Bahagia itu (Masih) Sederhana, Katanya…

SUDAH enam tahun sejak tulisan pertama tentang ini ada di Linimasa, waktu saya masih di Samarinda; si anak daerah. Kemudian, hadir kembali dua tahun selepasnya, sebagai warga pendatang di Jakarta. Kota dengan kehidupan yang sempat bikin kaget, bahkan sampai sekarang. Ya … lantaran orang-orangnya, keseharian yang dihadapi, serta mengamati cara diri ini menanggapinya.

Kini, rasanya kepingin melanjutkannya lagi.

Setidaknya ada satu hal yang saya sadari. Buah-buah kebahagiaan setiap orang terus berubah; seiring berjalannya waktu; seiring bergulirnya kehidupan; seiring tubuh yang mengusang; seiring berkembangnya kebijaksanaan dan kedewasaan.

Namun, apa pun perubahannya, bagi banyak orang kebahagiaan tetap identik dengan terpenuhinya keinginan-keinginan. Rasa bahagianya terkesan tetap sama, bentuk-bentuk keinginannya yang berbeda.

Premisnya masih serupa, bahwa setiap orang punya daftar kebahagiaannya masing-masing. Objek kebahagiaan seseorang, belum tentu memberikan kebahagiaan yang sama bagi orang lain. Perlukah kita berpayah-payah memperjuangkan agar orang lain sadar bahwa mereka sesungguhnya mengalami kondisi-kondisi ketidakbahagiaan selama ini (menurut sudut pandang kita)? Debatnya akan menjadi luar biasa panjang. Bisa bikin orang lupa masak, makan, istirahat, bekerja, kencing dan buang air-air lainnya … menjalani kehidupan yang ada di depan mata.

Dan tetap saja, serendah-rendahnya rasa “bahagia” ialah yang didapatkan dari ketidakbahagiaan atau penderitaan pihak lain. Buruk memang, tetapi alamiah, dan oleh sebabnya, tetap akan terjadi. Terkadang, malah pada/oleh diri kita sendiri.

Kebahagiaan tercapai karena mendapatkan/memperoleh/meraih. Masalahnya, makin sederhana sebuah kebahagiaan, terasa makin sukar dicapainya. Apa yang dahulu terkesan sepele–dan karenanya kerap diabaikan–kini terasa begitu jauh, begitu dirindukan.

Banyak yang beranggapan bahwa ini hanyalah persoalan beda masa hidup dan angka usia. Apa yang telah dialami dan dirasakan oleh yang “tua” maupun tua, jauh lebih hakiki dibandingkan yang dialami dan dirasakan oleh yang masih muda. Berangkat dari sini, banyak yang keliru dengan terlampau menyederhanakannya menjadi “yang muda harus belajar menjadi bijaksana lewat pengalaman dan perjalanan hidup yang tua-tua.” Padahal, belum tentu, dan itu pun terkesan dipaksakan.

Mau bagaimanapun juga, semua orang memiliki kehidupan yang berbeda. Apa yang mereka hadapi, cara mereka menghadapi, pengalaman dan pelajaran yang mereka dapatkan. Perbedaan-perbedaan tersebut merupakan keniscayaan. Tak bisa dipaksakan sekalipun.

Kebahagiaan tak bisa dipaksakan.

Kalaupun seseorang mengabaikan sesuatu yang semestinya bakal jadi kebahagiaan signifikan bagi dirinya sendiri, serta memilih sesuatu yang lain dan lebih dangkal, ya … biarkan saja. Itulah proses belajar yang ia jalani sendiri. Sebab penyadaran dan dorongan motivasi paling kuat yang bisa menggerakkan seseorang ialah yang muncul dari dalam dirinya.

