Menyesuaikan Kapasitas

Kira-kira sekitar 2-3 tahun yang lalu, saya menyadari bahwa porsi makan saya berkurang jauh. Padahal, saya sangat menikmati makan enak dan banyak sebelumnya. Orang-orang terdekat tahu bahwa saya suka makan. Bukan cuma kegiatannya, tapi kualitas dan kuantitasnya juga saya nikmati.

Porsi makan saya yang dulu bisa menghabiskan seporsi makanan apapun (2-3 porsi untuk bakso kuah dengan bihun) menyusut. Saya kesulitan menghabiskan 1, 2 sendok terakhir makanan yang saya pesan. Itu pun bukan tanpa perjuangan – saya harus makan pelan-pelan, berhenti beberapa kali sebelum akhirnya menyerah menyisakan makanan di piring saya.

Saya akhirnya berusaha untuk mengurangi porsian makan. Makan separuh, sisanya bungkus bawa pulang. Atau cari teman yang bisa diajak berbagi makan bersama, biasanya dengan alasan menurunkan berat badan atau menjaga agar saldo tabungan tetap gemuk hingga gajian berikutnya. Alhasil, saat sesi makan berakhir saya tidak lapar. Dan yang paling menyenangkan, saya tidak lagi tersiksa kekenyangan.

Begitu pun halnya dengan urusan mencari nafkah.

Kita dinasehati untuk tidak takut bekerja keras. Do whatever it takes. Menginvestasikan lebih banyak sumber daya sebagai fondasi kesuksesan. Mengikuti resep kesuksesan bahwa bersusah-susah dulu, bersenang-senang kemudian (saya menolak menggunakan peribahasa berakit-rakit ke hulu dan berenang-renang ke tepian karena sejatinya baik berakit maupun berenang itu melelahkan)

Kalau mendaki tangga korporat, kita dianjurkan berinisiatif dalam pekerjaan. Menjawab “Ya” untuk setiap tantangan yang diberikan dan berusaha mengerjakan sebaik-baiknya. Bahkan, dalam berbagai situasi, bersikap sesuai dengan kemauan atasan atau lebih dikenal dengan sikap menjilat juga menjadi saran untuk bagaimana bisa melaju lebih cepat untuk mendapatkan promosi, naik jabatan dan naik gaji.

Kalau memiliki usaha sendiri, pasti akan selalu memikirkan cara bagaimana meningkatkan untung dalam waktu sesingkat-singkatnya. Dan karena mengusahakan dengan modal sendiri, akan semakin banyak waktu, perhatian, modal dan tenaga sendiri yang dicurahkan.

Punya ambisi untuk mencapai suatu tujuan, mengejar target dan cita-cita hidup.

Apalagi bila kita mendengar kisah-kisah inspirasional dari tokoh-tokoh yang sukses dalam hidupnya. Steve Jobs, Mark Zuckerberg, Jeff Bezos, Jack Ma, serta tokoh-tokoh terkenal lainnya yang kisah hidupnya akrab kita dengar. Kisah mereka mempunyai plot yang mirip-mirip – awalnya bukan siapa-siapa, bekerja keras, tidak mudah putus asa, hingga akhirnya sukses. Mendengar demikian, banyak orang yang mencoba meniru dan mengikuti ‘resep’ sukses tersebut dengan harapan mendapatkan hasil yang sama, atau bahkan lebih baik dari tokoh-tokoh yang menginspirasi tersebut.

At what cost, though? Apa yang kita korbankan? Apakah kita memiliki apa yang perlu dikorbankan, atau malah kita tidak sadar mengorbankan sumber daya yang tidak kita miliki?

Padahal, belum tentu dengan mencoba menjiplak kisah hidup seseorang yang sukses, kita juga bisa menjiplak kesuksesannya. Jalan hidup manusia tidaklah linear seperti matematika yang konkrit; jika B terjadi setelah A, maka jika kita mengkondisikan A untuk terjadi pasti hasilnya adalah B. Tentu, kemungkinan itu ada bahwa hasil akhirnya bisa sesuai yang diinginkan, tetapi hidup setiap orang memiliki terlalu banyak variabel untuk mendapat hasil yang pasti.

Seperti kata @dragonohalim, jangan gunakan ukuran orang lain untuk kita sendiri. Kenyataannya, sering kali ketidakseimbangan dalam hidup itu muncul dari ketidakmampuan untuk mengukur kapasitas diri sendiri. Malah mengukur dengan ukuran orang lain. “Lho kalau dia bisa, kenapa saya tidak bisa?”

Sebagai contoh, kapasitas kita dalam waktu. Kita semua hanya memiliki 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Kedengarannya banyak ya? Padahal saat dijalani dengan sekian banyak kegiatan dan kesibukan, ditambah dengan macet dan hambatan-hambatan lainnya, bukannya tidak mungkin kita berharap bahwa ada lebih banyak jam dalam satu hari atau lebih banyak hari dalam seminggu supaya kita bisa mencapai dan menyelesaikan lebih banyak hal. Tetapi secara realistis, kita hanya bisa berada di satu tempat dalam satu waktu. Kita harus memilih. Kalau kita banyak lembur untuk mencapai target kerja, otomatis kita akan memiliki waktu lebih sedikit untuk membangun hubungan sosial, menikmati waktu bersama keluarga. Kalau kita menginginkan keduanya, waktu istirahat akan berkurang. Tentu saja, contoh di atas menyederhanakan kompleksitas komponen hidup setiap orang, tetapi kurang lebih maksudnya demikian lah.

Contoh lain keterbatasan kita adalah secara ketangguhan mental. Berdasarkan pengalaman pribadi dan obesrvasi sekeliling, seringnya orang memenuhi hidupnya dengan bermacam-macam hal tanpa menyadari kapasitas mental mereka. Tidak semua orang sanggup menghadapi hidup ini sendiri, apalagi masih ditambahkan dengan tekanan untuk menjadi sukses, setara dengan orang lain dengan latar belakang yang sama. Perbandingan-perbandingan ini merupakan tekanan tambahan yang secara tidak disadari membuat menjalani hidup ini semakin ‘berat’, tujuan semakin jauh, dan standar hidup semakin tinggi.

Anggaplah diri ini seperti wadah, yang mempunyai batasan maksimal dan bukannya tidak terbatas dan tidak terhingga. Tentu, isilah hidup/wadah itu semaksimal mungkin. Tetapi jangan lupa bahwa setiap wadah memiliki takaran dan kapasitas yang berbeda untuk menampung sebelum akhirnya yang ditampung tumpah ruah berantakan.

Kalau bisa, kalau memungkinkan, jangan selalu melihat hidup ini sebagai perlombaan yang harus dimenangkan. Salah-salah, malah keseleo karena kaki tak sanggup untuk berlari lebih jauh, atau habis nafas karena tidak kuat lari lama-lama. Kalau memang sanggupnya jalan, ya jalan. Kalau perlu beristirahat sejenak, ya silakan. Kita bisa kok menentukan dan memilih ritme hidup sendiri.

Apakah kita mendorong diri untuk semakin maju, ataukah akhirnya kita terdorong hingga jatuh? Apakah kita mengiyakan sebuah kesempatan untuk mengembangkan diri dan lebih dekat dengan tujuan ideal kita, atau malah kita meregangkan diri terlalu jauh hingga akhirnya ‘putus’? Entahlah. Tetapi baiknya kita tahu jawaban-jawaban dari pertanyaan ini, demi hidup yang lebih seimbang dan tidak ter-la-lu.

Advertisements

Leave a Reply