“Kalau Bisa Dibikin Mudah, Kenapa Cari yang Susah?”

KEMUDAHAN itu menyenangkan, bikin nyaman, dan tidak merepotkan. Sedangkan hal-hal yang susah itu menyulitkan, terasa membebani, dan bikin ruwet. Membuatnya cenderung ditolak dan dihindari. Makanya, sangat wajar bila kita menginginkan semua kemudahan dalam hidup. Tergambarkan lewat ungkapan populer sebagai judul di atas.

Sejak awal, manusia terus berusaha keras untuk membuat, menciptakan, dan mewujudkan kemudahan. Bermacam-macam bentuknya. Dari yang berupa benda, sampai yang mempergunakan sesama manusia menjadi objeknya.

Para penemu dan ilmuwan berhasil menciptakan terobosan, inovasi, dan teknologi untuk memudahkan kehidupan manusia. Sejak manusia pertama berhasil memahat batu dan menjadikannya senjata untuk memudahkan perburuan; penemuan cara membuat api dan mempertahankannya agar tetap menyala di malam hari agar mudah mendapatkan kehangatan, perlindungan dari cuaca dingin dan hewan buas; menemukan roda untuk mempermudah pergerakan; menemukan tulisan dan kertas; serta kemajuan-kemajuan aspek fisik masa kini.

Begitu pula di bidang sosial. Dimulai dengan bahasa, tuntunan adat dan norma budaya, sistem hukum lainnya dan agama, konsep kerajaan, negara, dan penguasa, termasuk perbudakan. Ketika seorang manusia, atau sekumpulan manusia, merasa berhak membeli manusia-manusia lainnya, untuk kemudian dianggap sebagai benda hidup pelaksana perintah.

Ironisnya, banyak capaian kebudayaan dunia dari masa lalu yang justru bisa terjadi “berkat” perbudakan. Piramida Mesir dibuat oleh budak, Tembok Besar Cina juga dibuat oleh budak, bahkan sendi-sendi filsafat modern di Yunani kuno juga hanya bisa terjadi karena mereka—para filsuf maupun sofis—memiliki budak di kediaman masing-masing. Bisa memiliki waktu luang yang cukup melimpah, mereka leluasa untuk berpikir, merenung, berdiskusi, berdebat, menulis, hingga akhirnya melontarkan kearifan berpikir manusia yang didengungkan sampai sekarang.

Semua itu memberikan kemudahan hidup bagi para pelakunya. Merekalah yang menikmati kemudahan-kemudahan tersebut. Tujuannya cuma satu, yaitu mendapatkan yang diinginkan dengan upaya seminimal mungkin. Tidak terlalu banyak keluar tenaga, pemikiran, uang, dan waktu. Pokoknya harus dapat, dan kalau bisa dapat lebih, ya … dikejar sampai mentok.

Berikut ini, mungkin, salah satu contohnya.

Lanjut lagi soal kemudahan dalam hidup yang harus melibatkan orang lain. Secara resmi, perbudakan memang sudah tidak ada lagi saat ini. Kecuali perbudakan terselubung maupun pemaksaan dan labelisasi, yang bisa dilakukan atau terjadi pada siapa saja. Semuanya dianggap mudah, semudah tinggal bilang:

“Udaaah… Nanti tinggal bayar aja,”

Seperti contoh berikut ini, sesuatu yang sejatinya adalah isu lama tetapi tengah menghangat kembali.

Cuplikan di atas sedang ramai-ramainya beredar dan dibahas para warganet sepekan terakhir. Beberapa tahun sebelumnya, perbincangan serupa juga terjadi untuk restoran siap saji. Fokus pembicaraannya tetap mengenai uang dan pembayaran, sebagai imbalan sesuai pekerjaan.

Dalam kasus di atas, membereskan dan membuang sampah milik sendiri adalah hal yang menyusahkan bagi sebagian orang. Dorongan utamanya adalah rasa malas, yang kemudian ditambahkan dengan alasan-alasan lainnya. Termasuk profesi dan pekerjaan para petugas kebersihan, gaji yang mereka terima, sampai penekanan tentang: “Aku kan sudah bayar, kok disuruh bersih-bersih lagi?” Seolah-olah mereka disuruh untuk membersihkan sampah seisi ruangan bioskop, padahal hanya untuk sisa mereka sendiri.

Apakah mereka memang sejorok dan seberantakan itu, sampai-sampai merasa enggan membersihkan bekas makanan mereka sendiri?
Apakah mereka memang sejorok dan seberantakan itu juga saat di rumah atau kamar sendiri?
Apakah mereka bersikap seperti itu, karena terbiasa memiliki pembantu atau baru merasakan punya pembantu?

Kemudahan itu memang terasa menyenangkan. Namun, mudah menurut siapa saja? Apakah ada orang lain yang malah jadi susah karena itu? Kita bisa dengan gampangnya menuntut kemudahan-kemudahan dalam hidup kita, tetapi jangan lupa bahwa tetap ada upaya dan andil orang lain agar keadaan tersebut bisa terlaksana.

Saat kesusahan atau kerepotan yang dialami orang lain berhasil memudahkan urusan kita, itu merupakan bantuan. Apa pun namanya, diikuti dengan bayaran atau tidak, tetaplah patut untuk mengucapkan terima kasih. Kalau tidak berhasil pun, ucapan terima kasih seringkali tetap patut disampaikan. Lantaran bagaimanapun juga, orang lain sudah menyusahkan diri demi kita.

Coba kalau dibalik, bersediakah kita untuk direpotkan hal yang sama? Jika kita tidak bersedia, enggak fair, dong. Jadi manusia kok mau enaknya doang, maunya merepotkan tetapi menolak setengah mati waktu dimintai bantuan. Jangan nanggung, andaikan tidak bersedia membantu orang lain (yang memang perlu dibantu), maka berusahalah mandiri semaksimal mungkin. Jauh dari utang budi. Jadi, sama-sama tak ada beban.

Lalu, mending ganti mindset soal “mudah” dan “susah” dari sekarang. Semudah-mudahnya sesuatu, bisa semudah apa sih? Apakah semudah cukup dipikir, lalu muncul atau terjadi dengan sendirinya. Macam pesulap yang tinggal mengelipkan mata, dan tanpa melibatkan atau perlu dibantu orang lain?

Sesusah-susahnya sesuatu, akan jadi seberat apa? Apakah bisa menyebabkan cacat permanen, atau kematian? Kalau hanya perkara jalan kaki sekitar 50-100 meter, atau berdiri selama dalam perjalanan dengan moda transportasi umum, ya coba dilakukan. Tak perlulah mengeluh seperti disuruh menyeberangi laut dengan sampan kecil, atau melompati jurang dengan mata tertutup.

[]

Advertisements

Leave a Reply