Manakala seseorang sama sekali tak ingin melakukan sesuatu, walaupun dipaksa sedemikian rupa tetap tidak akan ia kerjakan sepenuh hati. Sebaliknya, begitu sebuah keinginan tumbuh dan mengakar kuat di dalam hati, ia akan mengusahakannya sekuat tenaga, bisa berubah menjadi tekad, bahkan ambisi maupun obsesi. Tak peduli halangan dan rintangan yang bisa muncul, ia akan terus menerjang. Baru berhenti setelah kepayahan.

Sudah terbayang ujungnya. Tatkala berhasil mendapatkan yang diinginkan (dan diupayakan lewat berbagai cara), ia pun merasa bahagia, beserta perasaan-perasaan ikutan lainnya (kepuasan, kelegaan, ketenangan).

Iya. Demikianlah. Bahagia itu memang sederhana. Sesederhana mendapatkan yang diinginkan. Kendati untuk bisa mendapatkan yang diinginkan, pastinya tak sesederhana yang sekadar dibayangkan.

Semoga kita semua selalu mampu merasa tenteram.

[]

Advertisements

Satu Persen

Beberapa belas tahun yang lalu, saat mengambil mata kuliah manajemen seni pertunjukan, dosen saya berkata, “Kalian tentu tahu Andrew Lloyd Webber, komposer, penulis drama dan musikal dari Inggris yang terkenal itu. Kalau saya menyebut nama Andrew Lloyd Webber, kalian pasti langsung mengasosiasikan namanya dengan “Evita”, “Cats”, “The Phantom of the Opera”. Tapi kalau saya sebut “Jeeves”, atau “The Likes of Us”, kalian pasti tidak tahu kalau dua karya yang saya sebut barusan adalah karya Andrew Lloyd Webber. Seseorang sekaliber Andrew Lloyd Webber pun pernah membuat karya yang tidak sukses. Tidak ditonton orang, tidak menghasilkan keuntungan. Namun dia terus membuat karya-karya baru, sampai pada akhirnya orang hanya akan mengasosiasikan namanya pada karya-karyanya yang sukses dan laris. But these works, they are just the tip of the iceberg. Karya yang sukses lahir dari serangkaian karya sebelumnya yang gagal. Don’t give up.”

Kalimat-kalimat tersebut memang diucapkan beliau di sesi terakhir perkuliahan kami, sekitar seminggu sebelum minggu tenang menjelang final exam. Maka tidak heran kalau banyak petuah yang dia sampaikan, karena kebetulan juga saat itu adalah semester terakhir kami sebagai mahasiswa. Hanya saja, entah kenapa, dari sekian banyak hal yang beliau sampaikan ke kami, cuma bagian itu saja yang masih saya ingat sampai sekarang.

Mungkin karena di lingkungan saya bekerja, saya sering melihat banyak kasus seperti di atas. Mereka yang akhirnya melahirkan karya yang dinikmati banyak orang, setelah bertahun-tahun membuat karya yang tidak mendapat apresiasi yang layak. Mereka yang akhirnya dikenal banyak orang, setelah bertahun-tahun berkarya belum dianggap juga. Mereka yang terus berkarya tanpa henti, meski sudah merasakan sukses dan mendapat apresiasi.

Toh praktek “mengerjakan secara konsisten dan gagal terus sampai berhasil” ini tidak terbatas pada pembuatan karya besar. Ibu saya pernah cerita, meskipun punya buku resep kue turun-temurun dari keluarga, dia perlu praktek berulang kali sampai dia bisa membuat kue dan mengajak kami untuk membuat bersama-sama. Itu pun kadang-kadang tak luput juga dari human error, sehingga beberapa kali kue yang kami buat jadinya gosong.

Seorang fotografer yang saya kenal pernah cerita, dia menghabiskan jutaan rupiah untuk mencetak foto-foto di awal karyanya, hanya untuk ditolak berbagai penerbitan,sampai akhirnya dia menggunakan foto-foto yang gagal tersebut sebagai bahan belajar ulang.

Dan tentu saja kita tahu cerita bahwa Vincent Van Gogh tidak pernah berhasil menjual satu lukisannya sampai dia meninggal, ‘kan?

