Sepakbola Dan Political Correctness

Kemarin adalah terakhir kita melihat event empat tahunan Piala Dunia di Rusia. Sepakbola walau bagaimanapun adalah olahraga paling populer di seluruh dunia. Penggemarnya banyak. Kita sudah mempunyai pemenangnya, Prancis. Untuk kali kedua mereka menjadi Juara Dunia. Pertama kali, 20 tahun lalu, Didier Deschamps yang menjadi kapten memenangi kejuaraan ini. Kali ini bertindak sebagai pelatih, Deschamps memenangi kembali kejuaraan ini. Deschamps adalah legenda. Karena hanya ada dua orang sebelumnya yang bisa memenangi kejuaraan ini sebagai pelatih dan pemain. Franz Beckenbauer dari Jerman dan Mario Zagallo dari Brasil. Sekarang tambah orang Prancis. Tidak sembarang orang bisa masuk kategori ini.

Maker:0x4c,Date:2017-12-12,Ver:4,Lens:Kan03,Act:Lar01,E-Y

Tapi ada satu yang mengganjal dari Piala Dunia kali ini. VAR, yang kependekan dari Virtual Assistant Referee, ini mulai diperkenalkan pertama kali, setelah sebelumnya Liga Italia dan Amerika Serikat sudah mulai menggunakan teknologi ini. VAR ini dipergunakan untuk meminimalisasi kesalahan yang dilakukan oleh wasit di lapangan. VAR terdiri dari beberapa asisten wasit yang berada di dalam ruangan yang mengamati pertandingan melalui beberapa monitor TV. VAR bisa memberi rujukan ke wasit di lapangan jika terjadi pelanggaran yang berpotensi kartu merah atau penalti. Di sini masalah timbul. VAR belum bekerja maksimal. Mungkin VAR sudah berhasil mengurangi kesalahan yang di buat oleh wasit. Tapi ada yang lebih penting, VAR dianggap membunuh permainan sepakbola itu sendiri. Karena prosesnya yang relatif lama itu bisa membunuh tempo permainan. Sepakbola yang di mainkan 2 x 45 menit adalah permainan strategi dan tidak mengenal kata time out. Tempo permainan bisa berhenti seketika ketika proses VAR berjalan. Ini artinya permainan kembali ke nol. Serangan yang sudah dibangun tiba-tiba bisa hancur seketika. Ini pun dirasakan oleh penonton yang ketika VAR diberlakukan. Saya menyebutnya dijitalisasi emosi. Mengambil emosi dengan alasan tidak perlu. Tidak organik. Untuk gampangnya bayangkan jika anda sedang menonton film yang sedang tegang-tegangnya lalu tiba-tiba ada iklan di televisi. Ngedrop kan. Lalu film mulai lagi. Tapi kita sudah memiliki emosi yang berbeda. Itu kenapa nonton film itu lebih enak di bioskop. Nyaris tidak ada gangguan. Kecuali kalo ada yang maen hape atau nendang-nendang kursi. Nah ini yang membedakan sepakbola dan bola basket yang terdiri dari 4 babak dan permainan bisa berhenti sesuka hati. Hitungan detik bisa menjadi poin tapi tempo tetap terjaga. Tapi tidak begitu dengan sepakbola.

VAR

Ini kenapa FA, PSSI-nya Liga Inggris musim ini pun menolak penggunaan VAR ini karena bukannya mengurangi masalah tapi malah menambah masalah baru. Kita lihat di ajang Piala Dunia ini. Di babak 16 besar sangat sedikit sekali VAR campur tangan dan hasilnya kita mendapatkan permainan yang enak ditonton. Mengalir sampai jauuh.. dan di final dan kita menemukan lagi VAR beraksi di babak pertama. Di sini kontroversi mulai. Kedudukan ketika itu 1-1 dan VAR menunjukan ada handsball oleh Perisic, pemain Kroasia. Wasit membutuhkan waktu lama untuk memutuskan. Dia sempat balik lagi ke layar VAR untuk meyakinkan keputusannya dan terjadilah penalti. Perancis menang 2-1 di babak pertama. Banyak pundit yang mempertanyakan keputusan ini. Wasit pun nampak tidak yakin dengan keputusannya. Tidak penalti pun tidak apa-apa. Tidak ada pemain Prancis di sekitar Perisic yang bisa membahayakan dan berakibat gol. Jika wasit memang tidak begitu yakin dengan VAR lalu buat ada VAR. Jika dibiarkan VAR itu akan menjadi norma dan ini berbahaya.

VAR ini buat saya semacam political correctness yang masuk ke ranah sepakbola. Maksudnya tentu baik agar sepakbola berjalan dengan adil dan lancar. Tapi yang terjadi adalah kebalikannya dan banyak yang menganggap VAR ini bisa merusak jiwa sepakbola. Kita memang hidup di abad 21 di mana semuanya menggunakan sentuhan teknologi. Tetapi bukan berarti semuanya harus menggunakan teknologi. Digital Line Technology itu tepat digunakan di sepakbola untuk melihat apakah bola masuk atau tidak ke gawang. Rugby sudah lama menggunakan VAR dan banyak keluhan yang datang kalau rugby sudah tidak menarik lagi. Saya tidak mengikuti MLS ataupun Liga Italia tapi saya memilih wasit yang tidak sempurna daripada teknologi yang malah membuat rumit seperti saya lebih memilih customer service yang improvisasi kata-kata daripada mereka yang kaku dengan protokol membuat saya seperti bicara dengan robot.

PC1

Political correctness itu gampangnya polisi bahasa atau polisi pikiran. Ada sekelompok orang yang mengatur bagaimana sebaiknya bersosialisasi dan berbahasa yang baik tentu saja dengan tujuan yang luhur atas nama minoritas atau mereka yang tertindas. Mereka itu musuh dari free-speech. Tetapi banyak penggemarnya karena bersembunyi dalam balutan kebaikan dan belas kasih.  Saya pernah bahas di sini sedikit. Dalam sepakbola itu masih dugaan saja jika VAR adalah bagian dari political correctness. Tapi gejala ke sana sudah saya rasakan walaupun hanya melalui riset kecil-kecilan.

Minggu depan ya saya lanjut.

Advertisements

One thought on “Sepakbola Dan Political Correctness

  1. dibahas juga mas, itu Griezmann “diving” atau nggak sih, sehingga adanya tendangan bebas berujung gol itu, sekalian juga dibahas “Pussy Riot” yang masuk ke lapangan … masih belum bisa move on ini … 😅

Leave a Reply