3 Keterampilan Dasar & Krusial untuk Ngetwit Saat Ini

BUKAN hanya Twitter-an, sebenarnya, keterampilan-keterampilan berikut dibutuhkan hampir setiap saat dalam berkomunikasi. Termasuk berbicara, menulis, mendengar, dan membaca. Sementara Twitter merupakan platform media sosial dengan ruang isi yang relatif sempit. Hanya 280 karakter tulisan.

Mengapa sedemikian penting? Karena kita—sebagian besar—terlalu gampang gusar, kesal, sebal, merasa terganggu, dan membenci manakala tidak mengerti sesuatu, maupun saat tidak dimengerti oleh orang lain. Kita ciptakan sendiri sebuah ketidaknyamanan; kita terisap dalam pusaran ketidaknyamanan itu; lalu kita meratap seolah-olah paling teraniaya dan sengsara akibat ketidaknyamanan itu. Padahal, semampu kita menciptakan perkara, semestinya semampu itu pula kita menghadapi dan menjalaninya.

1. Memahami pesan sejelas-jelasnya, semaksimal mungkin

Boleh dibilang hampir semua masalah berawal dari kesalahpahaman atau kekeliruan terhadap sesuatu. Bentuknya semakin nyata bila kesalahpahaman atau kekeliruan tersebut disikapi, dilanjutkan dengan tindakan. Dari situ, masalah tercipta hingga merembet ke mana-mana. Makanya, kemampuan memahami sejelas-jelasnya merupakan landasan terpenting. Langkah pencegahan paling dini, pereda potensi konflik. Intinya, tanpa kesalahpahaman atau kekeliruan, tidak akan muncul masalah. Kecuali jika memang itu yang dicari, sengaja dibuat dan diadakan.

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari pemberi kepada penerima. Ada kesan bahwa sang pemberi pesan adalah pihak aktif (yang melakukan), sedangkan sang penerima adalah pihak yang pasif (sekadar mendapatkan).

Kemampuan memahami sejatinya bersifat aktif, atau justru proaktif. Bukan sekadar membaca atau mendengar informasi dari pihak lain secara pasif, tetapi sang penerima pesan juga melakukan aktivitas berpikir, mempertimbangkan hal-hal yang diterimanya, dan mempergunakan logika dalam mengolah pesan yang diterima, sebelum akhirnya memberikan tanggapan. Ia menghindari bersikap gegabah, atau terburu-buru, atau menelan mentah-mentah informasi yang didapatkannya.

Caranya bisa relatif sederhana. Berawal dari sebuah pertanyaan singkat: “Benarkah begitu?” atau “Masa, sih, begitu?

Pertanyaan di atas mampu mengusik kita untuk mencari tahu dan memahami lebih jauh. Sebab saat ini, rendahnya kemampuan memahami pesan memicu banyak pertikaian. Termasuk di media sosial.

Gara-garanya~

● Ada yang terlalu percaya diri dengan kemampuannya memahami, kendati keliru dan salah kaprah. Saking tingginya rasa percaya diri itu, dia malah bisa mengelak, menyangkal, dan melemparkan kesalahan kepada orang lain, atau menyalahkan situasi bila dia terbukti salah.

● Ada yang terkesan bodoamat. Benar atau tidak benar, yang penting ia memberikan tanggapannya dahulu. Bisa karena merasa dirinya–dan pernyataannya–sangat penting, sehingga harus disampaikan sesegera mungkin; bisa juga lantaran telanjur benci dengan objek dan subjek pembicaraan. Jadi, menyerang dahulu selagi ada kesempatan. Sebanyak apa pun, sekeras apa pun.

● Ada yang sekadar ikut-ikutan, dan ini berdampak paling mematikan. Secara harfiah. Pasalnya, ketika hanya ada satu orang yang keliru, orang-orang di sekitarnya masih mampu mengingatkan dan mencegahnya bertindak lebih lanjut. Namun, ketika satu orang yang keliru dikelilingi orang-orang dengan kekeliruan yang sama, mereka malah berhimpun dan saling memperkuat, mendorong untuk bertindak lebih lanjut. Nyawa bisa jadi taruhannya. Parahnya lagi, mereka tidak sadar bahwa tindakan tersebut salah. Setelah peristiwa terjadi, hanya ada wajah-wajah menyedihkan yang seakan-akan meneriakkan pembelaan: “Aku, kan, tidak tahu.

Ya~ kalau tahu, tidak bakal bertindak begitu, kan?

2. Menyampaikan pesan dengan ringkas, cermat, dan mudah dipahami

Setelah mampu memahami pesan dengan jelas dan baik, tantangan berikutnya adalah bagaimana menyampaikannya dengan jelas dan baik pula. Sehingga informasi yang diteruskan tidak berpotensi keliru serta menimbulkan kesalahpahaman.