1_ruhxDa-2gBGN-ysfsBYSYw
(source: medium.com)

 

Tapi ada satu kejadian serupa yang ternyata cukup “menohok” buat saya. Seorang teman sering mengingatkan saya untuk berolahraga, terutama mengangkat beban. Jenis physical exercise yang harus saya akui, paling malas mengerjakannya. Teman saya ini pernah berkata, “Jangan males! Elo tahu gak, tiap kali elo latihan abdomen 10 set, tiap set 10 kali, paling yang jadi otot di elo cuma 1.”

“Ha? Dari 100 yang jadi cuma 1? Satu persen doang? Sisanya?”

“Ya sisanya buat membiasakan badan elo bergerak. Nanti pas lama-lama elo udah biasa, yang jadi otot juga makin nambah. Dengan catatan, elo harus rutin ya. Makanya jangan males!”

Saya nyengir. Ternyata semua hal yang kita lakukan memang sama prinsipnya seperti kita berolahraga: 99% effort and perspiration makes 1% result. If we are lucky.

Semoga kita selalu beruntung.

Bergaul dengan yang Patut

DI SUNDAY service (kebaktian mingguan) Hillsong Melbourne Minggu kemarin, isi khotbahnya boleh dibilang membahas tentang … uang. Bukan seperti yang dibahas para kapitalis kikir, atau pun para oportunis tamak, David “Dave” Ramsey–pengkhotbah–menyampaikan tentang uang sebagai sumber daya. Makanya, perlu dikelola. Baik pengelolaan terhadap uang itu sendiri, serta pengelolaan terhadap sikap dan mindset si pemilik/penggunanya.

Lantaran berupa khotbah di gereja, Dave mengawalinya dengan disclaimer bahwa uang tidak akan/belum tentu memberikan kebahagiaan; uang pun tidak akan/belum tentu menyembuhkan permasalahan-permasalahan hidup. Melainkan tuhan. Tentu saja. Selebihnya, isi khotbah bisa disusun dalam lima poin berikut (narasi penjelasan setiap poin merupakan interpretasi pribadi, bukan bagian dari khotbah tersebut. Untuk rekaman utuhnya, nyoooh…).

  1. Anggarkan keuangan

Berdasarkan apa yang diperoleh, rencanakan pengeluaran secermat mungkin. Akan lebih tenang rasanya, saat kita tahu benar ke mana uang kita dibelanjakan. Sehingga tidak mendadak panik, ketika uang kita mendadak (seolah-olah) menghilang entah ke mana.

  1. Hindari berutang

Dalam konteks ini, lebih kepada utang yang konsumtif, pengeluaran yang tidak akan kembali, dan habis begitu saja setelah dikonsumsi. Sebab, mau dinamakan dengan apa pun juga, berutang pada hakikatnya berarti kita tidak punya uang. Padahal sejak kecil kita sudah diajari bahwa “kalau mau beli, harus punya uang dulu.

Namun, bagaimana apabila ada pengeluaran besar yang mendesak? Kembali ke poin nomor 1, sebisa mungkin merencanakan yang bisa direncanakan, seleluasa yang mampu dilakukan. Toh, namanya juga kebutuhan yang mendesak, semestinya punya kadar penting yang lebih tinggi dibanding belanja biasa.

  1. Cermat bergaul

Lingkungan pergaulan memengaruhi gaya hidup. Setiap orang pun memiliki standar batas belanja yang berbeda-beda; tergantung tingkat penghasilan, latar belakang, serta beberapa aspek lainnya. Poin ini bukan dalam konteks memilih untuk lebih dekat dan/atau menjauhi sekelompok orang, melainkan bersikap lebih cermat. Kembali lagi ke poin pertama, penganggaran yang tepat memampukan kita untuk punya ruang finansial lebih luang sampai ambang tertentu.

Meminjam istilah lain, pansos sesuai kemampuan.

