Sebuah Ketidakjelasan

“ENGGAK adil, deh. Coba dipikir. Kita enggak minta diciptakan, dilahirkan ke dunia ini dengan segala kondisinya. Ada yang sempurna, ada yang tidak. Ada yang cakep, ada juga yang jelek dari sananya. Ada yang terlahir di lingkungan baik, ada juga yang terlahir di keluarga sengsara. Kita bisanya terima-terima doang. Cuma waktu kepingin ‘pergi’ dengan cara kita sendiri, malah dilarang. Dibilang dosa, dan masuk neraka.

Bagi mereka yang memegang teguh sejumlah pandangan, pemikiran di atas sangat berbahaya. Jangankan dipikirkan atau dibahas lebih lanjut, kemunculannya saja sudah harus diwaspadai. Alih-alih ditangani sebagaimana mestinya agar tidak menyisakan gelisah dan rasa penasaran yang mengganggu, narasi di atas harus dihindari, dibuang jauh-jauh, atau ditekan habis-habisan. Singkat kata, hal ini salah dan terlarang.

Di sisi lain, apakah memungkinkan jika pemikiran tersebut dijadikan titik tolak untuk berpikir, merenung, berdiskusi, dan bersepakat lebih jauh? Bukankah manusia diciptakan dengan anugerah akal budi serta kemampuan berpikir dan menimbang, yang sejatinya dapat diberdayakan semaksimal mungkin demi kebaikan, kesejahteraan jasmani dan batin, ketenteraman, serta kearifan dan kebijaksanaan.

Menurut orang-orang yang agamais dan religius, pemikiran di atas dapat mengarahkan seseorang untuk mempertanyakan tuhan, rahasianya, dan kemahakuasaannya. Sikap yang berbahaya karena terkesan tidak hormat, bisa kualat dan diazab, mengarah pada dosa. Selain itu, meskipun kita telah jungkir balik menjalankannya, tetapi hidup dan kuasa kematian tetap merupakan milik tuhan. Menentangnya adalah sebuah kesalahan besar.

Menurut orang-orang yang patuh pada hukum positif, pemikiran di atas dianggap sudah mengarah pada tindak kriminal. Sejauh ini masih ada beberapa negara yang mengkategorikan perbuatan tersebut sebagai kejahatan, kendati ada pula yang sudah menempatkannya sebagai masalah psikologis dan sosial. Oleh karena itu, melalui prosedur dan pertimbangan legal yang cukup panjang, seseorang hanya bisa melakukannya atas keputusan persidangan. Itu pun harus dengan cara-cara manusiawi, bukan yang melibatkan rasa sakit.

Menurut orang-orang yang awam, yang hanya menjalani kehidupannya sebagai bagian dari keluarga dan masyarakat, pemikiran di atas akan menimbulkan kesedihan. Bukan sesuatu yang pantas diberi perhatian, apalagi dituruti. Lantaran dalam kehidupan sosial, tindakan ini dapat menyebabkan munculnya perasaan kehilangan, serta membebani mereka yang ditinggalkan.

… dan masih ada beragam sudut pandang lainnya, dan berujung pada kesimpulan yang sama.

Dengan demikian, manusia tak akan pernah benar-benar berhak atas kehidupannya sendiri sampai kapan pun. Di balik segala kemampuan dan pengusahaan hidup, manusia hanya bisa menjalankannya saja. Hingga perjalanan hidup tersebut berakhir dengan sendirinya, karena faktor-faktor yang berada di luar kendali.

Bagaimana dengan ini?

Noel Conway. Assisted dying.

Ada perbedaan sangat mendasar antara orang-orang yang ingin melakukannya untuk menghindari hidup, dengan orang-orang yang ingin melakukannya karena merasa telah mencapai dan memiliki segalanya dalam hidup. Termasuk memiliki umur sangat panjang, misalnya. Bosan hidup dalam arti sebenar-benarnya.

Perbedaan sangat mendasar pula antara orang-orang yang ingin melakukannya karena pengecut dan takut terhadap kenyataan hidup; dengan orang-orang yang ingin melakukannya karena egois dan semau-maunya sendiri; juga dengan orang-orang yang ingin melakukannya karena mementingkan orang lain dan beralasan tidak ingin menimbulkan kesusahan lebih lama.

Dalam situasi-situasi tertentu, ini bukan lagi sekadar perkara benar dan salah, atau boleh dan tidak boleh. Melainkan jadi satu pertanyaan filosofis: “Mana yang lebih baik?”

Mampukah narasi dan diskusi meredam obsesi?

[]

Advertisements

Leave a Reply