Biru Yang Membilu

Beberapa minggu lalu, saya menonton salah satu episode serial komedi “Black-ish”. Tidak seperti biasanya, serial komedi tentang keluarga African-American kelas menengah atas ini mengambil gaya penceritaan drama di episode tersebut.

Bertajuk “Blue Valentime”, yang merupakan permainan kata dari film Blue Valentine, episode serial ini memang dibuat dengan gaya persis seperti film tersebut. Buat yang belum pernah menonton, film Blue Valentine bercerita tentang sepasang suami istri (Ryan Gosling dan Michelle Williams) yang harus menjalani pahitnya perpisahan rumah tangga mereka, sembari mengingat-ingat kembali titik hidup yang pernah mereka jalani. Mulai dari menjadi sepasang kekasih yang dimabuk asmara, sampai menjadi suami istri yang bosan dengan satu sama lain.

Sementara serial “Black-ish” sendiri adalah gambaran ideal keluarga menengah atas kulit hitam Amerika Serikat yang mapan secara ekonomi, dan tak luput menanggapi isu-isu sosial yang ada di masyarakat. Setiap episode dibuat dengan gaya penceritaan yang ceria. Makanya, saya kaget ketika tiba-tiba Andre dan Rainbow, pasangan suami istri dalam serial ini, mendadak memutuskan untuk menelaah lagi perjalanan kehidupan mereka, dan apakah mereka masih bisa bertahan satu sama lain.

Serial “Black-ish” biasanya saya tonton sambil menyantap sarapan. Bisa dibayangkan betapa kacaunya sarapan dan perasaan saya setelah menonton episode yang berat tersebut. Dan meskipun ceritanya fiktif, tak urung jalan ceritanya membuat saya berpikir, betapa berat mempertahankan pernikahan. Buat mereka yang memilih tidak bercerai, betapa berat pengorbanan yang harus dikeluarkan.

Seorang teman yang sudah menikah cukup lama, pernah berujar seperti ini saat kami bertemu:

I still don’t get it, kenapa orang-orang kita, terutama keluarga besar, suka sekali menyuruh orang untuk menikah. Tapi nggak ada sama sekali satu pun dari mereka yang pernah bilang bahwa mempertahankan pernikahan itu beratnya luar biasa! Nggak ada sama sekali yang pernah kasih tips how to survive marriage and keep it last, bisanya cuman nyuruh doang. Kesel kan gue?! Apa jangan-jangan mereka cari temen seperjuangan yang sama-sama menderita ya? Jadi pas tau kita struggle to keep the marriage afloat, jangan-jangan mereka teriak dalam hati, “Welcome to the club!””

Kami tertawa mendengar teori itu. Namun saya mengakui, teori tersebut ada benarnya juga. Bahwa kita punya kecenderungan untuk menyuruh orang melakukan sesuatu tanpa memikirkan konsekuensi di belakangnya.

Setelah saya menonton episode serial di atas, sempat saya berpikir ulang tentang banyak hal seputar pernikahan. Saya belum menikah, dan belum ada rencana untuk menikah. Meskipun begitu, saya beruntung bisa lahir dan tumbuh di keluarga di mana ayah dan ibu saya masih bersama sampai sekarang. Tak urung sempat saya berpikir juga, bahwa betapa besar pengorbanan mereka, baik terhadap diri sendiri atau terhadap satu sama lain, untuk bisa bertahan dalam pernikahan sekian lama, berpuluh-puluh tahun lamanya.

Gairah pasti padam. Gairah bercinta, bermesraan, bercumbu satu sama lain, pasti akan hilang. Baik itu setelah tiga minggu, delapan bulan, tujuh tahun, atau mungkin satu dekade pertama. Yang datang setelah itu adalah negosiasi, tentang kebutuhan orang lain dalam hidup kita. Apakah benar kita tidak bisa hidup tanpa orang tersebut? Apakah benar kita sebenarnya bisa hidup tanpa orang tersebut?

Tulisan ini tidak memberikan jawaban, karena tidak ada jawaban yang sama untuk setiap orang. Dan memang kita akan selalu bertanya dan terus bertanya, karena pertanyaan-pertanyaan tentang cinta dan hati akan selalu membuat kita hidup.

Advertisements

3 thoughts on “Biru Yang Membilu

Leave a Reply