Rutinitas Itu Membunuh Makna

Secara total saya membantahnya! Iya, pakai tanda seru. Satu hal yang membunuh makna adalah “ketidaksadaran”.

Kalimat rutinitas membunuh makna, adalah kalimat yang manja. Keluar dari pengalihan dari ketidakberdayaan untuk selalu sadar atas apa yang dilakukan. Lebih fatal lagi karena makna justru sejatinya bukan “hasil” tapi ia adalah “sebuah usaha”.

Setiap hal dapat dimaknai. Rutinitas pun dapat dimaknai. Ketika rutinitas dilakukan dengan kesungguhan hati, dengan prinsip “mengerjakan lebih baik” dari sebelumnya, maka makna tak akan hilang barang sedikitpun. Bahkan rutinitas yang secara sadar dilakukan menambah jam terbang dan pada gilirannya apa yang dilakukan membuahkan hasil melebihi apa yang diduga.

David Beckham lebih sering melakukan latihan tendangan untuk memperoleh hasil yang memuaskan dalam karir sepakbolanya. Stephen Curry berlatih setiap hari soal men-dribble bola, menembaknya ke ring, melatih kelincahan kedua tangannya jauh lebih banyak dari pemain basket lainnya.

Beberapa orang tak setuju dengan tulisan Malcolm Gladwell dalam Outliers tentang the beatles yang telah lebih dari 10.000 jam manggung untuk menghantarkannya terkenal dan mempertajam ide lagu.

Akan tetapi belum ada yang membantah prinsip Kaizen Jepang yang memaknainya sebagai tak ada yang terbaik melainkan hanya ada “menjadi dan melakukan lebih baik”. Inilah yang diyakini Jiro, pembuat sushi paling hakiki di Jepang dengan “3 bintang michelin” yang setiap hari meracik dan menyajikan sendiri sushi terbaik buatannya di restoran miliknya yang terletak di bawah stasiun Tokyo. Untuk 20 buah sushi beragam jenis, minimal ia menghargainya dengan bandrol paket seharga Rp4,2juta.

Rutinitas yang membunuh makna bisa saja diklaim, tapi sebatas hanya dan jika dilekatkan para seniman. Karena para seniman yang merasa dan bisa jadi betulan kreatif itu sebagian besar beranggapan dan meyakini kreatifitas bukan dipertajam dari latihan, melainkan jiwa, bakat, inspirasi dan ide yang muncul tanpa diduga.

Oleh karenanya seniman lebih banyak akhirnya membuat tubuhnya jadi benda sendiri itu sendiri. Tato disana-sini, penampilan harus beda, anting di semua pinggiran telinga, atau gaya bicara yang sulit dimengerti orang awam.

Satu hal lagi yang terlupa.

Makna adalah sebuah azasi setiap insan yang sungguh privat. Memaknai adalah sebuah kegiatan yang begitu subyektif dan tak bisa diganggu gugat oleh orang lain. Sehingga dengan tuduhan bahwa rutinitas membunuh makna, adalah sebuah klaim yang sungguh subyektif karena dirinya yang meyakini itu mengidap hal demikian. Rutinitasnya membuat dirinya kehilangan makna. Tapi bagi orang lain yang melakukan hal yang sama, belum tentu.

Rutinitas khusus yang diklaim oleh orang tertentu adalah perkara rutinitas menulis. Baginya menulis adalah sebuah kreativitas. Sebuah penilaian sekaligus penghargaan yang patut diapresiasi. Tapi bagi sebagian yang lain menulis bisa jadi adalah sebuah terapi. Sebagian lain adalah sebuah proses berbagi. Sebagian lain menulis adalah sebuah kewajiban kerja. Sebuah etos kerja.

Menulis akan indah jika disertai renjana. Saya sepakat. Menulis dengan penuh hasrat menjadikannya tulisan lebih hidup. Perasaan dan pemikirannya menjelma deretan huruf. Lalu menjadi rangkaian kata-kata yang menggugah selera.

Tapi adakalanya menulis bukanlah sebuah kegiatan menjahit adibusana. Menulis bisa jadi adalah proses membuat seragam sekolah. Membuat baju kerja. Menjahit kerudung. Merangkai kain perca menjadi keset. Menjahit emblem seragam pramuka.

Lalu apakah rutinitas selalu identik dengan kerja teratur ciri khas industri, yang menjadikannya rangkaian kalimat hasil pabrikan? Sebuah dugaan yang tipis dan begitu ringkih. Apakah ketikannya menjadi semacam mesin pemintal? Tentu saja tidak.

Saya tidak yakin benar GM akan rela dirinya yang setiap minggu menyisihkan waktu menulis catatan pinggir adalah bagian dari industri. Saya tak yakin benar apakah kolumnis surat kabar yang rutin menulis adalah bagian dari kerja pabrik.

Makna justru dikerjakan dalam proses kreatif menulis itu sendiri. Bukan memaknai kegiatan menulisnya. Namun memaknai apa yang dipikirkannya. Apa yang dialaminya. Atau bahkan memaknai apapun yang sama sekali sedang tidak dikerjakannya.

Rutinitas dapat membunuh makna?

Masih bisa dibantah.

Namun, rutinitas tidak melakukan sesuatu apakah dapat dikatakan sudah pasti tak memberi makna apa-apa merupakan sesuatu yang dapat disanggah?

Selamat pagi, Glenn. Apa kabarmu hari ini?

salam anget,

roy

Advertisements

Leave a Reply