  1. Simpan dan kembangkan

Badai bisa saja datang sewaktu-waktu. Bikin kacau dan menambah beban. Dengan berusaha menyimpan sedikit demi sedikit secara berkala, akan ada sumber daya tambahan yang bisa dipergunakan. Syukur-syukur jika uang yang disimpan juga dapat dikembangkan, baik dalam bentuk investasi maupun usaha yang menghasilkan. Sumber daya yang terlipatgandakan.

Lagi-lagi, penganggaran adalah kunci dasarnya.

  1. Murah hati

Hmm… sebagai seseorang yang tidak religius-religius amat, agak susah untuk tidak mengaitkan poin ini dengan konsep memberi sebagai sebuah perbuatan baik. Sebut saja sedekah, derma, donasi, pokoknya sesuatu yang diberikan kepada orang lain untuk membantunya, meringankan bebannya, menjadi orang baik, atau sekadar menjalankan perintah agama. Berhubung disampaikan di gereja, konteksnya bisa juga mengacu pada perpuluhan dan persembahan kasih; dapat dianggarkan sedari awal.

Di sisi lain, praktik memberi bisa juga menjadi semacam tindakan atau sikap yang menunjukkan bahwa kita memiliki keleluasaan, atau lebih beruntung dibanding orang lain (yang dalam buku “The God Delusion”, Richard Dawkins sebut juga sebagai tanda superioritas), maupun ekspresi rasa syukur atas apa yang dimiliki. Dalam istilah lain … merasa lebih kaya.

Kendati terdengar dan terkesan sangat sederhana, kelima poin di atas (disebut) termaktub dalam Alkitab. Menjadi semacam kiat-kiat dasar pengelolaan keuangan, yang mungkin saja telah bertahan dan terus diturunkan jauh sebelum Alkitab disusun (langsung teringat sebuah buku berjudul: “The Richest Man in Babylon”).

Seperti yang telah disinggung beberapa kali di atas, kelima poin pengelolaan keuangan tadi terpusat pada penganggaran. Namun, nilai pengeluaran cenderung bersifat tetap, sedangkan penghasilan bisa fluktuatif. Dalam celetukan pasarnya: “Apa yang mau dianggarkan, kalau duitnya enggak ada?” Oleh karena itu, makin banyak penghasilan yang diperoleh, makin leluasa seseorang mengatur keuangannya. Serendah-rendahnya pengeluaran bagi seseorang, adalah pengeluaran untuk kebutuhan pangan, sandang, dan papan.

Namun, bukan bagian itu yang ingin saya obrolkan kali ini. Setelah menyimak khotbah Dave yang lebih berupa gospel kemakmuran, saya langsung teringat Dighajanu Sutta, yang pada intinya adalah wejangan Buddha tentang upaya memperoleh dan mempertahankan kesejahteraan–kekayaan, kemakmuran–bagi perumah tangga.

Anyway, mengapa hanya berupa wejangan, ya, karena Buddha sendiri adalah seorang petapa; bisa mencapai kebuddhaan dengan menjalani hidup terlepas dari keduniawian. Termasuk melepaskan diri dari harta benda serta kepemilikan. (Makanya, agak aneh, menurut saya, kalau ada pasangan suami istri baru atau lama, datang kepada bhikkhu atau biksu meminta nasihat kelanggengan pernikahan. Lah wong dia selibat, kok.)

Oke, balik lagi ke Dighajanu Sutta (khotbah kepada Dighajanu). Ringkasnya begini, Buddha menyampaikan ada empat hal yang dapat membawa kekayaan dan kebahagiaan bagi para perumah tangga, yakni:

  1. Memiliki ketekunan (versi terjemahan lain: Kesempurnaan Inisiatif),
  2. Memiliki keseksamaan (versi terjemahan lain: Kesempurnaan Perlindungan/Penjagaan),
  3. Pertemanan yang baik, dan
  4. Kehidupan yang seimbang.

Berikut kutipan langsung penjelasan Buddha atas masing-masing poin dalam sutta tersebut.

