saja, saya percaya bahwa kita semua punya cerita masing-masing yang mendefinisikan siapa kita sebenarnya.

 

source-egyptianstreets-dotcom
(source: egyptianstreets.com)

Kadang-kadang cerita itu tidak perlu jauh-jauh kita gali dari masa lalu, seperti kita sekolah di mana atau lulus tahun berapa. Dalam beberapa pengalaman kencan, ketika ditanya dengan pertanyaan sejenis permintaan untuk menggambarkan diri, biasanya saya akan lebih nyaman untuk bercerita film terakhir apa yang saya tonton, buku apa yang terakhir saya baca, dan musik apa yang biasanya saya dengarkan. Tentu saja saya berharap lawan bicara saya akan berkata hal yang sama. Dari situ saya akan berusaha menebak karakter orang di depan saya dengan, “Oh, ngikutin serial “Stranger Things” juga? Let me guess, suka film-film alien? Atau suka anything 80s? Which one?” Harapannya tentu pembicaraan akan terus bergulir. Namun yang lebih penting, bahwa cerita kita yang mendefinisikan siapa kita bisa dimulai dengan hal-hal yang kita lihat, kita baca dan kita dengar sehari-hari.

Cerita-cerita inilah yang membuat saya selalu tertarik dengan orang lain. What do they see? What do they hear? What do they read? And what do they feel when they see, or hear, or read?

Ketika orang-orang ini hanya hadir dalam tulisan atau media sosial atau bentuk apapun yang tidak langsung hadir di depan saya secara nyata, tetap ada rasa penasaran yang hadir, yang membuat nama orang-orang ini tidak sekedar tulisan nama semata, tapi ada sesosok manusia utuh yang hadir dengan nama tersebut.

Paling tidak prinsip ini ‘memaksa’ saya untuk sadar berempati di masa pandemi ini. Ketika setiap hari melihat ratusan bahkan ribuan nama yang telah berpulang meninggalkan kita, terlebih saat melihat halaman depan koran The New York Times beberapa hari lalu, kita percaya bahwa setiap nama punya cerita. Cerita yang mungkin hanya orang-orang terdekatnya yang tahu. Atau cerita yang mungkin belum sempat dibagi, dan akhirnya hanya bisa dibawa pergi. Cerita-cerita yang mendefinisikan mereka sebagai manusia, dan juga kita sebagai yang ditinggalkan.

Ketika ada pesohor berpulang, beberapa dari kita berbagi cerita soal pertemuan dengan mereka. Betapa pertemuan itu membawa kesan yang mendalam. Untuk sebagian besar dari kita yang tidak pernah bertemu, maka karya pesohor itulah yang membuat kita bersedih. Cerita yang mereka tuangkan dalam karya yang mereka buat itulah yang akan mendefinisikan mereka.

After all, life is building stories. And we will keep building our stories, until the end.

source-samwoolfe-dotcom
(source: samwoolfe.com)

 

Leave a Reply