Kesempatan Kedua

Ketika hal yang kita idamkan ternyata tidak didapat ketika pertama kali mencoba, apakah akan selalu ada kesempatan kedua?

Terkadang ada kekurangannya jadi ibu dari satu anak, jadi sungguh lugu dalam membuat game plan soal seleksi masuk sekolah. Karena ketidaktahuan (eufimisme dari kebodohan, dan tidak tahu bagaimana mengajukan pertanyaan yang benar), nyaris anak tak masuk sekolah negeri, hanya karena peraturan yang tidak familier.

Setelah tiga pilihan sekolah tidak masuk, saya mengira kesempatan sudah lewat, dan harus menunggu tahap berikutnya seperti mahasiswa. Ternyata masih ada kesempatan untuk merevisi pilihan sekolah, dan kami pun diberi kesempatan kedua.

Saya percaya kalau kesempatan kedua akan selalu datang, hanya saja kita mungkin perlu menunggu dan tidak selalu segera datang. Ketika datang kesempatan itu, apakah kita mau mengambilnya, atau jangan jangan kita sudah sibuk mengejar yang lain lagi?

Jika di kesempatan kedua we still messed up, do we deserve a third chance? Saya masih menunggunya.

Tapi jika kesempatan kedua datang di waktu yang tepat, dan kita ambil dengan niat untuk melakukan yang terbaik, walau jiwa sudah tidak selengkap kesempatan pertama, that’s the best thing that could happen to someone.

Congratulations, Roy Sayur.

Advertisements

Leave a Reply