Tiga Penutup Yang Membuat Pikiran Kita Tak Tertutup

Kita punya kecenderungan untuk mengingat hal-hal yang paling terakhir kita lihat. Termasuk, tentu saja, dalam urusan menonton film.

Salah satu pertanyaan paling lumrah yang sering kita terima saat kita bercerita kalau kita selesai menonton film adalah, “terakhirnya gimana?” Atau “ending-nya gimana?” Saya pribadi cenderung menjawab pertanyaan seperti ini dengan “nonton sendiri aja”, karena ingin si penanya juga merasakan sensasi yang sama seperti yang saya rasakan. Atau cukup dengan “ya gitu deh” untuk mengindikasikan bahwa film tersebut tidak saya rekomendasikan.

Namun ada kalanya akhir sebuah film membuat saya terkesima. Tertegun sampai terdiam. Lalu ada delayed reaction yang membuat saya, sering kali, tepuk tangan saking terpesonanya.
Ending atau adegan akhir seperti ini tidak sering muncul di film. Kalaupun ada, kemunculannya belum tentu setahun sekali. Saking jarangnya, bisa dibilang ending istimewa seperti ini adalah jenis movie magic yang langka.

Setelah menonton ratusan film produksi abad ke-21 sejauh ini, ada tiga film dengan adegan terakhir yang sangat berkesan buat saya. Kebetulan tiga-tiganya film dari benua Asia. Namun kesamaan ketiga film ini hanya berakhir sampai di situ.

Apakah bisa dibilang ketiganya mempunyai akhir yang bahagia, atau happy ending? Jawabannya ya dan tidak.
Apakah ketiga film ini mempunyai akhir yang tidak bahagia, atau sad ending?
Jawabannya ya dan tidak.
Apakah ketiga film ini diakhiri dengan adegan yang membuat kita berpikir, lalu tersenyum karena pada akhirnya happy ending atau sad ending itu tergantung pada bagaimana kita menginterpretasikan adegan-adegan tersebut?
Jawabannya sudah pasti “ya”.

Ketiga endings ini sangat saya sukai, karena mereka tidak menawarkan jawaban pasti. Oke, ada satu yang mengarah kepada sebuah kepastian, meskipun tidak definite. Namun semuanya membuat kita tersenyum bahagia, karena kita baru saja meyaksikan sebuah masterpiece yang layak ditonton.

Inilah ketiga film tersebut:

Mother (2009)
Sutradara: Bong Joon-ho

Di kalangan penggemar film dengan tingkat kegemaran yang serius, atau biasa disebut cinephile, nama sutradara asal Korea ini sudah tidak asing lagi. Namun entah kenapa, film ini jarang disebut sebagai “top 3 of his works”. Semuanya pasti ramai menyebut Oldboy atau Sympathy for a Vengeance. Padahal film Mother ini tidak kalah “keras” dengan kedua film tersebut. Malah cenderung sangat bad ass, karena kita tidak menyangka bahwa cinta seorang ibu yang melindungi anaknya bisa membuat kita sebagai penonton terhenyak dan terbelalak. Selama 129 menit kita disuguhi adegan dan gambar yang membuat kita tidak percaya bahwa seorang ibu bisa melakukan hal-hal yang rasanya tidak mungkin dilakukan oleh ibu rumah tangga biasa.
Makanya, melihat adegan terakhir di mana sang ibu menggerakkan badannya mengikuti alunan melodi musik di saat matahari baru mulai terbenam bisa membuat penonton jatuh hati, bernafas lega, meskipun tak perlu tahu nasib apa yang menanti sang ibu di kemudian hari.

Piku (2015)
Sutradara: Shoojit Sircar

Film ini sudah beberapa kali saya bahas di Linimasa maupun blog pribadi. Ya, film yang terkesan “bawel dan cerewet” ini mempunyai kebesaran hati yang luar biasa dalam menampilkan karakter-karakter utamanya yang terkesan sangat hidup. Deepika Padukone tak perlu mengubah penampilan fisiknya demi menjadi seorang perempuan pekerja kantoran kelas menengah yang hidup hanya untuk melayani ayahnya. Demikian pula dengan Irrfan Khan dan Amitabh Bachchan yang bermain “all out”.
Agak susah menerangkan kenapa adegan paling akhir dari film ini bisa sangat memorable tanpa tidak memberikan spoiler. Anda harus menonton film ini dari awal, karena adegan paling akhir, saat Deepika Padukone dan Irrfan Khan bermain badminton di halaman rumah, lalu pembantu rumah meminta ijin untuk masuk, menjadi pembungkus keseluruhan film yang, mau tidak mau, membuat kita tersenyum lebar dan lega. Salah satu a genuinely sweet ending yang sangat langka ada di film Hindi atau film-film berbahasa lain dari India.

Sang Penari (2011)
Sutradara: Ifa Isfansyah

Tanpa tedeng aling-aling, menurut saya inilah salah satu film Indonesia terbaik yang pernah diproduksi di negeri ini. Adegan demi adegan mengalir lancar. Kualitas produksi patut diacungi jempol. Penampilan hampir semua pemainnya, mulai dari para pemain utama sampai figuran, hadir dengan efektif. Lalu ditambah dengan adegan penutup yang sangat menggugah hati. Betapa tidak. Kelamnya masa-masa pasca 1965 yang membuat banyak orang tak bersalah menjadi tersiksa dan terlantar, malah dibuat menjadi hopeful saat Srintil menari di tengah sawah. Saat sempur selendang Srintil berwarna merah menghiasi layar kita, dengan senyuman khas seorang ronggeng yang tetap optimis meski termakan usia, kita pun ikut tersenyum dalam haru. You could not ask for a more perfect ending than this.

Ada ending film yang paling Anda sukai?

Advertisements

6 thoughts on “Tiga Penutup Yang Membuat Pikiran Kita Tak Tertutup

  1. Ending film yang kadang tiba-tiba terlintas di pikiran:
    – American Beauty
    – Closer
    – The Bling Ring
    – Gone Girl
    – cin(T)a

    Btw, film Mother yang kamu bahas ini GILAK (pake ‘k’) banget emang.

  2. Nobody Knows
    Adegan penguburan di dekat bandara, dengan lugunya dilakukan untuk membuat si adik selalu bisa lihat pesawat, sesuatu yg selalu dia sukai. Nyesek.

    Children of Heaven
    Kegundahan si kakak yang justru merasa menyesal karena juara 1 dalam lomba lari.

    The Wedding Banquet
    Gerakan tangan si bapak saat diperiksa di bandara, seolah-olah merepresentasikan bebannya yang dibiarkan lepas atas tanggung jawabnya kepada anak lelakinya

Leave a Reply