Keterampilan ini beranjak dari kesadaran bahwa setiap orang memiliki kemampuan berpikir dan memahami yang berbeda-beda. Sangat tidak bijaksana apabila kita menggantungkan “nasib” sebuah perkara pada penangkapan dan pemahaman orang lain semata. Jangan lupa, pada saat sebuah masalah muncul akibat kekeliruan dan kesalahpahaman komunikasi, pemberi maupun penerima pesan sama-sama punya andil.

Dengan keterbatasan ruang penyampaian pesan, Twitter adalah salah satu media sosial yang pas untuk melatihnya. Pengguna berusaha menyampaikan informasi sejelas-jelasnya, selengkap-lengkapnya, secermat-cermatnya, tetapi juga seringkas-ringkasnya supaya lebih mudah dibaca, tidak terlewatkan dari perhatian, serta tak membingungkan.

Yang patut diwaspadai adalah perbedaan sudut pandang. Kita seringkali beranggapan bahwa pesan yang kita susun sudah sedemikian jelas, benar, ringkas, dan mudah dipahami. Sayangnya, realitas berkata lain. Para pembaca pesan sama sekali tidak paham, atau justru salah paham. Ujung-ujungnya berkembang menjadi masalah baru.

Itu sebabnya, sama seperti pada keterampilan pertama, proses menyusun dan menyampaikan pesan tetap memerlukan proses berpikir yang intensif, mempertimbangkan banyak faktor, serta pertukaran perspektif. “Kalau aku yang jadi dia, apa yang akan aku dengar/baca/pahami dari pesan ini?” atau berusaha memastikan dengan pertanyaan “Apakah pesan ini sudah benar-benar jelas?

Serumit atau sesulit apa pun sebuah pesan dirumuskan, seseorang dengan keterampilan ini tetap tidak ingin gegabah atau terburu-buru menyampaikannya. Apalagi sampai dibuat jadi utas berpanjang-panjang.

Tak semua orang betah membaca, atau suka diajak berbicara lama-lama.

3. Selalu bersikap tenang (atau cuek)

Keterampilan ini memiliki beberapa aspek, yang salah satunya justru lebih tepat ditempatkan paling pertama; dijadikan landasan sebelum berpayah-payah memahami pesan dengan benar dan sejelas-jelasnya.

A) Tenang ketika terpapar sebuah pesan, untuk kemudian dapat memutuskan apakah pesan tersebut cukup penting untuk diperhatikan, dipahami, dan ditanggapi, atau cukup dibiarkan berlalu begitu saja. Tidak semua hal perlu, patut, atau pantas.

B) Tetap tenang ketika kita, dan pesan yang kita sampaikan, disalahpahami. Lumrahnya, seseorang akan berusaha keras mengerahkan semua kemampuan untuk mengkoreksi kesalahpahaman yang terjadi. Sebab, perasaan sebagai yang salah itu tidak menyenangkan, dan tidak ada seorang pun yang mau mengalaminya. Dengan tetap bersikap tenang, kita berkesempatan untuk mengetahui “apa kesalahpahaman yang muncul“, dan “mengapa kesalahpahaman itu muncul” dengan sejelas-jelasnya. Agar upaya koreksi dan perbaikan yang akan kita lakukan tepat sasaran, efektif, dan efisien.

C) Tetap tenang ketika kita, dan pesan yang kita sampaikan, ditanggapi negatif. Terutama tanpa dasar argumentasi yang solid. Misalnya berupa penolakan, penghinaan dan makian, serta cemoohan. Merujuk kembali kepada poin A), semua tanggapan negatif tersebut bisa kita anggap sebagai paparan pesan yang tidak penting untuk diperhatikan. Tidak usah ditanggapi lagi. Biarlah mereka bermasturbasi dengan ego sendiri. Merasa menang bertarung melawan angin.

D) Tetap tenang ketika kita, dan pesan yang kita sampaikan, ternyata salah. Dalam ketenangan, kita bisa menerima kesalahan dengan pandangan lebih jernih, lebih bertanggung jawab, dan lebih apa adanya. Menyesal, tentu saja harus. Menandakan bahwa kita sadar atas perbuatan tersebut. Namun, rasa gusar hanya akan membuat segalanya makin terasa tidak enak, tanpa faedah apa pun terhadap kebijaksanaan dan pemahaman. Dalam ketenangan pula, kita terkondisi untuk dapat menerima ganjaran dan menjalani hukuman dengan penuh integritas. Secuil kemuliaan manusia.

[]

One thought on “3 Keterampilan Dasar & Krusial untuk Ngetwit Saat Ini

  1. Tulisannya pas buat saya. Baru habis menyalahi seorang teman, dan berusaha untuk tetap tenang dan minta maaf.

    Terima kasih untuk pengingatnya, mas.

Leave a Reply