(1) Apakah yang dimaksud dengan memiliki ketekunan (utthana-sampada)?

“Dalam hal ini, Vyagghapajja (alias Dighajanu), apa pun yang dilakukan oleh gharavasa (perumah tangga) untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik sebagai petani, pedagang, peternak, pemanah, pejabat pemerintahan atau dengan keahlian lainnya, dia harus ahli dan tidak malas. Dia memiliki keterampilan tentang cara yang benar; dia mampu melakukan dan memberikan tugas. Inilah yang dimaksud dengan memiliki ketekunan.”

(2) Apakah yang dimaksudkan dengan memiliki keseksamaan (arakkha-sampada)?

“Dalam hal ini, Vyagghapajja, kekayaan apa pun yang dimiliki gharavasa, yang dimiliki berkat kerja keras, dengan jerih payah sendiri, dengan cucuran keringat, yang diperoleh dengan cara yang sesuai Dhamma, ia berhemat dengan melindungi dan menjaga kekayaannya sehingga raja tidak menyitanya, pencuri tidak mencurinya , tidak terbakar dan tidak hanyut oleh air atau tidak juga diambil oleh pewaris-pewaris yang bersikap tidak baik. Inilah yang dimaksudkan dengan memiliki keseksamaan.”

(3) Apakah yang dimaksud dengan pertemanan yang baik (kalyana-mittata)?

“Dalam hal ini, Vyagghapajja, di desa atau di kota mana pun gharavasa tinggal dia bergaul, berbicara, berbincang-bincang dengan gharavasa atau anak dari gharavasa, baik yang muda dan sangat terpelajar maupun yang tua dan sangat terpelajar; memiliki keyakinan (saddha), kesusilaan (sila), kedermawanan (caga) dan kebijaksanaan (pañña).

Dia berbuat sesuai dengan keyakinan orang yang memiliki keyakinan, sesuai dengan kesusilaan orang yang memiliki kesusilaan, sesuai dengan kedermawanan orang yang memiliki kedermawanan, sesuai dengan kebijaksanaan orang yang memiliki kebijaksanaan. Inilah yang dimaksudkan dengan memiliki pertemanan yang baik.”

(4) Apakah yang dimaksud dengan kehidupan yang seimbang (samma-jivikata)?

“Dalam hal ini, Vyagghapajja, seorang gharavasa yang mengetahui penghasilan dan pengeluarannya akan mengatur hidupnya seimbang, tidak boros maupun tidak pelit. Dengan pengetahuan itu, ia akan membuat pemasukannya menjadi lebih besar dari pengeluarannya, bukannya pengeluarannya lebih besar dari pemasukkannya.

Seumpama pedagang emas atau muridnya mengetahui cara mempergunakan timbangan emas, dengan naiknya lengan timbangan sekian akan turun lengan lainnya sekian. Demikianlah gharavasa yang mengetahui pemasukan dan pengeluarannya akan hidup seimbang, tidak boros dan juga tidak pelit. Dengan pengetahuannya itu, ia akan membuat penghasilannya menjadi lebih banyak dari pengeluarannya, bukan pengeluarannya lebih banyak dari penghasilannya.”

Setelah bagian ini, Buddha melanjutkan dengan gambaran kondisi seseorang yang berpenghasilan kecil tetapi boros, dan sebaliknya, seseorang yang berpenghasilan besar tetapi menjalani hidup susah sekali (karena pelit). Kemudian menyampaikan empat hal yang bisa melenyapkan penghasilan yang telah dikumpulkan.

  1. Pesta pora yang berlebihan,
  2. Mabuk-mabukan,
  3. Perjudian, dan
  4. Persahabatan atau pergaulan dengan orang yang jahat.

