Manakala Enggan Memulai Kembali (gpp, kok…)

SALING berkenalan; mulai dekat; menjalin hubungan; larut dalam kemesraan; menghadapi perselisihan; bersepakat untuk berdamai dan saling memaafkan, atau justru memilih untuk mengakhiri kebersamaan dan saling berpisah–atau dalam banyak kasus, salah satunya menyerah, lalu pergi meninggalkan. Yang awalnya sendirian, menjadi berdua, kemudian kembali bersendirian.

Sekilas, siklus di atas tampak sederhana. Namun aku, kita, sudah sama-sama tahu bahwa itu tidak sesepele kelihatannya. Jika urusannya hanya soal mencurahkan waktu dan tenaga, tentu tak seberat atau sepenting itu untuk dijadikan persoalan. Melainkan soal mencurahkan perhatian, menjaga perasaan, serta berupaya memegang teguh kepercayaan dan komitmen terhadap seseorang. Itu yang susah, melelahkan, dan menguras isi hati maupun kepala.

Makanya, kita tetap harus bisa menghormati dan menghargai segala keputusan orang-orang yang tengah patah hati. Barangkali teramat mudah bagi kita untuk menyoraki seseorang agar segera move on, beranjak dari situasi emosionalnya saat ini, padahal bukannya mereka tidak mau move on, tetapi masih menyimpan keraguan (terhadap diri sendiri); trauma dan ketakutan (untuk mempercayai orang lain, apalagi yang datang dengan segala sikap baik dan manis); atau pun keengganan (dari kembali berdekatan dengan orang lain). Biarkanlah mereka mengambil dan menghabiskan waktu seberapa pun lamanya yang mereka butuhkan, agar benar-benar pulih; benar-benar utuh hatinya; benar-benar kuat kepribadiannya.

Setelah itu, barulah persilakan mereka untuk mencoba kembali lewat apa saja. Biarkan mereka memilih ingin menggunakan apa untuk mulai terhubung dengan orang-orang baru, orang-orang yang berbeda. Entah apakah nantinya menjadi mula dari bab utama sebuah cerita, ataukah menjadi sekadar catatan-catatan tambahan di kaki halaman. Entah apakah mereka memang ingin mencari pasangan, ataukah menjadi sekadar penjajakan yang tak usah diteruskan.

Biarkan mereka terpapar dengan semua pilihan, dan biarkan mereka memilih sendiri. Lagipula, kita sendiri pun tahu rasanya, kan?

Lain halnya apabila mereka terkesan “buta”, tidak tahu harus bagaimana; memulai dari mana, dengan cara apa. Itulah saatnya untuk menunjukkan berbagai pilihan yang ada. Yang mereka perlu lakukan ialah mempersiapkan diri dan mulai terbuka dengan segala kemungkinan.

Dating Platform

Mendaftarkan diri, sama artinya bersedia untuk ter/diekspose. Langkah ini memungkinkan seseorang untuk bertemu dengan seseorang lainnya yang–mungkin–memiliki tujuan serupa. Di sisi lain, seseorang yang mendaftarkan diri pada dating apps berarti siap mencari pasangan, apa pun batasannya. Banyak orang berhasil menemukan jodohnya (baca: pasangan resmi hingga pernikahan) lewat sejumlah dating apps, hanya saja tak sedikit pula yang menjadikan platform ini sebagai wadah menemukan partner kencan semalam-dua malam saja.

Yang pasti, dating apps hanyalah pintu gerbang perkenalan. Itu pun secara daring saja. Tetap diperlukan serangkaian percakapan, kemudian berlanjut pada pertemuan tatap muka, barulah bisa berujung ke sejumlah peluang. Tidak cocok? Selama masih di level online, tinggal unmatch saja. Sebab setiap orang belum tentu sepenting itu untuk dikejar atau diperebutkan. Semuanya masih tampil di balik persona, profile picture. Kamu tak akan pernah menyangka bakal bertemu siapa di sana.

Sesederhana itu.

Saling Memperkenalkan/Diperkenalkan

Inilah salah satu manfaatnya memiliki lingkar pertemanan atau pergaulan yang luas. Seseorang memperkenalkan temannya/diperkenalkan kepada temannya yang lain. Umumnya dalam sebuah kegiatan bersama, atau acara. Serius, atau santai.

Ketertarikan awal bisa memantik seketika lewat tampilan fisik, pembawaan, maupun cara berbicara. “Orangnya asyik juga, nih.” Lagi-lagi tentu diperlukan pendalaman tujuan. Apakah pihak sana juga punya niat barang setitik pun untuk menjalin sebuah hubungan serius, ataukah buat main-main saja.

Ajang Cari Jodoh

Namanya juga usaha, apa saja bisa dilakukan selama tidak melanggar norma atau merugikan. Ajang cari jodoh, misalnya seperti foto di bawah ini, tak ubahnya dating platform yang analog. Orang-orang yang datang dan menghadirinya, setidaknya punya satu tujuan senada: Ingin mencari seseorang. Siapa tahu ada yang cocok, dan dia pantas diperjuangkan. Syukur-syukur kalau dia punya ketertarikan yang sama.

Sebuah upaya.

Dalam beberapa aspeknya pun, acara-acara yang demikian bisa sekaligus menjadi ajang screening, agar kendala-kendala mendasar bisa diatasi lebih awal. Contohnya persoalan agama. Daripada sesudah berkenalan, telanjur sayang, tahu-tahu terbentur perbedaan dan meninggalkan sakit yang terlampau dalam, lebih baik mengambil “jalan agak memutar” atau menghindar. Kendati di luar sana banyak pasangan yang kuat, tangguh, dan berhasil mendobrak batas-batas perbedaan tersebut, sungguhlah tak adil jika kita menganggap semua orang punya kekuatan serupa. Yang dapat kita lakukan hanyalah menyokongnya, tanpa sok mampu dan campur tangan terlalu dalam.

Jadi, bagi kamu yang belum siap memulai kembali dan mencari, please take your time, as much as you need. Tak usah terburu-buru, karena lebih penting bagimu untuk kembali menata hati.

Manakala kamu telah siap dan berani memulai kembali, yakinlah bahwa kamu sudah jauh lebih kuat; lebih tangguh; lebih berpengalaman; dan lebih cermat dari sebelumnya. Coba saja semua celah kesempatan yang ada. You deserve the best.

Sudah mencari tetapi belum menemukannya? Ya, sudah… buat apa dipaksa. Ada hidup yang tetap harus kita jalani dengan sebaik-baiknya. Kuasa untuk menjadikannya penuh dengan bahagia, ada di tangan kita.

Sini, peluk dulu…

[]

Advertisements

Leave a Reply