Melihat Lebih Jelas

Sudah seminggu lewat beberapa hari saya memakai kacamata. Keputusan ini terjadi ketika beberapa minggu yang lalu saya harus lembur selama empat hari berturut-turut dan ditambah harus kuliah malam. Mata rasanya super lelah karena terus menatap layar komputer sehingga rasanya perih dan sempat mengeluarkan air mata dan kotoran mata (belek) yang cukup banyak. Karena memang saya sudah merasa memiliki masalah mata sejak lama, akhirnya saya memutuskan untuk periksa.

Saya memutuskan untuk periksa ke dokter memakai BPJS dan datang ke puskesmas kecamatan terdekat. Prosedurnya singkat dan cepat. Saya mengeluh mata perih dan berair kemudian diperiksa. Lalu karena di puskesmas tersebut tidak ada poli mata, saya diberi surat rujukan untuk periksa ke rumah sakit kecamatan

Begitu sampai rumah sakit, saya langsung diperiksa ke poli mata, diminta mengukur jarak pandang dan hasilnya saya memiliki minus 3 dan 3,5. Dokter sempat memarahi saya kenapa baru periksa padahal pandangan saya sudah bermasalah sejak dulu.

Selesai periksa, saya diberi surat rujukan untuk membuat kacamata ke optik. Ada selebaran yang berisi beberapa optik rujukan terdekat atau bisa dibuat di mana saja asal optik tersebut menerima BPJS. Saya juga diberi resep obat yang berisi vitamin dan obat tetes mata. Proses pemeriksaan dari puskesmas ke rumah sakit ini memakan waktu dua hari karena saat ke rumah sakit, jam kerja dokternya sudah selesai sehingga saya baru bisa periksa keesokan harinya. Selama melakukan pemeriksaan baik di puskesmas dan rumah sakit ini, saya sama sekali tidak mengeluarkan biaya administrasi. Paling hanya mengeluarkan biaya untuk fotocopy tanda pengenal dan BPJS saja.

Saya membuat kacamata di sebuah optik di daerah Cikini. Sistemnya adalah kita mendapat subsidi pembayaran pembuatan kacamata sesuai dengan kelas BPJS yang kita ambil. Contoh.

  1. BPJS kelas 1, subsidi sebesar Rp300.000,-
  2. BPJS kelas 2, subsidi sebesar Rp200.000,-
  3. BPJS kelas 3, subsidi sebesar Rp100.000,-

Begitu sampai optik, kita akan diminta untuk menyerahkan surat rujukan rumah sakit (yang berlaku hanya 7 hari setelah periksa, jika lewat dari 7 hari maka kita harus periksa dan minta surat rujukan ulang), fotocopy BPJS dan KTP. Setelah itu kita akan diminta untuk memilih bingkai kacamata yang kita inginkan. Setelah selesai maka akan dibuat surat nota, dicek sesuai BPJS dan setelah itu diminta untuk mengambil kacamata setelah 5 hari kerja.

Karena BPJS milik saya kelas 1 maka saya mendapat subsidi Rp300.000,-. Harga bingkai kacamata yang saya pilih kebetulan pas dengan total keseluruhan. Berikut rinciannya.

  1. Gosok lensa kanan dan kiri @Rp85.000,-
  2. Bingkai kacamata gradasi coklat Rp130.000,-
    Total Rp300.000,-

Jadi harga pembuatan kacamata saya pas sesuai jumlah subsidi. Setelah selesai mendapat nota pemesanan, saya pulang dan siap menunggu kabar tanpa perlu membayar sepeser pun.

Tapi pada hari ketiga setelah pembuatan kacamata tersebut, tiba-tiba saya mendapat SMS dari pihak optik bahwa BPJS hanya bisa memberi subsidi Rp200.000,- untuk pembuatan kacamata saya. Jadi sisa Rp100.000,-nya harus saya bayar. Jika saya bersedia membayar maka pembuatan kacamata akan dilanjutkan dan pembayaran akan dilakukan saat kacamata sudah jadi. Jika tidak bersedia maka saya bisa datang ke optik untuk membatalkan dan meminta kembali surat rujukan untuk membuat di optik lain. Karena malas, saya akhirnya bersedia membayar dan pada hari kelima akhirnya kacamata saya jadi.

