Reset

Sejatinya memang saya berniat absen sementara dari menulis rutin di Linimasa ini. Saya pikir, sebulan cukup. Maka selama bulan September 2019 lalu, saya took a pause dari menulis rutin. Alasan lain yang saya buat untuk diri sendiri di awal bulan lalu adalah, masa awal project biasanya akan occupied dengan berbagai penyesuaian baru. Memang penyesuaian itu terjadi, namun ternyata datangnya bukan dari dalam pekerjaan yang dilakoni.

Penyesuaian kali ini datangnya justru dari luar. Berbagai riuh suara demonstrasi yang menuntut perbaikan kualitas hidup, mulai dari kebakaran hutan yang mematikan sampai rancangan berbagai undang-undang yang malah membelenggu hak asasi kita, mau tidak mau membuat kita ikut merasakan dampaknya. Meskipun kita tidak bersama mahasiswa secara fisik, meskipun kita tidak di tengah hutan yang terbakar in person. Nyatanya energi negatif yang dihembuskan pembakar hutan, anggota-anggota parlemen yang tidak kompeten, dan insensible political buzzers membuat kita lemah tidak berdaya menghadapi hari.

Saya tidak bisa mendeskripsikan apa yang saya alami. Saya merasa marah, tapi tidak tahu kenapa sampai begitu marah membaca apa yang sedang terjadi. Saya merasa takut, karena I feel fucked membaca calon aturan-aturan yang malah membuat banyak orang lebih memilih mati daripada hidup. Begitu besarnya perubahan yang seolah-olah mendadak terjadi, padahal sudah dirancang jauh-jauh hari tanpa kita ketahui, sampai-sampai kita berpikir, am I alone feeling this low?

Sampai saya melihat twit teman saya, Siska Yuanita, di bawah ini:

IMG_3608

IMG_3609

 

 

Sontak saya merasa lega sesaat. Ternyata kebingungan dalam amarah dan ketakutan yang saya rasakan, juga dirasakan orang lain. Ternyata kita tidak sendiri. Ada collective common feeling yang juga dialami beberapa orang. Paling tidak, the thought that we are never alone sudah cukup membuat kita bisa bangkit dan bergerak lagi.

Sembari kita bangkit, mungkin ini saat yang tepat buat kita menggali lagi rasa empati. Mau mendengar dan melihat perbedaan, karena dari pendengaran dan penglihatan, kita bisa mulai menerima. It’s time to reset while we fight, while we resist.

Semoga saya bisa terus menulis lagi, sambil menerima dan menjalani perubahan yang terjadi.

Love you all!

Advertisements

2 thoughts on “Reset

Leave a Reply