Qodar

Jika hari ini pun aku ndak nulis lagi buat linimasa, maka praktis hanya dua orang aja yang nulis bergantian tanpa jeda, Nopal dan Naga. Nah, karena itulah di pagi hari ini sembari menunggu si kecil berangkat sekolah dan sebelum kerja aku menyisihkan waktu lain untuk linimasa.

Kemarin, Nopal cerita soal bahwa “mengalami” tidak mungkin dirasakan semua dalam sekali hidup. Tapi bisa dirasakan lewat apa yang dikisahkan orang lain lewat berbagai media:bisa filem, novel, podcast, atau radio.

Aku coba memahami apa yang disampaikan atas apa yang dialami Nopal. Karena hidup memang pilihan untuk menempuh panggung mana yang kita pilih. Semacam karnaval, arena permainan mana yang akan kita ambil antrean dan naiki. Atau festival musik dengan banyak panggung, artis mana yang akan kita nantikan aksi panggungnya. Ndak semuanya kudu dan bisa kita saksikan.

Kalau para saintis bilang, dari 30 trilyun microba yang dikenali, masih trilyunan lainnya yang belum dikenali dan masih “asing”. Mereka menganggapnya sebagai “Dark Matter”. Sesuatu yang ada tapi sungguh Big Unknown. Lantas bagaimana mengenalinya? Beberapa peneliti melakukan berbagai percobaan termasuk membangun fasilitas laboratorium fisik khusus di bawah gunung. Kenapa? Untuk mengurangi distraksi atau gangguang ion kosmis. Mereka menyebutnya sebagai “Cosmic Silence”. Mereka (para sainstis) menganggap apa yang kita ketahui dan kita “yakini” tentang dunia ini dan seisinya hanya sebagian kecil dari apa “yang ada dan hadir” sesungguhnya.

Demikian juga apa yang kita jalani sehari-hari. Apa yang kita miliki tak ada artinya bagi ukuran skala ekonomi makro. Apa yang kita tempuh setiap hari, bisa jadi ndak spesial dan banyak orang lain melakukannya. Apa yang kita pilih sebagai pasangan hidup, bisa jadi tidak terlalu istimewa jika dibandingkan individu lain. Anak kita, bisa jadi bukan yang paling unggul dibanding kawan sepermainannya dalam hal akademis.

Tapi ketika bahasa yang digunakan adalah: Menjalani apa yang sudah hadir dan berupaya menjadikannya yang terbaik, maka serba kekurangan dan ketidaksempurnaan hidup kita menjadi sedikit memiliki makna.

Dengan segala keterbatasan waktu tersisa, kita merayakan setiap momen dengan diawali serba tanda tanya, walau dengan rencana, dan dilalui segera. Bisa jadi menjadi suka. Atau duka. Judul besarnya adalah merayakan hidup.

Tapi banyak hal-hal di luar kekuasaan kita yang menjadikan kita mengalami banyak hal di dunia ini. Bagi yang relijius, “Dark Matter” ini adalah kuasa tangan Sang Pencipta. Kehadiran Tuhan.  Bagi para ekonom, semacam the Invisible hand. Bagi kaum rasionalis, banyak variabel, faktor lain, baik yang dapat dikendalikan oleh kita sendiri maupun faktor eksternal yang menjadikan sesuatu tak dapat dihalang-halangi.


 

Lantas apa yang dapat diperbuat oleh kita dalam menikmati hidup? Boro-boro menikmati, Om. Ini masih berjuang hidup. Ciyan deh lu.

Running_KineticEnergy-58ac6fa53df78c345b601ef2

Ah. Coba sekali lagi, kamu audit diri sendiri beserta seluruh dan segala apa yang melekat dalam diri, hidup ini dan apa yang sudah dialami dan saat ini lalui.

Jangan-jangan kita akan malu sendiri jika yang selalu kita pikirkan adalah selalu serba kekurangan. Kurang follower, kurang penghasilan, kurang kurus, kurang mulus, kurang tokcer karirnya. Bisa jadi jika didalami, hal paling istimewa dari serba kekurangan adalah nilai sikap kita yang terus menerus berupaya menjadikan semuanya menjadi lebih baik. Ada sebuah nilai mulia dari “sikap nrimo” dengan ikhlas, dengan lapang dada, dengan penuh kesadaran bahwa kita menjadi manusia istimewa dengan terlebih dahulu kita sepakat adalah hanya manusia biasa yang tidak istimewa dan sama seperti lainnya. Yang membedakan adalah soal bagaimana kita menyikapi segala situasi yang ada secara bijaksana.  Menjadi istimewa ketika kita secara fair dan konsekuen menerima nasib yang ditakdirkan dengan suka cita dan tanpa patah semangat terus menjadikannya lebih baik.

Hari ini linimasa genap 4 tahun. Dia bukan bayi. Dia juga bukan benda mati. Meminjam jargon dalam lagu tema Asian Games di Jakarta kali ini, maka linimasa adalah semacam energi: sebut saja “Energy of Manusia”. Hanya sebagian kecil dari energi semesta jagad raya. Ndak terlalu istimewa. Tapi setidaknya, kita menyadari akan adanya energi itu, dan berupaya menyalurkan energi tersebut untuk hal-hal yang lucu, gemesin, dan enak-enak.

Hahaha!

Selamat ulang tahun linimasa. Semoga selalu hangat.

Roy

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Qodar

  1. selamat ulang tahun linimasa, terima kasih untuk tulisan tulisan yang tidak hanya membuat berpikir tapi juga merasa

  2. Semoga penulis² linimasa selalu sehat, selalu menebar inspirasi, kelucuan dan apa saja.

    Selamat ulang tahun ya..🎉🎂🎉

Leave a Reply