Pertengahan Puasa

(malam ke-15, Ramadan 1439 H)

Ramadan yang sibuk buat Andi.
Tepatnya Andi yang menyibukkan diri di bulan Ramadan ini.

Kesibukan yang seharusnya tak perlu terlalu menyita waktu. Apalagi proyek besar Andi di quarter pertama tahun ini telah berakhir. Namun Andi memilih untuk langsung terjun mempersiapkan proyek besar berikutnya, yang sebenarnya baru akan diadakan di quarter ketiga.

Andi perlu distraksi. Terlebih setelah buyarnya semua rencana yang sudah menari-nari di benaknya selama beberapa hari terakhir ini. Rencana yang dia buat untuk seseorang yang telah mengubah pola hidup dan rutinitas Andi selama beberapa minggu terakhir ini. Rencana yang tadinya dia buat dengan kata “bersama”, namun akhirnya, semua hanya tinggal rencana. Almost doesn’t count.

Demikian Andi mengingatkan dirinya sendiri setiap larut malam, sepulang kerja seusai tarawih. Rutinitas dari kantor ke masjid terdekat lalu ke kantor lagi sebelum pulang ke rumah cukup membuat Andi tak memperdulikan lagi, bahwa hanya ada suara televisi dan denting microwave yang menemaninya. Kalau ada hal yang perlu di-unload, cukup post sekilas cuitan di akun sosial medianya. Toh tak banyak pengikut atau “teman” ini, pikir Andi.

Namun malam ini ada yang terasa aneh.

Saat Andi membuka laptop untuk mulai bekerja sebelum sahur, Andi malah membuka akun email pribadinya. Sudah lebih dari seminggu tidak membuka akun ini, pikirnya.
Semua email dengan nama yang dia hindari belakangan ini, cukup dia centang lalu klik “Mark as Read”. Bisa dibaca kapan-kapan kalau sudah siap.
Lalu dia menelusuri lagi email-email lain. Beberapa email dari nama teman-teman dekatnya yang masih berkorespondensi tiap hari.
Andi buka salah satu email tersebut. Rencana pernikahan salah satu teman dalam beberapa bulan ke depan. Riuh rendah sepuluh orang ini saling membalas email untuk bertukar ide, itinerary, sampai konfirmasi kehadiran.

Andi tersenyum, kadang tertawa kecil membaca email-email itu. Tiba-tiba tak terasa air mata mengalir menetes di pipinya. Andi terkesiap. Buru-buru dia seka.

Buru-buru pula dia ketik balasan thread email itu, “I’m coming, y’all! And yeah, party of one, as usual.”

Lalu buru-buru dia tutup laptop itu. Andi menghela nafas panjang.

This is not the first time. But why tonight, God? Why? Andi terdiam, terpekur di kursinya. Tangannya mengatup, menutup mulutnya yang terdiam.

Andi yang selalu memecut dirinya terlihat baik-baik saja saat bersama teman-teman terdekatnya, tak jarang merasa lelah juga merasa sendiri dan kesepian. Kadang dia tak habis pikir, why is it so easy for everyone to hook up? Sementara Andi selalu merasa, why is it hard for him?

And nope, I’m not gonna cry tonight. Not tonight, God. Andi masih mengatupkan tangannya sambil menutup matanya. But God, this is so hard. I’m tired of this.Ding!

Bukan bunyi microwave. Tapi bunyi ponsel. Pesan masuk dari Ali, ayah Andi.
Paling forward hadist, pikir Andi.
Buru-buru Andi buka.
Sesaat dia terhenyak melihat pesan yang cukup panjang dari ayahnya.

Lalu Andi tertawa kecil, sambil mengingat-ingat kejadian kurang dari 24 jam yang lalu. Kejadian yang membuat dia menaruh beberapa posts di akun media sosialnya.

Andi membalas, “Terima kasih, Ayah. You always know what to say at the right time.”

——————————————

(malam ke-15, Ramadan 1439 H)

Ramadan yang sibuk buat Ali.
Tepatnya Ali yang menyibukkan diri di Ramadan kali ini.

Tapi kesibukan Ali bukan sekedar kesibukan biasa.

