Membaca di Dalam Bus TransJakarta, dan Dua Orang Asing yang Saling Berbagi Cerita

HAMPIR pukul setengah sebelas, tadi malam, dan saya masih belum tahu ingin menulis apa untuk Linimasa. Namun, kesan yang tertinggal dari kejadian kemarin pagi tetap kuat terasa, karena merupakan sesuatu yang tidak pernah dialami sebelumnya.

Memanfaatkan waktu tempuh dalam perjalanan menuju kantor setiap pagi, saya terkadang membaca buku bila memungkinkan. Selama penumpang tidak terlalu berjejalan hingga berhimpit-himpitan, apalagi kalau sudah mengerti selanya, akan ada cukup ruang untuk mengangkat dan membaca buku di dalam bus TransJakarta, meski sambil berdiri dengan salah satu tangan memegang tali penyangga sekalipun. Ini sebabnya, saya lebih menyukai buku-buku edisi saku–sebenarnya hanya sedikit lebih kecil dibanding ukuran buku pada umumnya–yang lebih nyaman dibawa-bawa, serta cukup mudah saat membalik halaman-halamannya.

Kemarin, saya baru mulai membaca “1984” versi terjemahan bahasa Indonesia. Menaiki armada TransJakarta yang panjang dan terdiri dari tiga bagian, saya cukup nyaman berdiri dan bersandar di area sambungan yang mirip tarikan akordeon. Agak gelap, memang, tetapi setidaknya bisa memegang buku dengan kedua tangan.

Seperti biasanya, jumlah penumpang terus bertambah dari setiap halte, bikin makin sempit ditambah bau badan yang lumayan kencang. Lewat dari Halte Grogol 1, barulah situasi berangsur kondusif, dan saya bisa bergeser ke belakang bus mencari pegangan kosong serta meneruskan membaca.

“1984”

Melewati RS Sumber Waras, seorang penumpang yang duduk tak jauh dari posisi saya berdiri membuka maskernya lalu sekonyong-konyong berkata: “Baca ‘Nineteen Eighty-Four’ juga, ya?” sambil tersenyum dan menunjuk sampul depan buku di tangan saya. Sempat tidak menyadari ada yang mengajak bicara, saya copot salah satu earphone, buru-buru menjawab “iya”, dan langsung dia respons: “Bukunya itu bagus banget!” Ada buku Andrea Hirata bersampul hitam kuning yang ia pegang di atas pangkuannya; telunjuk kanannya terselip di halaman yang tampaknya tengah ia baca.

Perbincangan di antara kami, dua orang asing yang bahkan tidak menanyakan nama satu sama lainnya, terus berlanjut sekira 10 menit. Kurang lebih dari atas Flyover Roxy sampai akhirnya bus kami tiba di Halte Harmoni. Dia mengemukakan tentang betapa briliannya George Orwell, sang penulis, menggambarkan imajinasi mengenai masa depan manusia. Pendapat yang saya amini, lantaran Orwell sudah laiknya seorang futuris. Ia menggunakan cakupan perspektif dan wawasan seorang warga terpelajar London pasca Perang Dunia Kedua, tahun 1949, mencoba menerka apa yang akan terjadi 35 tahun ke depan lewat berbagai terpaan gejolak ekonomi politik pada manusia.

Pernyataan dan tanggapan terus bersambutan, dan begitu seterusnya. Dia menyarankan untuk lanjut membaca “Animal Farm”, novel legendaris lain yang berkutat pada sosialisme dan komunisme, yang kerap disandingkan dengan “1984”. Dia juga mengutarakan kekagumannya terhadap trivia mengenai Newspeak, salah satu objek minor cerita yang berkaitan dengan pola berbahasa dalam plotnya … serta masih banyak lainnya, sampai ia harus turun dan berganti bus, dan kita sama-sama mengakhiri obrolan dengan: “Nice talking to you…”

Dari sini, Jakarta ternyata tetap bisa menjadi kota yang membuat orang-orang asing, penghuninya, merasa baik-baik saja.

Satu hal yang menjadi penyesalan, saya lupa membuka masker di sepanjang pembicaraan.

Sungguh tidak sopan.

[]

Advertisements

2 thoughts on “Membaca di Dalam Bus TransJakarta, dan Dua Orang Asing yang Saling Berbagi Cerita

Leave a Reply