Yang Kita Jalani Adalah Cita-cita

“Apa yang kita ketahui itu terbatas, sedangkan yang tidak kita ketahui itu tak berhingga; secara intelektual kita berdiri di satu pulau kecil di tengah-tengah lautan ketidaktahuan tak terbatas. tugas kita di setiap generasi adalah mereklamasi untuk memperluas daratan.”

T.H. Huxley, 1887 – diambil dari Bab I Tepi Lautan Kosmik, Buku Cosmos karya Carl Sagan

Suatu malam ketika di sebuah Starbucks di bilangan Melawai yang di atas mejanya ada dua potong cheese cake, dua kaleng beer Sapporo, tiga kaleng Beer Bintang, beberapa botol air mineral dan beberapa cangkir kopi bikinan tuan rumah, menjadi saksi sekumpulan beberapa manusia absurd yang memperbincangkan hal absurd. Bagaimana tidak. Mereka baru saja pindah dari Daitokyo Sakaba yang jaraknya beberapa meter dari tempat mereka saat ini. Mampir sejenak ke Papaya, minimarket yang menjual cheese cake dan beberapa kaleng beer, lalu mereka mengobrol dengan diawali rasa kecewa karena Daitokyo Sakaba, sushi yang menjual sate-satean, sushi-sushian mengandung daging babi ini, ternyata tidak menjual beer di bulan Ramadan. Semua aktivitas barusan adalah aktivitas dengan judul: Buka Puasa Linimasa Jilid Dua. Kurang absurd?

Mas X,  pria dengan dua tato  di lengan kanannya. Matanya sipit. Bicaranya lantang. Pemikirannya terbuka. Lalu hadir juga Lady X, dengan kipas-kipas asmaranya. Sepanjang waktu mempermasalahkan kenapa pria usia diatas 30 tahun tak pernah mampu orgasme dua kali dalam sehari. Juga Lady Y , perempuan paling cantik kedua setelah Gandrasta yang mengaku baru sebulan berhenti merokok dan mengaku sering Runi saat melakukan kencan buta. “Apa itu Runi?” Sahut kami. Rubah Niat!, jawabnya dengan nada bangga karena istilah ini tak diketahui rekan-rekannya yang lain. Juga hadir Mas Y, walau hadir terakhir dan melewatkan kesempatan menikmati Daitokyo, namun dengan fasih bercerita bahwa betapa Rimming memiliki arti penting dalam menjalani aktivitas memadu kasih. Juga hadir saya, yang masih saja kebingungan ketika Mas X, meneruskan pertanyaan VeHandoyo mengapa Linimasa tetap ada, gitu-gitu aja dan ndak ngapa-ngapain. Marah ndak, lucu ndak, abis-abisin kuota iya!

Salah satu impian saya saat masih mahasiswa adalah menulis catatan harian apa adanya. Tanpa sensor demi sebuah kelegaan hati. Isinya bisa curhat soal kejadian yang telah dilalui, atau impian yang akan dijelang, juga suasana perasaan pada saat itu. Namanya anak muda, maka isinya adalah soal cinta, kecewa dan cita-cita. Tapi terkadang catatan harian saya berisi soal dunia luar. Soal remeh temeh keduniawian, maupun hal-hal agung soal ketuhanan.

Ternyata kebiasaan membuat catatan harian itu keterusan hingga sekarang. Bahkan salah satu ide bikin linimasa ini adalah juga soal meneruskan membuat catatan harian secara digital dan sekaligus berbagi dengan “pembaca yang lain”.

Pengertian yang lain di sini bukan saja orang lain, melainkan pemikiran beda. Karena saya sadar sesadar-sadarnya bahwa pandangan orang pun patut dihargai. Langkah pertama untuk saling menghargai adalah secara jujur mengungkapkan isi pikiran dan perasaan kita terlebih dahulu. Jika pun ternyata terdapat perbedaan, maka yang beda atau yang lain itu justru memperkaya. Saling tahu, lalu saling mengerti.

