Cucilah Piringmu Sehabis Makan

HAMPIR sebulan ini, dalam setiap harinya malah lebih sering mencuci piring ketimbang mandi. Bukan sekadar perkara lebih banyak atau lebih sering makan maupun menyeduh, melainkan relatif punya waktu yang lebih cukup untuk mengerjakannya segera, tidak perlu menumpuk dua atau tiga piring kotor terlebih dahulu, seperti sebelumnya.

Sempat terpikir–sambil mencuci piring–mengapa saya jadi cenderung lebih rajin mencuci piring ketimbang mandi?

Jawabannya ternyata adalah persiapan.

person washing fork
Foto: Catt Liu

Sebagai orang-orang yang mampu berpikir dan dibesarkan oleh peradaban, kita tidak mungkin makan beralas piring kotor, minum berwadah gelas kotor. Mencuci piring adalah sebuah ikhtiar untuk mempersiapkan apa pun itu bagi kebutuhan penggunaan di masa depan. Mencuci piring juga merupakan isyarat tanggung jawab dan kedewasaan dalam bentuknya yang paling sederhana. Tanggung jawab untuk membersihkan apa yang telah kita gunakan; dari awalnya bersih menjadi … berlepotan bekas kuah santan, bumbu kacang, menampung tulang ikan dan sisa makanan yang semestinya dibuang.

Begitu pula dengan mandi. Kita mandi untuk mempersiapkan diri, setidaknya bersiap untuk hal-hal yang kita anggap penting dan berarti, itu pun kalau ada waktunya. Sementara saat di rumah saja, hanya ada kita dan diri kita sendiri beserta segenap kerapuhannya, kita bisa mandi saat benar-benar diperlukan. Ketika sehabis bekerja membersihkan rumah, atau berolahraga sampai berkeringat, atau kegerahan, atau risi dengan aroma ketiak, atau sudah disuruh pasangan, atau sebelum tidur supaya rileks dan nyenyak, misalnya.


Hampir sebulan gaya hidup kita berubah. Kita, mau tidak mau menjadi lebih–terkondisi untuk–memerhatikan hal-hal sederhana dalam keseharian; ritme hidup yang selama ini berjalan nyaris autopilot, itu pun jika tidak terhalang mager atau capek.

Bagi mereka yang tinggal sendiri, dan kebetulan memiliki privilese (sekecil apa pun itu). Sekejap selepas bangun tidur, bisa langsung meditasi pagi, atau berolahraga ringan di bilik kamar sendiri; atau bersiap membuat sarapan seadanya (kalau ada); atau malah langsung memulai maupun melanjutkan pekerjaan. Tak perlu mandi, kecuali bila bekerja di sektor-sektor yang membutuhkan kehadiran secara fisik.

Tak ada konsumsi waktu untuk mandi dan mematut diri, menempuh perjalanan menuju kantor baik dengan kendaraan umum atau berkendara sendiri, termasuk mencari tempat parkir, berbicara dengan orang-orang yang ditemui, jalan ke tempat makan siang, dan seterusnya. Ada ekstra beberapa jam dalam sehari yang sungguh-sungguh signifikan, terutama, ya … itu tadi, dirasakan oleh orang-orang yang kesehariannya berjalan nyaris autopilot.

Barangkali lantaran keberlimpahan waktu seperti ini juga, makanya bisa hadir para filsuf dan bijaksanawan, seniman dan pujangga, sejarawan dan penjelajah dunia sejak ribuan tahun lalu. Mereka privileged untuk memanfaatkan sebagian besar waktu setiap hari untuk berpikir, merenung, melamun, mengamati, berdiskusi, merancang, menguji, hingga menghasilkan magmun opus-magnum opus mereka masing-masing.

Tersedianya waktu yang cukup, dan keinginan untuk mempersiapkan.

Apabila piring dicuci untuk dibersihkan dan dipersiapkan demi masa depan, kapankah waktunya bagi kita untuk “mencuci” pikiran dan batin kita, mempersiapkannya demi apa yang akan terjadi di masa depan?

[]

Leave a Reply