Telpon Ibuku

20180919192251.159-2127057299

Beberapa hari yang lalu ibuku menelpon. Tentu saja lewat audio call milik Whatsapp. Intinya ibuku cerita jika ayahku penglihatannya mulai berkurang. Setelah diperiksa ke dokter mata ayahku harus lakukan operasi katarak. Itulah sebabnya ibuku menelpon. “Ayahmu takut. Katanya ada beberapa temannya  yang lensanya ndak pas sehingga usai operasi untuk melihat pun rasanya masih berkabut“. Aku baru tahu kalau setelah operasi mata ayah harus dipasangi lensa. “Kalau BPJS lensanya mungkin kurang bagus, jadi teman-teman ayah seperti itu“, lanjut ibuku. Sembari mendengarkan cerita ibu, aku berusaha mengingat-ingat berapa saldo tabunganku . Harusnya aku bertanya pada istriku, karena dia pasti hapal sisa tabungan kami. Karena aku ragu, maka aku mengurungkan niat untuk menawarkan ayah untuk operasi di Jakarta saja. Ini bukan soal lensa, atau BPJS, aku percaya ini soal keterampilan dokternya. Sayangnya untuk saat ini untuk ongkos ke jakarta, biaya dokter dan berobat jalannya aku ndak punya. Mungkin bukan tak punya. Ini soal ndak pasti saja. “Mas, masih dengerin Ibu ndak? Halo? Halo?“. “Iya bu“. Walau sebetulnya aku ndak tahu bicara apa pada beberapa kalimat terakhir yang Ibu ucapkan. “Nah, sekarang ibu mau cerita soal ibu sendiri. Akhir-akhir ini di bagian belakang betis ibu suka nyeri kenapa ya. Nyut-nyut-nyut begitu Mas. Ibu bingung mau ke dokter mana untuk periksa. Mau tanya pamanmu, dia dokter THT. Akhirnya Ibu datang ke Mbak Lely, itu lho anak Bu Edah, yang rumahnya dekat sekolahan kamu dulu.”. Kali ini aku berusaha konsentrasi dan ndak memikirkan soal berapa tabunganku. Ini soal Ibu, tanpa tabungan pun aku harus menanggapinya serius dan segera. “Nah waktu diperiksa, betis Ibu seperti kulit jeruk. Jendol di sana dan disini. Kata Mbak Lely ini lemak. Wah Ibu ndak percaya, kok lemak di betis. Bukan di pinggul, perut, atau bagian mana begitu yang biasanya jadi gudang lemak. Ibu kalau mau segera hilang nyerinya ditawari sedot lemak, Mas. Liposaksyen.“. Aku masih mendengarkan sembari mengingat-ingat bagaimana bentuk betis ibuku. Pasti ndak seindah Ken Dedes, Drupadi atau Heidi Klum. Tapi kenapa harus sedot lemak? “Mas, tapi Ibu ndak mau. Kata teman-teman pengajian Ibu juga sedot lemak itu bagian dari operasi plastik. Itu dosa. Ibu tahu. Makanya Ibu sekarang  sering minum lemon hangat“. “Buat apa Bu?”, tanyaku. “Lemon itu asam. Lemak nanti kan ikut larut.“, jawab ibuku penuh optimis. Saat hendak mengomentari soal kisah lemak, sedot lemak dan dosa ini, ibu kembali bicara. “Oh iya, bagaimana kabar anak-anakmu Mas? Ibu kangen. Kalau sudah selesai ujian, nanti kirim saja ke sini. Naik kereta saja. Sampai di Stasiun Cirebon, Ibu akan suruh Masmu untuk jemput. Gimana?”. Aku selalu berpikir apakah ini efek dari ndak bayar pulsa, sehingga ndak perlu menunggu waktu siaran Dunia Dalam Berita atau setelah subuh untuk menelpon anak-anaknya. Dan semua hal akan sempat dibicarakan tanpa resah dengan tagihan pulsa. “Bu, soal betis Ibu yang terasa sakit. Ibu rutinkan saja lagi berenangnya. Kan kemarin sudah dibelikan baju renang muslim. Dan bukannya di Ciperna setiap Selasa Jumat dibuka khusus untuk ibu-ibu saja? Nah mungkin dengan berenang betis Ibu membaik.” Ibuku agak hening sebentar. Apakah karena sebenarnya Ibuku ingin liposuction? Apakah ini kode keras supaya aku membayarinya biaya sedot lemak? Aku bingung dengan apa yang sebetulnya menjadi kemauan ibuku. “Ini sebetulnya mudah juga sih Mas. Kemarin Budhe Ita kirim serabi. Juga kemarinnya lagi kirim emping melinjo. Juga bawa bolu. Pokoknya kalau lagi ada pesanan apa, Ibu juga dikirimi. Ini mungkin yang bikin Ibu mudah gemuk.  Bikin lemak menumpuk. Nanti Ibu larang saja Mbakmu itu untuk kirim-kirim makanan. Ibu tahu katering buatannya enak. Tapi kalau dikirim terus, betis ibu jadi sakit. Ya sudah. Ibu mau sholat ashar dulu. Salam buat anak-anak dan Kiky. Oh ya, kamu laki-laki Mas. Sholatnya di masjid. Jangan lupa!

Advertisements

5 thoughts on “Telpon Ibuku

  1. Om Roy… Semoga Ibu Bapaknya sehat selalu ya. Kemudian saya yang baru kerja 4 tahun kepikiran, kalau kita ndak hidup sendirian. Masih ada adik-adik dan orang tua kita juga. Akan tiba saatnya mungkin orang tua kita telpon dan minta tolong untuk dibayarin dulu biaya berobatnya. Saya ndak kepikiran si masa-masa itu akan dateng, pasti rasanya sedih ya. Dulu waktu masih kecil, kita kalau sakit mereka yang biayain, kalau kita dirawat mereka yang biayain. Tapi akan tiba saatnya ketika mereka minta biayain kita ya? Ibu dan Bapak yang dulu gagah akan mulai sakit-sakitan karena dimakan usia.

    • ini kisah nyata. mungkin dua hari lalu bicara soal ini. ya sedikit berubah soal kalimatnya. tapi intinya gitu. 🙂 makasi uda baca

Leave a Reply