Tutur Bahasa Indonesia Nan Adiluhung … atau Ambigu?

SETIAP orang Indonesia yang sudah cukup dewasa dan tidak punya masalah komunikasi lisan tampaknya akan selalu memiliki kemampuan ini; memahami maksud tersembunyi lewat pesan yang tak diucapkan secara terang-terangan.

Jadi semacam rahasia umum, atau kesepakatan bersama, bahwa ketika seseorang mengatakan sesuatu, yang dia inginkan sebenarnya ialah sesuatu yang berbeda. Kita pun akhirnya ikut terbiasa, lantaran terus-menerus terpapar dengan pola seperti ini, dan justru turut paham pesan yang disampaikan. Terutama berupa ungkapan-ungkapan khas.

“Tolong kamu apakan dulu itunya biar dia bisa bagaimana lah. Tolong, ya.”

Saat mengutarakan ini, tentu terikat pada konteks tertentu yang berlangsung saat itu. Kalau tidak, semuanya bakal berantakan dan menjadi tak jelas arahnya; apanya yang diapakan, supaya tidak bagaimana?

Ada tingkat kepercayaan diri‒atau beda tipis dengan arogansi‒yang tinggi ketika seseorang mengucapkan celetukan ini, yaitu bahwa kepada siapa pun pesan ini ditujukan, yang bersangkutan haruslah paham dan langsung mengerjakannya. Tanpa perlu bertanya ulang, meski sekadar memastikan.

“Tahu sama tahu.”

Ada asumsi dalam pernyataan ini, bahwa semua pihak yang terlibat dalam pembicaraan sudah memiliki pemahaman yang sama terhadap sesuatu. Selaras antara yang diminta, dan yang bisa diberikan, tanpa keberatan, tanpa sanggahan, tanpa penolakan. Menjadi semacam kode universal, tanpa mempertimbangkan kemungkinan adanya ketidakcocokan, perlunya penyesuaian, dan perubahan lebih lanjut.

“Ya begitulah…”

Begitu yang gimana? Entah apakah pihak pendengar yang harus menebak sendiri, atau pihak penyampai yang malas menjelaskan lebih jauh?

“Pokoknya beres.”

Pernyataan ini pada dasarnya disampaikan untuk memberi dan mendorong rasa tenang, atau rasa terjamin terhadap sesuatu kepada si penerima pesan. Maksudnya adalah, tidak perlulah pusing, cemas, khawatir, atau bersusah payah memikirkan sesuatu bakal berjalan lancar dan baik atau tidak. Percayakan saja, dan semuanya pasti sesuai keinginan.

Masalahnya seringkali ada pada kesamaan standar dan kesepahaman mengenai capaian yang diinginkan. Beres menurut seseorang, belum tentu sama beresnya menurut orang lain. Dengan demikian ada reputasi yang dipertaruhkan, sebab ucapan ini diucapkan oleh si pelaksana, yang mengerjakan sesuatu tersebut.

“Tolong dikondisikan.”

Setiap kali mendengar ungkapan ini, saya langsung bertanya dalam hati tentang kondisi seperti apa yang diinginkan oleh si pengucap? Apakah bersifat positif atau negatif? Apakah berupa tindakan tertentu, atau justru harus disikapi dengan tindakan khusus?

Mempertanyakan kembali kondisi “kondisi” yang diinginkan pada saat ini disampaikan, dapat menimbulkan kesan ketidakmampuan memahami maksud sejak awal. Bisa juga dibarengi sentimen ketidaktepatan dan ketidakcermatan saat menjalankan tugas. Mau tidak mau harus mampu paham dalam ambiguitas dan ketidakjelasan.

Pada saat ungkapan ini disampaikan, sebenarnya wajar bagi siapa pun yang mendengarnya untuk bertanya-tanya apakah si pengucap memang sedang hemat bicara, atau malah juga tidak paham apa yang sebenarnya dia inginkan.

“Bisa kurang lebih lah.”

Seberapa jauh batasnya? Sesedikit apa kurangnya, dan sebanyak apa lebihnya? Lagi-lagi, kedua pihak sebaiknya memiliki pengertian yang sama, demi menghindari perselisihan lebih lanjut. Karena bagaimanapun juga, diperlukan negosiasi yang gamblang untuk mengetahui titik tengah bagi semua pihak.

Di pasar atau pusat perbelanjaan umum, persoalan kurang lebih bisa dibantu dengan nominal angka. Namun, untuk perihal yang lain, tetap ada kemungkinan ketika sedikit menurut satu pihak, tetapi masih kebanyakan menurut pihak lainnya.

“Atur aja…”

Memiliki karakteristik yang agak berbeda dibanding yang lain, ungkapan ini menunjukkan sikap keterserahan. Bukan pasrah, melainkan kesediaan aktif untuk menyerahkan atau mempercayakan penanganan dan penyelesaian sesuatu kepada orang lain.

Dalam situasi tertentu, ungkapan ini juga bisa mengesankan keinginan untuk tidak mau repot, tinggal menunggu dan menerima hasilnya. Termasuk di dalamnya kecenderungan untuk tidak ambil pusing, dan tidak terlalu mau tahu dengan metode maupun cara yang digunakan.

“Mohon kebijaksanaannya.”

Sisi ambiguitas dari ungkapan ini terletak pada seberapa bijaksana kedua belah pihak dalam masalah yang terjadi? Meski terdengar seperti sebuah permintaan pasif, akan tetapi pada dasarnya terdapat ekspektasi atau keinginan yang harus dipenuhi.

Setiap orang bertindak dengan, dan memiliki tingkat kebijaksanaan yang berbeda. Bijaksana bagi seseorang, belum tentu menyenangkan atau sesuai keinginan orang lain. Pasalnya, ada banyak hal yang patut dipertimbangkan bila terkait dengan kebijaksanaan. Sikap bijaksana itu adil, jelas, objektif, dan tidak bias. Dengan demikian, dalam banyak situasi kita bisa melihat bahwa ungkapan ini lebih condong kepada sebuah permintaan yang didasari pada aspek-aspek subjektif. Termasuk mengkamuflase emosi dan simpati.


Di era ini, kala segalanya bertambah laju dan kencang, tak semua orang memiliki ketahanan dan kemampuan untuk mengikuti alur pembicaraan. Baik yang berupa basa-basi berkedok sopan santun dan tata krama, maupun bahasa-bahasa bersayap yang tersirat.

Sementara keseharian kita sudah sedemikian melelahkan, rasanya terlalu berharga memboroskan stamina maupun tenaga untuk munafik dan berpura-pura.

[]

Advertisements

2 thoughts on “Tutur Bahasa Indonesia Nan Adiluhung … atau Ambigu?

  1. Hahaaha ini mah bahasa birokrasi Indonesia banget! Mbulet, taksa, dan multiinterpretasi plus bikin frustrasi.. Gilsss. Salah satu aku nggak mau jadi PNS kayak ‘bonyok’ ialah supaya nggak ketemu bahasa-bahasa ga jelas kayak ginih.

    1. Nah, itu, hampir semuanya identik dengan bahasa birokrat Indonesia. Sebegitu mustahilkah untuk diubah? Hahaha!

Leave a Reply