Membayar (untuk) Ego

TERASA sangat menyenangkan, buaian ego berhasil menaklukkan hampir semua orang. Sensasi yang disuguhkannya hampir mirip candu; membuat kita selalu ingin merasakannya lagi, dan lagi, dan bahkan lebih lagi.

Seperti yang sempat ditulis beberapa pekan lalu, ego selalu lapar agar bisa menjadi besar. Ia butuh asupan secara konsisten, dan dengan rakus melahap apa yang ada di hadapannya.

“Makanan” bagi ego adalah segala hal yang membuat kita merasa penting dan signifikan secara positif. Sesuatu yang bisa bikin bangga, atau gembira. Oleh sebab itu, permintaan terhadap pemenuhannya pun selalu tinggi. Uang menjadi sesuatu yang sangat penting, demi kebutuhan-kebutuhan pembuai ego.

Berikut beberapa di antaranya, dan ini bukan perkara benar atau salah.

  1. Ego Trip

Sudah gamblang dari nama program yang ditawarkannya. Paket perjalanan ini bukan sekadar untuk berwisata, titik beratnya justru pada foto-foto yang dijanjikan ada di akhir kegiatan.

Berlatar belakang panorama dan pemandangan yang indah, atau objek monumental dengan komposisi fotografis, para pembeli paket bisa mendapatkan sekurang-kurangnya belasan foto Instagram materials. Tujuannya tentu agar layar Instagram terlihat lebih kece dan dikagumi orang lain. Dihujani likes dan komentar pujian, untuk kemudian bikin mereka kepingin juga.

Efek sampingnya, tidak sedikit peserta paket wisata yang malah menyembunyikan informasi tentang program ini. Biar ekslusif dan tidak pasaran. Dalihnya.

 

  1. Fotografer Pribadi

Asalinya, fotografi bertujuan untuk mengabadikan sesuatu. Menghasilkan penanda dan pengingat visual yang tak lekang zaman. Fungsinya bergeser seiring waktu, menjadi penghasil cenderamata yang menampilkan keindahan objek di dalam gambar, termasuk para manusia.

Berbeda dengan pejabat publik, yang demi keterbukaan dan transparansi dituntut dapat terpantau khalayak, makin banyak orang memerlukan fotografer demi rasa senang dan pembesaran ego. Bukan lagi untuk menghasilkan kenang-kenangan sebagai tujuan utamanya.

Fotografi pranikah, menghasilkan foto-foto pelengkap dekorasi lokasi pesta—mungkin itu sebabnya tidak ada foto post-wedding, atau juga membuat pasangan mempelai merasakan sensasi bak fotomodel. Begitu pula dengan fotografi kehamilan, yang tetap saja terfokus pada penampilan sang calon ibu dengan perutnya yang sudah membesar sedemikian rupa. Terkadang juga didampingi sang suami. Sekali lagi, ini tidak salah. Setiap orang berhak difoto dalam kondisi apa saja. Misalnya, satu paket. Pre-wedding, saat pemberkatan pernikahan, saat resepsi, saat malam pertama, fotografi kehamilan, saat melahirkan, dan seterusnya. Bebas.

  1. Jual Followers dan Likes Instagram

Entah, apakah ini menjadi latar belakang penggunaan sebutan follower di ranah media sosial, atau kebetulan belaka. Pastinya, istilah follower atau pengikut punya dampak khayali yang cukup kuat sebagai efek sampingnya.

Sejak awal, sudah banyak pengguna media sosial yang terjebak ilusi merasa signifikan dan penting melalui angka pengikut. Tanpa sadar telah keliru, mereka menganggap para pengikut tersebut adalah penggemar, orang-orang yang sebegitu sukanya dengan pemikiran dan tingkah laku digital mereka.

Tak heran gelombang “folbek dong…” mustahil surut, dan banyak yang menganggapnya serius. Tidak followback di media sosial bisa memengaruhi pertemanan di dunia nyata. Sekali lagi, ini menunjukkan betapa membuai sekaligus menipunya angan-angan tentang jumlah pengikut dan kesan signifikan.

Kebutuhan akan angka pengikut ini pun ditangkap sebagai peluang bagi sekelompok orang. Mereka beternak akun yang siap menjadi followers konsumen. Harganya pun jauh dari mahal, bisa dimulai dengan seharga segelas teh susu ala Taiwan untuk penambahan seratus pengikut.

Efek dominonya, tren ini ditangkap sebagai gejala baru pemasaran digital, dan landasan penambahan fitur platform media sosial itu sendiri. Para pemilik akun media sosial berpengikut banyak digelari Selebgram, Selebtwit, sekaligus Influencer—para pemengaruh publik. Mereka memasang tarif iklan, pengiklan pun mengalokasikan bujet bagi mereka. Maka, jangan heran mengapa Awkarin menjual akun kepada … dirinya sendiri. Suka-suka dialah. Toh, tetap banyak juga followers-nya.

