Thiel, Helena dan Filosofi Sudah Mati?

“Apa hakikat kenyataan? Dari mana segalanya berasal? Apakah alam semesta memerlukan pencipta? 

Kebanyakan kita tak menghabiskan waktu merenungkan segala pertanyaan itu, namun nyaris semua di antara kita pernah merenungkannya sekali-sekali.

Secara tradisional, semua yang tadi adalah pertanyaan filosofi, tapi filosofi sudah mati. Filosofi sudah tidak mengimbangi kemajuan terkini dalam sains terutama fisika.

– Grand Design – Stephen Hawking

Bagi Stephen (Hawking), para ilmuwan telah menjadi pemegang obor penemuan dalam perjalanan pencarian pengetahuan.

488710135_1280x720

Bagi saya pendapat Stephen tak mudah untuk didebat. Pada kenyataannya hingga saat ini makin banyak sosok Tony Stark dalam wujud nyata. Dalam upaya penyelamatan pesepakbola cilik di gua-gua pedalaman Thailand beberapa bulan lalu, kita diperlihatkan kembali sosok Elon Musk yang bahu membahu dengan para ahli susur gua terbaik dunia. Sebelumnya, konon katanya Osama Bin Laden pun persembunyiannya di sebuah kota di Afganistan diketemukan secara akurat oleh sekelompok anak “Palantir” asuhan Peter Thiel.

Anak muda dengan tingkat pencapaian inovasi dan kebetulan ternyata sungguh dapat dikomersilkan, menjadikannya sosok Tony Stark. Jenius dan kaya raya. Perpaduan lengkap semacam Nasionalis-Relijius ala #Join.

Lihat saja anak sekolahan semacam Larry Page dan Sergey Brin yang menciptakan Google. Atau kisah klasik Mark Zuckerberg dengan Facebook-nya. Kemudian Evan Spiegel dengan Snapchat-nya, atau bintang idola yang makin bersinar dan terus diperbincangkan: Vitalik Buterin, dengan proyek Ethereum-nya.

Bicara soal anak-anak muda “jelmaan Tony Stark”-ini, sejatinya tidak hanya didukung dengan intelejensi yang keren, joss, dan mumpuni, melainkan juga adanya keberuntungan pertemuan dengan sosok tertentu yang menjadikannya meroket.

Masih ingat bagaimana Zuckerberg dibimbing oleh Sean Parker, pendiri Napster? Atau bahkan pertemuan antara Larry dan Sergey yang membentuk Google. Jangan ditanya dengan pertemuan Elon Musk dan Peter Thiel, karena mereka sama-sama jebolan Paypal.

Yang menjadikan ekosistem keilmuwan tumbuh subur adalah minat anak muda dunia barat semakin kentara untuk mencintai bidang ilmu yang digelutinya. Dahulu para intelektual bidang sains cukup dengan menjual paten atau malah sibuk di ruang laboratorium. Sekarang, ilmuwan sains juga merangkap sebagai pengusaha. Mereka tak segan untuk mengkomersilkan karyanya kepada khalayak dan sekaligus mendirikan bidang usaha untuk nantinya dikembangkan terus-menerus.

Selain itu, konsep guru dan murid. Mentoring dan lain sebagainya terus berlangsung dengan terukur dan menimbulkan daya rangsang bagi generasi muda. Peter Thiel menyisihkan dananya untuk mendirikan The Thiel Foundation dan kemudian memberikan dana bantuan bagi anak muda di bawah usia 20 tahun yang memiliki minat dan bakat dalam bidang ilmu pasti, teknologi dan hal lain yang sekiranya merupakan lompatan baru bagi peradaban, bahkan untuk kemajuan jangka panjang masa depan. Bantuannya jelas: Selama dua tahun akan diberikan dana bagi anak yang “kebetulan” memang drop-out dari sekolah, untuk terus berkarya dan menyumbangkan pemikiran maupun karyanya yang berguna bagi (sekali lagi) peradaban.

Dalam 2 (dua) tahun lembaga ini akan  mendanai satu orang pilihannya (yang usianya di bawah 20 tahun atau lebih sedikit), drop-out dari sekolahnya, dengan dana sebesar 100.000 USD atau setara dengan kurang lebih 1,4 milyar rupiah.

Sebuah ekosistem yang cantik bukan?

Vitalik Buterin adalah contoh jebolan The Thiel Foundation. Dari wikipedia bisa diketahui beberapa penerima bantuan dari Thiel ini.

