Satu Persen

Beberapa belas tahun yang lalu, saat mengambil mata kuliah manajemen seni pertunjukan, dosen saya berkata, “Kalian tentu tahu Andrew Lloyd Webber, komposer, penulis drama dan musikal dari Inggris yang terkenal itu. Kalau saya menyebut nama Andrew Lloyd Webber, kalian pasti langsung mengasosiasikan namanya dengan “Evita”, “Cats”, “The Phantom of the Opera”. Tapi kalau saya sebut “Jeeves”, atau “The Likes of Us”, kalian pasti tidak tahu kalau dua karya yang saya sebut barusan adalah karya Andrew Lloyd Webber. Seseorang sekaliber Andrew Lloyd Webber pun pernah membuat karya yang tidak sukses. Tidak ditonton orang, tidak menghasilkan keuntungan. Namun dia terus membuat karya-karya baru, sampai pada akhirnya orang hanya akan mengasosiasikan namanya pada karya-karyanya yang sukses dan laris. But these works, they are just the tip of the iceberg. Karya yang sukses lahir dari serangkaian karya sebelumnya yang gagal. Don’t give up.”

Kalimat-kalimat tersebut memang diucapkan beliau di sesi terakhir perkuliahan kami, sekitar seminggu sebelum minggu tenang menjelang final exam. Maka tidak heran kalau banyak petuah yang dia sampaikan, karena kebetulan juga saat itu adalah semester terakhir kami sebagai mahasiswa. Hanya saja, entah kenapa, dari sekian banyak hal yang beliau sampaikan ke kami, cuma bagian itu saja yang masih saya ingat sampai sekarang.

Mungkin karena di lingkungan saya bekerja, saya sering melihat banyak kasus seperti di atas. Mereka yang akhirnya melahirkan karya yang dinikmati banyak orang, setelah bertahun-tahun membuat karya yang tidak mendapat apresiasi yang layak. Mereka yang akhirnya dikenal banyak orang, setelah bertahun-tahun berkarya belum dianggap juga. Mereka yang terus berkarya tanpa henti, meski sudah merasakan sukses dan mendapat apresiasi.

Toh praktek “mengerjakan secara konsisten dan gagal terus sampai berhasil” ini tidak terbatas pada pembuatan karya besar. Ibu saya pernah cerita, meskipun punya buku resep kue turun-temurun dari keluarga, dia perlu praktek berulang kali sampai dia bisa membuat kue dan mengajak kami untuk membuat bersama-sama. Itu pun kadang-kadang tak luput juga dari human error, sehingga beberapa kali kue yang kami buat jadinya gosong.

Seorang fotografer yang saya kenal pernah cerita, dia menghabiskan jutaan rupiah untuk mencetak foto-foto di awal karyanya, hanya untuk ditolak berbagai penerbitan,sampai akhirnya dia menggunakan foto-foto yang gagal tersebut sebagai bahan belajar ulang.

Dan tentu saja kita tahu cerita bahwa Vincent Van Gogh tidak pernah berhasil menjual satu lukisannya sampai dia meninggal, ‘kan?

1_ruhxDa-2gBGN-ysfsBYSYw
(source: medium.com)

 

Tapi ada satu kejadian serupa yang ternyata cukup “menohok” buat saya. Seorang teman sering mengingatkan saya untuk berolahraga, terutama mengangkat beban. Jenis physical exercise yang harus saya akui, paling malas mengerjakannya. Teman saya ini pernah berkata, “Jangan males! Elo tahu gak, tiap kali elo latihan abdomen 10 set, tiap set 10 kali, paling yang jadi otot di elo cuma 1.”

“Ha? Dari 100 yang jadi cuma 1? Satu persen doang? Sisanya?”

“Ya sisanya buat membiasakan badan elo bergerak. Nanti pas lama-lama elo udah biasa, yang jadi otot juga makin nambah. Dengan catatan, elo harus rutin ya. Makanya jangan males!”

Saya nyengir. Ternyata semua hal yang kita lakukan memang sama prinsipnya seperti kita berolahraga: 99% effort and perspiration makes 1% result. If we are lucky.

Semoga kita selalu beruntung.

Advertisements

One thought on “Satu Persen

  1. Amin! Saya jadi bersemangat melakukan apa yang saya sukai dan bernilai baik, lebih sering, supaya saya bisa merasakan yang paling baiknya bagaimana. Karena siapa tau dengan banyaknya saya melakukannya, ada 1 persen yang berbuah keberuntungan

Leave a Reply