(Isi Dighajanu Sutta masih berlanjut dari sini. Berikut teks lengkapnya dalam bahasa Inggris dari versi terjemahan Bhikkhu Thanissaro)

Silakan dicermati. Menariknya, dari ketiga bagian besar di atas, ada satu benang merah yang ditegaskan secara universal, bukan bertemanlah dengan orang kaya, melainkan:

JANGAN SAMPAI MISKIN GARA-GARA PERGAULAN.

[]

N.b.: Saking universalnya, bahkan mungkin tidak perlu menjadi seorang Kristen atau Buddhis, untuk sepakat bahwa menjaga pergaulan menjaga kekayaan. Ya, enggak?

Oscar Yang Sangat Cepat

Judul di atas diambil dari kenyataan, bahwa penyelenggaraan Academy Awards tahun ini memang lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya ajang penghargaan ini diselenggarakan di awal Maret, atau di akhir Februari. Lalu tiba-tiba di pertengahan tahun 2019, pihak penyelenggara, yaitu AMPAS (Academy of Motion Picture Arts and Sciences) mengumumkan bahwa penyelenggaraan Academy Awards ke-92 maju beberapa minggu sampai minggu pertama Februari 2020.

Alhasil, acara-acara penghargaan lain yang diberikan sebelum Academy Awards dimulai lebih cepat. Kampanye semua film yang digadang-gadang untuk awards season juga dimulai jauh lebih awal. Bulan September sudah ramai masa kampanye film untuk musim penghargaan ini. Biasanya bulan Oktober baru mulai ramai.

honeyland_source_balkaninsight
Honeyland (source: balkaninsight.com)

 

Sebagai pemerhati jarak jauh, terus terang saya kaget sekaligus excited sebenarnya melihat perubahan ini. Mau tidak mau, intensitas kampanye menjadi berlipat-lipat kali lebih menguras tenaga. Ajang penghargaan lain, baik yang diberikan kelompok jurnalis, kritikus, maupun asosiasi pekerja film, berlangsung setiap minggu nyaris tanpa henti. Ini membuat orang-orang, baik sutradara, aktor, pekerja film yang namanya masuk beberapa nominasi dan meraih penghargaan, harus pintar-pintar membagi waktu dan energi selama beberapa bulan terakhir.

Lihat saja Renee Zellweger yang nyaris sapu bersih semua penghargaan kategori aktris pemeran utama terbaik di berbagai penghargaan. Dandanan rambutnya hampir terlihat selalu simpel di semua acara penghargaan beberapa minggu terakhir, mungkin karena dia harus rushed dari satu acara ke acara lain.

 

hair-love-source-slashfilm
Hair Love (source: slashfilm.com)

 

Yang mendapat applause personal dari saya tentu saja Bong Joon-ho, sutradara dari Korea Selatan yang menjadi pusat perhatian dunia berkat Parasite. Saya tidak habis pikir, sudah berapa bulan dia berada di Amerika Serikat, untuk berkampanye tentang filmnya, menghadiri berbagai acara penghargaan, diskusi, seminar, wawancara, dan selalu terlihat sumringah. Membayangkannya saja sudah melelahkan. Apalagi menjalaninya. Maka kalau boleh saya sematkan gelar “Most Valuable Player” (MVP) di awards season kali ini, gelar itu paling layak diberikan ke Bong Joon-ho. Energi yang dia berikan di setiap acara selalu terlihat sama, konstan, dan menginspirasi. Salut untuk tim Bong Joon-ho.

Dan tentu saja, salut untuk film Parasite. Dari sekian ajang Academy Awards yang saya ikuti dari remaja, rasanya baru kali ini saya sangat bersemangat mengikuti setiap perjalanannya. Tentu saja dengan harapan bahwa film Parasite bisa mendapat banyak penghargaan. Film yang mungkin tidak akan hadir setiap satu, lima atau mungkin sepuluh tahun sekali, karena diperlukan kemampuan luar biasa dalam mengolah cerita dan mengeksekusinya dengan mulus, nyaris tanpa cela. Dan membawa interpretasi baru setiap kali kita menonton ulang.