Di saat rekan sejawatnya menghabiskan waktu di Ramadan bersama keluarga di rumah, Ali malah aktif belajar lagi. Dia habiskan waktu di perpustakaan kota terdekat, dan mendaftar kursus dasar-dasar informasi teknologi.
“Biar Ayah otaknya nggak tumpul”, demikian alasannya.

Konsekuensinya, Ali sering menghabiskan waktu dengan cucu-cucunya untuk bertanya hampir semua jenis aplikasi yang mereka gunakan. Awal-awalnya, mereka senang menghabiskan waktu bersama Ali. Namun lama-lama, mereka protes.

“Kakek kepo banget ah! Kenapa sih pengen tau Instastory segala? Facebook aja deh, Kek.”
“Ya Kakek kan pengen tau, itu bedanya apa Instastory sama Instagram biasa?”
“Ya semua yang ada story-nya itu cuma bisa kita lihat 24 jam setelah diupload pertama kali. Kalau foto-foto yang kita lihat di akun orang, itu bisa kita lihat terus, Kek.”
“Oh gitu.”
“Nggak cuma di Instagram. Facebook, WhatsApp juga ada story-nya. Fungsinya sama juga, cuma ada 24 jam aja.”
“Oh begitu. Nah, Kakek mau nanya lagi. Kalau upload itu apa?”
“Kakek, aaah!”

Ali tertawa menggoda cucu-cucunya. Meskipun hanya sesekali post di media sosial, namun Ali cukup rajin dan selektif memantau update media sosial. Termasuk akun anak-anak dan cucu-cucunya. Termasuk akun Andi.

Seperti malam ini. Saat Ali menutup bacaan kitab suci dan beranjak tidur, dia membuka lagi ponsel dan melihat beberapa update akun media sosial anak-anak dan cucu-cucunya. Foto-foto dan cuitan mereka membuatnya tersenyum.

Sampai saat Ali melihat beberapa update status di akun Andi.

Ali mengernyitkan kening. Matanya tak lepas dari sinar ponsel yang sedang dia tatap. Lalu dia menghela nafas panjang sambil dilepas kacamatanya.

I’m sorry, Ndi. Ali berujar dalam hati. But you know it’s never easy for you.

Ali mengenakan kacamatanya lagi. Dia membuka aplikasi pengiriman pesan, lalu dia mulai ketik pesan ke Andi.

“Assalamualaikum, Ndi. Apa kabarmu? Semoga puasamu berjalan lancar.”

Lalu Ali berhenti menulis. Dia berpikir sejenak. Dia teruskan.

“Selain puasa, sholat tarawih dan mengaji, jangan lupa juga terus berdoa. Insya Allah doa-doa kita di bulan Ramadan ini lebih mudah dikabulkan. Papa selalu doakan kamu. Tapi yang lebih penting, kamu jangan lupa untuk mendoakan orang-orang yang mungkin tidak sengaja sudah membuat kamu sedih. Papa percaya, mereka tidak pernah bermaksud membuat kamu sedih. Kita juga harus ingat, Ndi, bahwa saat kita memilih apapun dalam hidup, kita harus memikirkan yang terbaik untuk kita dulu. Bukan buat orang lain, bukan buat kita dan orang lain. Kalau mereka merasa kamu belum jadi yang terbaik buat mereka, ikhlaskan. Doakan bahwa mereka benar-benar bahagia dengan pilihannya. Lalu setelah itu kita berdoa dan berusaha lagi. Don’t give up. Memang tidak mudah. Tapi insya Allah, Papa yakin, saat kita bisa menerima, syukur-syukur bisa bahagia buat orang lain, jalan kita juga akan dimudahkan.”

I hope this is enough, pikir Ali. Lalu dia klik tanda kirim pesan.

Sepuluh menit kemudian, sebuah pesan masuk dari Andi.

Ali tersenyum.

Advertisements

4 thoughts on “Pertengahan Puasa

  1. Ini bulan puasa ketiga (?) dari cerita Andi dan Ali ya.

    Aku juga masih tercekat haru sehabis baca yang ini.

Leave a Reply