Total waktu pembuatan kacamatanya adalah 7 hari. 2 hari periksa dari puskesmas ke rumah sakit, 5 hari menunggu proses pembuatan kacamata. Biaya yang saya keluarkan sekitar Rp120.000,- untuk buat kacamata dan fotocopy banyak berkas pendukung.

***

Sudah seminggu saya memakai kacamata. Benar-benar seminggu pertama yang ajaib. Rasanya seperti ketika naik level sebuah permainan baru dan di level ini penuh tantangan yang mengharuskan jalan dengan super pelan karena terlalu banyak lubang serta perangkap tersembunyi di sekitar.

Saya ingat, satu jam pertama memakai kacamata rasanya sungguh menyebalkan. Pandangan saya bergoyang, berkali-kali saya hampir jatuh dan setiap berjalan rasanya seperti orang mabuk, miring-miring dan entah kenapa maunya jalan minggir mepet ke tembok, selalu panik saat tidak menemukan tembok atau sesuatu yang bisa dipegang.

Saya ingat bahwa di tiga jam pertama memakai kacamata, perut saya mual bukan main. Rasanya seperti mual ketika naik bus antarkota yang jalannya mengebut dan ugal-ugalan. Rasanya seluruh isi lambung naik dan kamu mau muntah. Mual, mulas, pusing. Bahkan saya sempat muntah cairan bening seperti air dan rasanya pahit gitu saat pertama kali mencoba untuk naik dan turun tangga memakai kacamata.

Saya ingat di lima jam pertama memakai kacamata dan ketika saya harus mengejar kereta api yang sudah mau berangkat, rasanya benar-benar sungguh nganu. Seperti gempa bumi. Saya ingat bahwa ketika akhirnya saya berhasil naik ke kereta, kepala saya langsung berputar cepat, keringat bercucuran, kacamata saya berembun karena bernapas dengan sangat cepat dan nyaris muntah, cairan muntah benar-benar sudah di ujung mulut dan hampir mau keluar karena terlalu mual, tapi untung bisa ditahan. Saya sampai diberi tempat duduk oleh seorang penumpang di kereta karena katanya wajah saya sangat pucat seperti orang sakit. Berlari memakai kacamata sangat tidak enak, beruntung waktu itu saya tidak jatuh.

Tetapi saya juga ingat, enam jam pertama setelah saya memakai kacamata dan akhirnya memiliki waktu senggang itu rasanya sungguh menyenangkan. Rasanya seperti bermain gim simulasi dan menemukan banyak item baru yang membuat semuanya seperti pengalaman baru. Semuanya menjadi lebih jelas. Lebih jernih. Lebih nyata. Seperti yang terbiasa menonton kualitas 3gp lalu pindah menonton bluray. Segar.

Saya ingat ketika otak saya sudah terbiasa dengan kacamata dan ketika saya memiliki kesempatan untuk melihat area terbuka hijau sebuah taman dan pohon-pohon, saya tidak hentinya berkali-kali mendongkak dan mulut saya ternganga lebar karena kagum.

Pohon-pohon yang saya lihat warnanya sangat hijau, hijau yang benar-benar hijau.

Langit yang saya lihat hari itu juga sangat biru. Biru cerah tanpa awan sama sekali. Sangat bersih dan birunya membuat dada saya menghangat.

Saya ingat bahwa yang pertama kali saya lakukan ketika mata saya mulai terbiasa adalah, saya mulai membaca banyak tulisan yang saya temukan di jalanan.

DIJUAL CEPAT TANPA PERANTARA. Terima Inject Pulsa, Agen Cabang Buncit Indah. Belok Kiri Langsung. Halte Pengumpan Bus TransJakarta. Tripta Agro, Supplier Alat Perkebunan. Pasar Minggu M36 Jagakarsa. SABANA FRIED CHICKEN. SOTO KHAS BOGOR BU MAH. Fakultas Pertanian Lt. 4.