 

Learning-to-Skateboard-in-a-Warzone-if-youre-a-girl_source_heyuguys
Learning to Skateboard in a War Zone (If You’re a Girl) (source: heyuguys.com)

 

Saya memang #TimParasite untuk Oscar tahun ini. Dan inilah semua pilihan saya, harapan saya, akan apa dan siapa saja yang layak membawa pulang Oscar tahun ini:

Best Picture of the Year: Parasite

Best Director: Sam Mendes (1917)

Best Actor: Joaquin Phoenix (Joker)

Best Actress: Renee Zellweger (Judy)

Best Supporting Actor: Brad Pitt (Once Upon a Time in Hollywood)

Best Supporting Actress: Laura Dern (Marriage Story)

Parasite-PasteMagazine
Parasite (source: Paste Magazine)

 

Best Adapted Screenplay: Jojo Rabbit

Best Original Screenplay: Parasite

Best Animated Feature: Klaus

Best Animated Short: Hair Love

Best Documentary Feature: Honeyland

Best Documentary Short: Learning to Skateboard in a Warzone (If You’re a Girl)

Marriage-Story-3-SparkChronicles
Marriage Story (source: Spark Chronicles)

 

Best International Film: Parasite

Best Live Action Short: Nefta Football Club

Best Cinematography: 1917

Best Costume Design: Little Women

Best Film Editing: Ford v Ferrari

Best Makeup and Hair Styling: Bombshell

Joker-LineToday
Joker (source: Line Today)

 

Best Production Design: 1917

Best Visual Effects: Avengers: Endgame

Best Original Score: Joker

Best Original Song: “(I’m Gonna) Love Me Again,” Rocketman

Best Sound Mixing: Ad Astra

Best Sound Editing: Ford v Ferrari

 

Kalau teman-teman sendiri, pilih apa?

Menghayati Makanan

PAṬI’SANGKHA yoniso bhojanang paṭi’sewami,

Newa dawaya na madaya na maṇḍanaya na wibhusanaya,

Yawadewa imassa kayassa ṭhitiya yapanaya wihingsuparatiya brahma-cariyanuggahaya,

Iti puraṇanca wedanang paṭihangkhami nawanca wedanang na uppadessami,

Yatra ca me bhawissati a’nawajjata ca phasu-wiharo cati.

Yang baru saja kamu baca tadi, populer dianggap sebagai “doa sebelum makan” dalam tradisi Buddhisme–khususnya mazhab Theravada–dengan sedikit penyesuaian penulisan agar lebih gampang dibaca.

Tenang aja… kamu enggak otomatis convert menjadi seorang Buddhis setelah membacanya, kok. Sebab, meskipun tercantum dalam salah satu bagian kitab suci Tipitaka (MN 39), makna syair demi syairnya tidak eksklusif menggambarkan atau mengacu pada ajaran Buddha saja.

Itu juga alasannya mengapa saya sebut “doa sebelum makan”; pakai tanda petik. Karena alih-alih berisi pujian atau ucapan terima kasih, “doa sebelum makan” ala Buddhisme ini lebih berupa perenungan, dan tidak ada peraturan yang mengharuskannya dibaca setiap kali sebelum menyantap makanan.

Supaya makin jelas, kurang lebih berikut artinya.

Secara cermat dan berhati-hati, saya menggunakan makanan ini,

Bukan untuk kesenangan; bukan untuk merasakan mabuk; bukan untuk menggemukkan badan; bukan pula untuk keindahan,

Tetapi hanya untuk mempertahankan kelangsungan (kerja) tubuh ini, menghentikan rasa tidak nyaman (akibat lapar), dan mendukung kehidupan luhur (yang tengah dijalani),

Demikianlah saya akan menghilangkan perasaan yang lama (lapar), dan tidak menimbulkan perasaan yang baru (dari makan yang berlebihan),

Dengan ini saya akan mempertahankan diri ini, menjauhi kesalahan-kesalahan, dan berdiam (hidup) dalam ketenteraman.

