Bacot

monsters_inc

Aku mau jadi orang kaya dengan cara elegan“, Boo berkata kepada Sully, suatu ketika. “Aku ingin masuk PTN terbaik negeri ini, lulus selekasnya, lalu kerja sebentar, dan melamar beasiswa LPDP, atau Chevening dan terbang ke Inggris.

Sully sudah lama mengenal Boo. Jika dihitung dengan jari maka ini adalah minggu ketiganya mengenal Boo. Dunia sudah begitu terhubung. Pertemuan di dunia medsos seharusnya menjalar jadi perjumpaan. Sully di hari kedua, setelah percakapan panjang 24 jam melalui DM instagram, yakin bahwa dirinya kenal baik karakter Boo. Anak SMA yang menyukai Chandra Darusman, Jason Ranti, Feast, sekaligus Padi dan ndak kekoreaan. Klop! Apalagi Boo adalah perempuan pintar. Dia mau diajak diskusi soal dimana londri sneakers yang bagus dan murah di daerah Haji Nawi, kopi yang enak dekat stasiun Cikini, juga beli dandanan murah di shopee buat anak skena. Atau kenapa Bahasa Prancis yang menjadi bahasa resmi PBB. Mereka jadikan sajian cemilan DM dari pagi hingga pagi.

Terus aku akan kerja di BCG, atau McKinsey, lalu uangnya aku tabung. Aku mau irit, dan mau punya rumah di Menteng“.

Sully dengan sabar mendengar apa yang Boo katakan. Kopi-O disajikan oleh pelayan. Kopi ketiga sore ini. Di sebelah mereka, dua anak perempuan dengan rambut cepol sedang asyik memilah hasil jepretan kamera. Keduanya sering sekali cekikikan.

Ciri anak Java Jazz itu kameranya sekarang analog, nggak lagi ngalungin DSLR, jeans digulung, kaos putih, dan totebag indie.

Mangkok ayam?”, tanya Sully.

Ga lah, Sejauh mata memandang, sekalian syal-nya, lihat deh sebelah, nanti mereka akan keluarkan sedotan stainless. Cintai planet kita, bro“.

Kamu banget dong?”

Bacot!”, Boo menyanggah.

Bacot. Ini adalah kata yang sering didengar Sully. Begitu juga kata ini yang menarik baginya ketika melihat komentar Boo di sebuah feed selebgram yang cantik dan sering posting ala-ala OOTD. Bubuhan caption yang nyastra dan sok peduli lingkungan sangat digemari dan menuai banyak likes dari pengikut. Tapi Boo beda. Dia tidak pencet likes. Dia hanya tuliskan komentar: “Bacot!”. Sully sontak langsung kirim DM ke akun dengan gambar anak kecil tokoh di Monster Inc. ini dengan penuh rasa penasaran. Rupanya dia lembut, tidak sekasar komentarnya. Dua jam berbalas DM dan Sully menemukan sisi lainnya:  getas, broken home, senang diperhatikan, pintar dan engas. Bacot, adalah pembuka segalanya.

Eh kamu suka Reza Artamevia? Enak ya lagunya.”, Boo mengganti topik. Sully masih sibuk mengingat-ingat percakapan digital mereka.

Aku kalau lagi cuddling sama pacarku aku sukanya pakai lagu Reza, kalau kamu?“. Sully menarik rokoknya dengan terus memperhatikan apa yang dikatakan Boo. Dia tidak tertarik menjawab.

Mereka sedang berada di sebuah kedai kopi. Meja antar pengunjung begitu sempit. Sully kurang begitu nyaman ngobrol banyak. Namanya juga Jalan Sabang. Semua tokonya berderet berpelukan. “Jalan Sabang itu melihat Jakarta tahun 2004“, kata Boo lagi.

===

Aku ragu antara mau membuka branya atau dia akan membukanya sendiri. Bibirnya dipagut ke bagian bawah leherku. Aku terlentang jatuh. Dia menyerang. Tanganku bebas. Pikiran ini datang tiba-tiba.

Musik mengalun syahdu, aku makin tanpa daya.

Lima menit lalu kami hanya dua insan yang sedang jalan-jalan mengekplor Jakarta dengan panduan akun dari Halte ke Halte yang mereka temukan di twitter. Kita ngopi, kita juga ambil gambar diam-diam engkoh yang tidur kecapekan.  Makan gajeboh, rendang dan paru kering di Natrabu. Bahkan kami minum di tiga tempat bergantian. Atjeh Connection, Saudagar dan Kopi Oey. Sepanjang perjalanan kita bergandengan. Lalu kami kecapekan. Letih tapi segar karena kopi. Butuh rebahan. Maka kami disini, sebuah losmen murah jalan kaki sedikit saja dari Sabang menuju Jaksa.

Aku buka yah?”

Ah, BACOT!

Maka kubuka pengait branya. Giliran aku yang menyerang. Tanpa ampun.

===

Enggak tahu deh, kenapa aku suka berpikir lagu itu memang diciptakan untuk aku. Coba saja kamu dengarkan lagu Keabadian, terus Biar Menjadi Kenangan  atau Satu Yang Tak Bisa Lepas, uh, aku suka banget!

Okay.”, respon Sully.

Aku nggak suka lagu di filem Milea. Pidi Baiq menurutku terlalu egois pasang semua lagu ciptaannya. Dia mau bikin novel oke, lalu difilemkan, aku masih oke, tapi apa mesti lagu-lagunya dia juga.” Boo masih lanjut, “Lagian Dilan bodoh banget, masa sayang cuma pelukan doang. Lebih banyak ngomong aneh ke Milea. Aku sih aneh dapet cowo yang ngomongnya aneh gitu. Gak real tau nggak?”, Boo berhenti sejenak. Dia menarik kuat-kuat Iceburstnya. Lalu dihembuskan dan kembali bicara.

Kalau aku jadi Dilan, seharian naik motor keliling Bandung, ga bakalan pulang. Kalau perlu jalan sampai pagi. Rangga lebih keren. Dia mau ajak Cinta nggak tidur semalaman. Gitu itu namanya laki. Mau culik perempuannya.”

Bacot!“, tiba-tiba Sully menukas. Sully bangga bisa membalas kata khas milik Boo.

HAHAHA, bangke! Kamu balas aku. Hahahaha.”

The Fact is (I Need You).“, Sully berkata kepada Boo.

Hah?”

Iya, kamu kan tadi tanya lagu yang enak buat cuddling apa. Nah, itu lagu kesukaanku. The Fact is (I Need You)-nya Jill Scott“.

Hmmm…“, Boo berpikir sebentar. Ia mendekatkan bibirnya di telinga Sully lalu berbisik,

Ya udah yuk, kita pindah tempat sekarang, biar bisa dengerin dari hape kamu“.

 

Advertisements

One thought on “Bacot

Leave a Reply