Keberuntungan Itu Bernama “Rasa Cukup”

KEBERUNTUNGAN. Keberhasilan. Umur panjang. Orang Tionghoa pada umumnya mengenal tiga serangkai ini sebagai “fu, lu, shou” (福祿壽); keadaan yang selalu didambakan–dan dikejar–dalam hidup.

Simbol “fu”, “lu”, “shou”.
Gambar: ucxinwen.com
Image result for fu lu shou
Foto: Wikimedia

Simbol dan ornamennya tersebar di mana-mana. Mulai tulisan/aksara Tionghoa dengan berbagai gaya, hingga lukisan maupun patung tiga sosok dewa yang dianggap identik dengan ketiganya. Termasuk yang jadi logo Amer Cap Orang Tua, dan yang juga ada di kotak bungkus misoa, makanan khas di setiap perayaan ulang tahun ala Tionghoa.

Related image
Gambar: stickpng.blogspot.com

“Fu” selalu disebut di urutan pertama, lantaran dianggap paling penting dibanding dua yang lainnya. Itu ibarat kata, jika seseorang harus memilih hanya satu dari ketiganya.

Mengapa? Sebab keberuntungan akan selalu memberikan kebahagiaan yang paling signifikan. Terjadi di saat yang tepat, dengan dampak yang tepat, serta tidak menyisakan potensi masalah baru kemudian. Karena itu pula, keberuntungan menjadi hal yang paling sulit ditemukan, diraih, dan dipertahankan. Keberuntungan itu misterius, muncul dan hilang tanpa bisa ditahan atau dikendalikan.

Berikut perbandingannya lebih lanjut.

“Lu” diartikan sebagai keberhasilan dalam konteks pencapaian sosial dan ekonomi. Berhasil mencapai sesuatu, seperti status; kedudukan bisnis; jenjang karier yang terus meningkat; termasuk kenaikan gaji serta keuntungan finansial yang mengiringinya. Demi mencapai “lu”, seseorang mesti berusaha keras, dan cerdas. Akan lebih baik lagi apabila didukung dengan adanya bakat serta keahlian. Namun, semua itu baru akan menjadi kombinasi yang pas dan meluncur tanpa halangan dalam situasi atau momen yang tepat. Di situlah muncul “fu”, keberuntungan.

Sesuai artinya, “shou” menunjukkan kehidupan yang lestari. Seseorang bisa hidup lebih lama, dan dijauhkan dari kematian yang menakutkan. Namun, usia yang panjang justru bisa menjadi siksaan apabila dipenuhi kekurangan dan kemalangan.

Berusia panjang, tetapi selalu sakit-sakitan, misalnya. Kehidupan pun menjadi terganggu, dan merasa merepotkan atau membebani orang lain. Membuat berpikir bahwa kematian mungkin bisa menjadi solusi terbaik atas keadaan ini.

Berusia panjang, tetapi selalu kekurangan. Selalu merasakan hidup yang sengsara, jarang bahagia.

Termasuk yang satu ini, berusia panjang, tetapi ditinggalkan dan kesepian. Hidup dengan penuh siksaan batin.

Lagi-lagi dengan keberuntungan, usia panjang menjadi berkah yang membahagiakan. Bisa menjalani sisa usia dengan kesehatan dan kebugaran; berada dalam kondisi berkecukupan; maupun merasa terkasihi atau dicintai banyak orang. Sampai pada akhirnya bisa berpisah dengan kehidupan secara baik-baik; mengalami kematian yang tidak menyakitkan atau pun merepotkan.

Demikianlah keberuntungan.

Lalu, bagaimanakah caranya mengejar keberuntungan?

Ada yang berpandangan bahwa keberuntungan bisa dikondisikan lewat kemakmuran. Selama masih memiliki harta, maka masih berkesempatan untuk mengupayakan hal-hal baik yang mendukung keberhasilan maupun umur panjang.

Terhadap “lu”, harta dapat digunakan untuk melanggengkan keberhasilan; mempertahankan dan makin meningkatkan pencapaian. Harta juga bisa digunakan untuk menjaga kedudukan dan status sosial ekonomi di mata masyarakat. Jaminan supaya tetap menjadi orang terpandang.

Mengenai “shou”, harta dapat dimanfaatkan untuk menjaga dan menyembuhkan dari gangguan kesehatan. Kendati masih berupa upaya; entah berhasil atau tidak.

Harta juga dapat menghidupkan suasana, membuat situasi yang sepi menjadi ramai, menghimpun banyak orang. Entah apakah mereka benar-benar peduli dengan si pemilik harta, atau sekadar aji mumpung menjadi benalu.

Pandangan tentang kemakmuran tadi mendorong banyak orang bersusah payah, pontang-panting mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Beberapa di antaranya malah tidak lagi peduli dengan sekitar dan menghalalkan segala cara. Pada akhirnya, apa yang mereka anggap mampu membuat bahagia, justru menyeret mereka ke realitas sebaliknya. Sisa hidup pun dipenuhi kekhawatiran dan ketakutan berlebihan, ketidakwarasan, penyakit, serta ketidakberdayaan menghadapi kenyataan.

Dari sudut pandang “fu”, tidak ada yang salah dengan dorongan untuk mencari dan mengumpulkan harta. Hanya saja, titik akhirnya tidak terletak pada keberlimpahan, melainkan ketercukupan. Prinsip ini pun menjalar ke pertanyaan berikutnya, “Seberapa cukup?

Semua orang tentu punya jawabannya masing-masing, dan secara pribadi, saya yakin bahwa (1) rasa cukup bisa membahagiakan, dan (2) kebahagiaan itu bisa mencukupi.

Sungguhlah beruntung bila mampu merasa sungguh-sungguh cukup.

Saya ingin tutup tulisan hari ini dengan satu pertanyaan perbandingan. Mana yang lebih memberikan rasa bahagia; meminum segelas air putih saat sedang haus-hausnya di siang hari yang panas, atau meminum segelas air putih untuk membantu menelan makanan?

[]

Leave a Reply