Cita-cita linimasa adalah menjadi “sesuatu” dan dianggap penting secara intelektual, kultural dan emosional. Kenapa emosional tetap diikutsertakan? Karena itulah menurut saya sebuah nilai luhur manusiawi secara individu. Menyertakan “hati” dalam setiap kesempatan. Bisa jadi tepat bisa jadi tak perlu. Tak tak mungkin sepenuhnya dihilangkan.

Sudah selayaknya kita terbiasa untuk berdemokrasi sejak dalam pikiran. Memberikan kesempatan kepada setiap “suara”. Membaca segala. Bisa jadi sesuai, bisa jadi bertolak belakang dengan apa yang kita yakini dan kita percaya. Setidaknya “suara lain” ini adalah pundi-pundi kekayaan yang kita pungut gratis yang selama ini dirawat dan dipelihara oleh individu lain. Kita, atau setidaknya saya, begitu merindukan masyarakat yang mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Apapun keputusannya. Juga menghormati keputusan orang lain. Masyarakat terpelajar yang bukan karena melulu dilahirkan oleh bangku sekolahan. Tapi atas keterbukaan. Memberi kesempatan kepada yang “beda”.

Membuat catatan harian saat mahasiswa adalah soal hobi. Membuat linimasa adalah salah satu cara kenegarawanan saya pribadi. Lewat tulisan dan saling berbagi.

Ketika masih kecil, sering saya dengar bahwa gantungkan dan kejarlah cita-citamu setinggi langit. Saya percaya itu. Tapi agak berubah dari apa yang saya percayai dulu, ternyata saya lebih menyukai “kerjakanlah cita-citamu yang dulu dan tekuni.”

Bisa jadi cita-cita bukan berarti profesi. Cita-cita bukan sebuah kondisi ajeg, permanen dan statis. Cita-cita adalah sebuah proses kerja. Sebuah kegiatan yang dari dulu diidam-idamkan dan memerlukan dedikasi.

Cita-cita saya adalah memaknai hidup ini dengan penuh martabat. Kehidupan sehari-hari yang perlu menjaga integritas. Bukan untuk siapa-siapa, namun setidaknya untuk saya sendiri. Linimasa adalah salah satu cara saya “memaknai hidup”. Mengkomunikasikan ide dan pikiran serta emosi. Dilemparkan ke pasar pembaca. Bisa jadi tak ada respon bahkan tak terbaca. namun setidaknya ada upaya menawarkan atau proaktiv untuk mencoba menyampaikannya kepada orang lain. Sebuah cara menguji jalan pikiran dan ide. Oleh karenanya, topik linimasa adalah topik sesuka hati. Apapun topiknya boleh kita tampilkan tanpa ada garis sekat apa yang boleh dan tidak boleh diperbincangkan.


Oleh karena itu, betapa beruntungnya saya ketika beberapa teman saya yang saya ceritakan di atas juga memiliki kemauan untuk “berbagi”. Memaknai hidupnya dengan sedikit cerita dan disampaikan lewat blog ini. Ketika suatu hari rekan-rekan saya sedang tak bergairah untuk berbagi dan lebih berkonsentrasi kepada kegiatan lain, misalnya apa yang sedang dijalani Glenn Marsalim saat ini, maka itu adalah bagian dari apa yang juga saya cita-citakan. Bergaul dan berkawan secara paguyuban. Atas dasar kesukarelaan. Bukan sekadar kepentingan patembayan dengan keterikatan karena motif ekonomi dan motif lain yang sifatnya subordinasi. Atas bawah. Bos jongos.

Ada satu lagi yang masih belum terpenuhi secara manis. Masih ada jurang pembaca dan penulis. Impian saya adalah kita sama-sama berbagi. Lewat komentar atau menceritakannya kembali kepada orang-orang tersayang. Karena internet butuh lebih banyak hati.

Terima kasih.

Salam anget,

Roy

 

SaveSave

Advertisements

Leave a Reply