Notable recipients include:[9]

  • Adam Munich, an experimental physicist currently working to mobilize radiography.[10]
  • Boyan Slat, founder and CEO of The Ocean Cleanup[11].
  • Ben Yu, founder of Sprayable[12] and creator of Sprayable Energy[13] and Sprayable Sleep.[14]
  • Dale J. Stephens, founder of UnCollege, a social movement that aims to change the notion that going to college is the only path to success.[15]
  • Eden Full, founder of Roseicollis Technologies, and inventor of a solar panel tracking system called SunSaluter. After the completion of her two-year fellowship period, Full decided to return to Princeton University (where she had secured admission prior to becoming a Thiel Fellow) to pursue mechanical engineering.[16]
  • James Proud, founder of Hello and creator of Hello Sense, a personal sleep tracker.[17]
  • Ritesh Agarwal, founder and CEO of OYO Rooms, which raised $250 million in 2017.[18]
  • Taylor Wilson, the youngest person to produce nuclear fusion.[19]
  • Vitalik Buterin, co-creator of Ethereum.[20]
  • Austin Russell, founder of Luminar, a company that develops high performance LIDAR systems.
  • Thomas Sohmers, founder of REX Computing, a company which develops high performance, energy efficient computer processors.

 

Nah, hal yang lebih menarik lagi saat menyimak deretan nama saintis muda di atas, adalah saat saya iseng mengetahui lebih jauh mengenai masing-masing pencapaian mereka.

Taylor_Wilson_-_02 (1)

Taylor Wilson

Taylor Wilson, bukan kecil-kecil cabe rawit, melainkan kecil-kecil mainannya nuklir.  Lebih menarik lagi ketika saya dapati ia juga merupakan anggota dari Helena Group, sebuah kelompok non pemerintah yang kira-kira siapa dan ngapainnya sebagai berikut:

Helena, Helena GroupThe Helena Group, or The Helena Group Foundation is a global non-governmental organization and think-tank composed of prominent leaders from multiple generations of society.[1][2] Its membership includes senior military and political figuresFortune 500 executivesNobel Laureatesentertainment figures, leading scientiststechnology leaders and philanthropists.[3][4] Helena is structurally designed to produce initiatives that address global issues, which are devised and executed during frequent meetings between its members.[5][6][7]

Helena’s current members include Nicolas BerggruenBrian GrazerRt Hon. David MilibandBeth ComstockEvan SpiegelZoe SaldanaGen. Norton A. SchwartzMax TegmarkBassem YoussefTaylor WilsonChloe Grace MoretzSylvia EarleDynamoMyron ScholesAlaa MurabitGen. Stanley McChrystalSabrina Gonzalez PasterskiDeepak Chopra, and Yeonmi Park.[8][4]

 

Ternyata perkumpulan orang pintar semakin majemuk dan mulai keluar dari zona nyaman untuk lintas disiplin ilmu membicarakan isu-isu global.

Jika pada akhirnya kita mau mengakui bahwa apa yang sudah kita pikirkan, kita perbuat, adalah masih jauh dari nilai kebermanfaatan, maka kita mau ndak mau berani untuk menengok apa yang “mereka” kerjakan.

Bagi saya Indonesia itu ndak kalah pinter. Namun bagaikan pemain alat musik, masing masing asyik ngulik alatnya masing masing. Si A, yang jago gitar ya main gitar aja sendirian sampai maghrib. Si B yang piawai main piano terus aja sampai nangis berdarah-darah menyanyikan lagu sendu. Tapi tidak muncul keberanian untuk saling berkomunikasi dan menekan ego diri. Menunjuk salah satunya menjadi konduktor, dan sepakat emmainkan lagu dengan cara orkestra. Manajemen ilmu yang belum terlatih di negeri tercinta ini.

Para orang kaya membangun yayasan. Kemudian menjadi “patron” bagi para ilmuwan. Orang pandai saling berkomunikasi untuk membahas isu terkini. Para individu tetap mengemban misi dan ambis masing-masing menciptakan sesuatu yang bermakna bagi peradaban. syukur-syukur produknya laku dan menjadikannya kaya raya. Lalu ia akan memposisikan diri sebagai orang kaya yang filantropis. Begitu terus.

Sebuah majelis Ilmu sejati.

 

salam anget,

Roy

 

Advertisements

Leave a Reply