Bucin, Realitas Elusif, dan Derita Sukarela

SEBUAH derita bukanlah penderitaan jika belum disadari dan diterima sebagai demikian. Derita–segala sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan hati–biasanya baru disadari sebagai sebuah penderitaan setelah dampaknya mulai terasa. Padahal derita, seperti segala hal terkondisi lainnya, selalu memiliki penyebab dan tanda-tanda. Termasuk hal yang satu ini.

Itu kata Chu Pat Kai (豬八戒), tokoh fiktif dalam kisah “Perjalanan ke Barat” (西遊記) yang harus mengalami seribu kali patah hati dalam setiap reinkarnasinya, bentuk hukuman karena berupaya merudapaksa dewi penghuni bulan. Sayangnya, dalam hal ini Wu Cheng-en, sang pengarang, merancukan antara cinta dan berahi, dua hal yang sejatinya tidak koheren mutlak.

Pertanyaannya, apakah derita cinta hanya mewujud setelah terjadinya patah hati, hilangnya cinta, padamnya kasih, khianat, atau dua orang yang tak lagi bersama? Adakah derita cinta yang justru diterima sebagai sebaliknya? Sebuah rasa keterpenuhan, misalnya, hal yang dirasa patut dilakukan, dan justru memberikan rasa puas; kepuasan setelah kita berhasil menunaikannya.

Menjadi budak cinta, atau bucin, ialah mereka yang sebenarnya dibuat/merasa menderita secara sukarela karena cinta dengan seperangkat latar belakangnya. Termasuk “at the end, it’s all worth it. It’s all worth fighting for.” Tetap ada perasaan susah dan hati yang berat ketika hal itu terjadi, tetapi luput disadari sampai akhirnya terasa kian menyakitkan.

Servitude.

Kapankah “at the end” tersebut?

Hanya ada dua hal di dunia ini, yakni bahagia dan derita. Sejauh ini, dunia pun telah membentuk anggapan bahwa bahagia dicapai dengan meniadakan derita. Dari situ, kita cenderung lebih fokus pada hal-hal yang menyenangkan, yang kita dambakan, yang mati-matian ingin kita capai. Di sisi lain, kita abai atau bahkan sengaja menjauhkan diri dari mengamati hal-hal yang menderitakan, penyebab derita.

Seperti sabda Epikuros bahwa kebahagiaan tak akan terpengaruh rasa sakit fisik, dan bentuk-bentuk kesakitan lainnya. Termasuk rasa takut.

Banyak yang tidak menyadari bahwa (sesuatu yang dikira) bahagia dan derita dalam cinta hanya setipis rambut perbedaannya. Realitasnya menjadi samar. Ketiadaan derita menimbulkan bahagia, dan usainya momen-momen bahagia pun kembali menimbulkan situasi derita. Hanya saja, lagi-lagi karena keberserahan dan kesukarelaan, sebuah derita tidak disadari dan diterima sebagai demikian.

Kebebasan

Seseorang yang merdeka menjaga dan berusaha mempertahankan kebebasannya sebagai individu. Dengan cinta, seseorang merelakan kebebasan tersebut, mengurangi atau bahkan menyerahkannya secara sukarela. Derita tak lagi dianggap sebagai derita, lantaran tidak memberatkan dan menyusahkan hati. Derita justru muncul jika terjadi yang sebaliknya; ketika kita gagal, tidak mampu, merasa dihalangi, terkendala, dan pada akhirnya tak bisa melakukan yang kita inginkan–servitude.

Perjumpaan

Karena cinta, sebuah perjumpaan bisa sedemikian membahagiakan. Kemudian berakhirnya perjumpaan–perpisahan dan rasa rindu pun bisa menyakitkan. Bahagia berubah jadi derita. Kendati jumpa-tidak jumpa ialah kondisi alamiah yang tak terhindarkan. Sedetik sebelumnya bahagia dengan hati berbunga-bunga, sedetik berikutnya malah terasa merana.

Pemberian

Pada hakikatnya masih senada dengan dua poin di atas, pemberian atas nama cinta dianggap bisa menimbulkan bahagia. Bahagia karena telah mampu memberikan yang dia inginkan, walau tidak diminta secara langsung. Bahagia karena telah mampu membuat dia bahagia.

Pemberian dalam cinta bisa berbentuk hampir apa saja, tangible dan intangible, mulai dari barang hingga perhatian, mulai dari minta dibawa jalan-jalan hingga keperawanan (btw, memangnya ada yang minta keperjakaan?) Saat sanggup diberikan, rasanya menyenangkan. Begitu pula sebaliknya. Hati didera kekhawatiran sendiri, menjadi bulan-bulanan kecemasan sendiri.

Apakah salah? Entah.
Apakah tidak salah? Entah.
Bagaimana yang benar? Entah.
Bagaimana supaya tidak salah? Entah.

Kamu sendirilah penentu bahagia dan derita. Derita belumlah menjadi sebuah derita sebelum kamu anggap dan terima sebagai sebuah derita. Begitu juga bahagia. Hanya kamu yang bisa mengizinkan dirimu sendiri untuk merasa bahagia.

Dan cinta adalah sebenar-benarnya daya kuasa yang bisa membolak-balikkan antara derita dan bahagia. Cinta adalah daya kuasa yang membuat seseorang bersedia berserah sepenuhnya.

[]

Advertisements

Leave a Reply