Rasanya menyenangkan seperti ketika pertama kali bisa belajar membaca. Saya jadi terkagum karena bisa membaca tulisan kecil di seberang jalan. Saya berkali-kali kagum sendiri karena jadi menyadari detail-detail kecil yang dulunya tidak saya sadari. Mulut saya tidak hentinya mengeja, membaca lalu ber-waaaaa sendiri lalu bersemangat dan girang.

Dulu sebelum pakai kacamata, jarak pandang saya benar-benar terbatas. Tidak pernah bisa membaca dan melihat papan reklame di setiap jalan, tidak pernah bisa membaca tulisan di badan angkot atau kereta. Bisa dibilang ketika saya belum pakai kacamata dulu, saya sangat ramah pada orang di tempat umum karena selalu bertanya perihal kendaraan umum yang ingin saya naiki.

Hal yang paling menarik tentu saja ketika saya sampai kampus untuk kuliah. Selama kuliah sebelumnya, begitu sampai kampus biasanya saya akan langsung ke masjid untuk salat dan setelah itu ke kelas. Sudah. Benar-benar mahasiswa kupu-kupu. Saya selalu mencoba menghindari interaksi, rasanya malas.

Dulu ada beberapa teman sekelas saya yang menjuluki saya sombong. Katanya saya pernah beberapa kali disapa kalau bertemu di masjid atau di selasar kampus tapi saya tidak pernah menengok. Sebenarnya saya bahkan tidak sadar kalau saya disapa, saya tidak bisa mengenali dan melihat mereka sama sekali. Kadang kalau mendengar dan sadar kalau disapa pun paling hanya interaksi ”haiiii”’ begitu kemudian blas buru-buru berjalan pergi dengan alasan sibuk sambil sibuk bertanya sendiri ”yang tadi itu siapa ya?” Bukan karena tidak kenal, tapi tidak terlihat.

Tapi setelah memakai kacamata, saya akhirnya menjadi sedikit lebih ramah. Saya mulai berani duduk-duduk di selasar ketika baru tiba di kampus. Duduk di selasar kampus bagian tengah area paling ramai agar saya bisa melihat banyak mahasiswa yang bergantian datang dan pergi. Ini salah satu aktivitas favorit saya beberapa hari terakhir ini, melihat kesibukan mahasiwa reguler dan karyawan yang saling bergantian. Saya senang karena bisa melihat mereka dengan lebih jelas. Bisa mengenali teman-teman saya yang baru datang juga sehingga bisa menyapa mereka dan akhirnya memutuskan untuk bersama pergi ke masjid.

Setelah pakai kacamata juga, saya akhirnya bisa melihat dengan jelas wajah-wajah teman saya. Ternyata si A memiliki tahi lalat yang sangat kecil di dekat hidung sebelah kirinya. Ujung rambut Z sangat bercabang dan kasar, ada banyak uban-uban kecil juga yang sudah mulai tumbuh. Sejak bisa melihatnya dan tiap saya memiliki kesempatan duduk di belakangnya, rasanya saya ingin mencabutinya hhh. Saya juga baru menyadari bahwa ada bekas luka yang menghitam yang lumayan terlihat jelas di mata kaki T kalau ia sedang tidak memakai kaus kaki panjang setiap hari Kamis.

Saya akhirnya juga bisa melihat dengan jelas wajah beberapa kenalan pria yang saya taksir. Mendadak semuanya menjadi lucu, yang lofli semakin sungguh lofli, yang jele’ juga semakin terlihat jele’. Kebiasaan baru yang terakhir ini sebenarnya agak menganggu sih. Kalau dulu saya sering menghindari untuk membuat kontak mata dengan orang lain karena rasanya buram, sekarang saya malah suka melihat, memperpanjang dan membuat kontak mata dengan orang lain untuk melihat dengan jelas wajah mereka: menghitung jumlah tahi lalat di wajah, melihat kerutan kecil di sekitar bibir yang muncul ketika tersenyum, bola mata yang ternyata berwarna coklat yang begitu jernih dan membuat saya selalu melongo karena terlalu indah, juga rona merah alami yang keluar dari pipi ketika ia tersenyum.