 

  1. Penyedia Penonton Bayaran

Khusus yang satu ini, tidak semata-mata untuk membesarkan ego penggunanya. Dalam beberapa kasus, penonton bayaran dihadirkan supaya memeriahkan suasana dan studio, sekalian agar tampak cantik di foto dan hasil siaran.

Di luar itu, kehadiran penonton bayaran tentu diperlukan penyelenggara guna mendapatkan suasana ramai bagi bos atau atasannya. Terserah apa sebutannya, penonton bayaran seringkali dikenal juga sebagai fans atau anggota komunitas pengguna merek tertentu. Praktik ini biasanya terlihat saat acara peluncuran apa pun.

  1. Pengajar Kursus Seni Sekaligus Juri

Kerap dilakukan para orang tua muda kepada anak-anaknya, umumnya dengan alasan yang mudah dibelokkan. Di satu sisi, mereka mengaku ingin memberikan pendidikan keahlian terbaik bagi putra putri mereka. Di sisi lain, mereka sendiri yang sebenarnya haus rasa bangga dan keinginan memamerkan anak-anak mereka dibanding orang lain.

Diikutkan kursus menggambar dan mewarnai, lalu memenangkan lombanya. Begitupun pada kursus musik, modeling, dan sebagainya. Apakah mereka pernah bertanya atau berusaha mencari tahu apa bidang yang sungguh-sungguh diminati oleh anak-anak mereka, sebelum menjejalinya dengan agenda yang padat?

Ada juga kasusnya, kala si anak memiliki bakat di bidang lain, tetapi dikelabui dan agak dipaksa mengikuti kursus tarik suara. Tanpa ia sadari sama sekali, suaranya sumbang. Sang pengajar, atas dorongan si orang tua, terpaksa memuji dan membesarkan hati si anak. Waktu terus berjalan, sampai akhirnya si anak terhenyak dan sadar bahwa suaranya tidak sebagus yang ia kira, lewat ejekan orang. Kasihan, kan?

  1. Jasa Titip Pre-order

Bagi sebagian orang, ada kebanggaan tersendiri menjadi pemilik pertama sejumlah barang yang tidak atau belum beredar di negara atau kota sendiri. Kendati uang yang harus dikeluarkan 30-40 persen lebih tinggi dibanding banderol aslinya, mereka terkesan tidak peduli. Pokoknya harus jadi yang awal.

Sementara, tidak ada jaminan dia bakal puas dan bertahan dengan barang yang dibelinya tersebut untuk waktu lama. Termasuk di daerah (luar pulau Jawa), ketika teknologi baru sekadar dilihat dari sisi gengsi. Namun, saat produknya datang dan siap digunakan, si empunya malah kebingungan.

Beda cerita kalau yang bersangkutan membeli untuk memanfaatkan momen ekonomi, dan melihat kesempatan menjualnya pada harga lebih tinggi di kemudian hari. Itu namanya investasi.

Apple Store queue.

Foto: Business Insider

  1. Personal Trainer

Pembesaran ego bisa terjadi lewat banyak hal. Termasuk anggapan atau merasa memiliki kondisi fisik yang bagus. Demi tujuan yang satu ini, tak ayal banyak pusat kebugaran yang kebanjiran pelanggan baru. Baik yang paham dan tahu apa yang mereka inginkan, maupun yang sekadar ingin merasa sudah berolahraga, selanjutnya bisa memiliki bentuk tubuh yang rupawan.

Untuk yang satu ini, pelatih pribadi bertugas mengajari, mengawasi, memastikan semua aspek bagi kliennya. Jasanya dibayar oleh klien dengan beragam pemikiran dan pertimbangan. Ada pelanggan yang siap dikerasi, ada pula yang justru gampang tersinggung manakala dikerasi sedikit saja. Risikonya, minta ganti pelatih atau bahkan pindah gym.

Sebagai personal trainer, apa yang mesti dilakukan?

  1. Concierge

Pada dasarnya, profesi ini terbentuk sebagai wujud pelayanan tertinggi dan berkelas bagi kalangan atas. Singkat kata, apa pun yang diinginkan pasti bisa diatur dan disediakan oleh mereka. Seekstrem, sesulit, seekslusif apa pun permintaan yang disampaikan pelanggannya.

Sejauh ini—setidaknya dari informasi dan gambaran yang didapatkan—permintaan dan pelayanan terkait concierge lekat dengan kesan elegan. Bukan norak. Konsumennya pun bukan orang yang kagetan, setidaknya. Hanya saja, tingkat keruwetannya berubah drastis terhadap riche nouveau, alias Orang Kaya Baru (OKB). Turis-turis Tiongkok, contohnya.

Concierge adalah yang membantu, bukan pembantu, terlebih babu. Idealnya dianggap seperti itu.

Concierge bell.

Foto: growthinvestingresearch.com

Orang-orang kita pun bisa mengarah ke sana. Ditandai celetukan: “Ya biarin aja. Kan kita bayar juga…” Merasa penting karena sebagai pemilik uang, dan pembayar jasa layanan.

[]

Advertisements

Leave a Reply