Poin-poin inilah yang–seyogianya–dihayati setiap kali ada hidangan tersaji di hadapan kami–umat Buddhis. Melihat makanan secara hakiki dan apa adanya; berupaya melepaskan diri dari kemelekatan terhadap rupa, aroma, dan rasa; serta tetap mampu berterima kasih atas bahan penunjang kehidupan yang diberikan/dibuatkan/dibeli, sehingga bisa dikonsumsi sebaik-baiknya dan tidak menyebabkan kemubaziran.

Pada dasarnya, perenungan ini dilakoni oleh para bhikkhu maupun samanera (calon bhikkhu) dalam keseharian. Alasannya, sebagai petapa selibat mereka telah melepaskan diri dari kehidupan duniawi, termasuk keleluasaan memilih/memasak/membeli makanan sendiri. Mereka hanya makan sekali atau dua kali setiap hari (konsepnya mirip intermittent fasting) dan merupakan donasi dari umat penyokong. Diberi, bukan meminta. Seperti yang kerap terlihat di negara-negara Indocina, ketika setiap pagi sebarisan bhikkhu membawa mangkuk masing-masing, menerima persembahan makanan dari umat.

Begitu pun bagi umat biasa, perenungan ini juga bertujuan untuk menyadarkan diri akan hakikat makanan. Selama makanan tersebut layak, dibuat secara baik, serta tetap mengandung nutrisi, makanan itu tetap bisa berfungsi sebagai pemberi asupan bagi tubuh dan menunjang proses berpikir. Tak ada sedikit pun ruang batin yang pantas diberikan untuk sifat kemaruk, rakus, tamak, banyak mau, susah dilayani, tidak perhitungan, dikendalikan oleh emosi yang mudah berantakan hanya gara-gara hal sepele, angkuh, dan sebagainya.

Saat kepingin makan sesuatu, mood tidak uring-uringan begitu mendapati restorannya tahu-tahu tutup. Tidak melekat; hanya mau makan makanan mahal dan mewah. Tidak gegabah; mengambil atau menumpuk makanan kesukaan sebanyak-banyaknya untuk kemudian tidak dihabiskan, atau malah menjadi begah.

Di sisi lain, sebagai umat biasa kita memang relatif sukar menghindari niatan makan untuk mendapatkan keindahan fisik. Bagi yang ingin bulking dan membangun massa otot, makan dalam jumlah banyak dan lebih sering dari biasanya. Sementara yang ingin langsing mengurangi porsi dan intensitas makan, menolak bahan-bahan makanan tertentu, atau justru disulitkan/menyulitkan oleh orang lain perihal makanan.

Image result for food for bulking"
Foto: YouTube

Keadaan-keadaan itu mustahil dihilangkan sepenuhnya, tetapi tetap bisa dibarengi dengan perenungan tentang makanan. Sekali lagi, setidaknya kita bisa berusaha agar tidak melekat. Melatih diri menghindari sikap yang bisa membuat kita marah-marah kepada orang lain hanya karena makanan, atau membuat hidup kita sepanjang hari terasa kacau berantakan hanya karena makanan.

Demikianlah. Dibawa santai saja.

Menghayati makanan sebagaimana adanya.

[]

Perenungan terhadap makanan di atas tertulis sesuai pelafalan penutur bahasa Indonesia. Dalam bentuk transliterasi latin aslinya, tertulis seperti berikut:
Paṭisaṅkhā yoniso bhojanaṃ paṭisevāmi,
Neva davāya na madāya na maṇḍanāya na vibhūsanāya,
Yāvadeva imassa kāyassa ṭhitiyā yāpanāya vihiṃsuparatiyā brahma-cariyānuggahāya,
Iti purāṇañca vedanaṃ paṭihaṅkhāmi navañca vedanaṃ na uppādessāmi,
Yātrā ca me bhavissati anavajjatā ca phāsu-vihāro cāti.