Rasanya indah sekali.

Tiba-tiba saja saya jadi ingin kembali ke beberapa tahun yang lalu saat memiliki kesempatan pergi ke Ranu Kumbolo dan melihat matahari terbenam dan membuat langit berwarna pink dan ratusan bintang yang muncul di malam harinya. Dengan pandangan yang sudah kabur, tapi saya tetap merasa bahwa hari itu sangat indah. Saya tiba-tiba jadi ingin mengulang lagi hari itu dan melihat lagi memakai kacamata, agar lebih jelas. Pasti rasanya menyenangkan.

Eh, atau mungkin malah tidak?

Sebenarnya saya sudah merasa memiliki masalah pada mata sejak SD, sekitar 16 tahun yang lalu. Tapi saya tidak diberi kesempatan untuk periksa mata oleh ibu. Ibu dan pakde saya dulu pernah ditolak melamar suatu perkerjaan karena mereka memakai kacamata. Karena hal itulah ibu mewanti agar jangan sampai anak ibu yang memakai kacamata. Tapi ya memang dasarnya sudah keturunan ditambah gaya hidup yang suka membaca sambil tidur dengan penerangan seadanya, mata saya makin rusak.

Sejauh ini sih hanya masalah di terbatas jarak pandang saja. Tapi saya pernah beberapa kali hampir ketabrak motor dan truk besar juga sangat sering kesandung dan jatuh. Pokoknya dulu ibu tidak pernah mau kalau saya minta periksa ke dokter mata. Tidak pernah ada program periksa mata gratis juga di sekitar saya. Karena sekarang sudah punya penghasilan sendiri saja akhirnya saya memutuskan periksa. Dan ya hasilnya sudah bisa ditebak, sampai sekarang ibu masih suka bilang,

”pakai kacamatanya kalau di kelas pas kuliah aja kak. Jangan keseringan pakai kacamata”

Padahal kalau tidak pakai saya justru malah pusing hhh. Ibu masih sulit menerima kalau saya akhirnya pakai kacamata. Masih takut kalau suatu hari nanti saya sulit mendapat pekerjaan karena hal ini.

***

Sudah seminggu saya memakai kacamata. Mual dan mulas serta pusing sudah jarang datang. Paling kalau naik dan turun tangga dengan terburu atau berlarian saja rasa mualnya baru terasa sedikit tapi bisa diakali dengan melepas kacamata.

Saya sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan baik. Mulai rajin membawa kain khusus membersihkan kacamata juga kalau memiliki bekas embun atau kotoran. Dulu saya sering meledek teman saya yang memakai kacamata tiap makan makanan berkuah dan masih panas lalu menyebabkan kacamatanya berembun. Sekarang saya merasakan hal itu juga dan kadang jadi suka tertawa sendiri.

Yang paling menarik tentu saja bagian jadi bisa mengamati orang di sekitar lebih jelas. Kadang rasanya masih suka aneh sih, seperti ada yang mengganjal di hidung. Tapi saya yakin lama-lama pasti akan terbiasa.

Kalau habis melihat hal yang indah, kadang saya suka berpikir kenapa tidak sejak dulu saja pakai kacamatanya hhhh. Tapi tidak ding. Saya rasa, memakai kacamata di usia saya yang sekarang sudah sangat tepat. Hal-hal indah yang ada di masa lalu, biarlah tetap terekam dengan gambar-gambar buram 3gp di kenangan saya. Sekarang saatnya membuat gambar kenangan baru dengan kualitas bluray.

Oiya, waktu tiga hari pertama pakai kacamata, entah kenapa saya ingat video yang pernah saya temukan di youtube dulu. Kira-kira, begini yang saya rasakan tiap berjalan menembus kerumunan atau saat di tempat ramai.

Bersyukur sekali saya masih diberi kesempatan untuk bisa melihat.

Dunia ini ternyata indah sekali.

Advertisements

Leave a Reply