Tentang Desain

Mengetik sambil menonton Royal Wedding (demi content), tetapi tidak ingin menulis soal itu. Karena di womantalk.com sudah membahas banyak sekali soal Meghan Markle dan Prince Harry, kalau ingin update lengkap ke sana saja ya (shameless plug)!

Tadinya ingin bahas sesuatu yang serius juga tapi kok akhir-akhir ini banyakan kejadian yang membuat depresi daripada membuat gembira. Baru tadi pagi saja terbangun lalu langsung ingin menangis mendengar (lagi-lagi) ada penembakan di SMA di Amerika Serikat. Melirik Twitter, perdebatan tetap sama, antara yang langsung menuntut adanya pengendalian senjata dan yang menentang, tentunya. Tidak terlalu jauh dengan perdebatan yang terjadi di sini kurang lebih seminggu yang lalu. Agak seram enggak sih, semakin lama negara kita semakin menjadi cerminan negara yang ‘ntu?

Anyway…

Saya yakin ini yang diajarkan di sekolah desain hari pertama, bahwa desain itu gunanya untuk memecahkan masalah. Tetapi tampaknya banyak yang lupa, atau enggak ngeh dengan hal ini, karena itu kalau mendengar kata ‘desain’ pasti sebagian dari kita berpikir soal sesuatu yang indah dan agak eksesif seperti fascinator yang dipakai oleh tamu royal wedding .

fascinatorscropped

Saya pun baru paham benar kalimat ini sejak diceritakan oleh kakek anak saya yang memang dosen desain di sebuah institut terkemuka.

Baru-baru diingatkan lagi oleh sebuah produk dari Jepang.

Karena penulis ada seorang skincare enthusiast, sempat mencoba berbagai bentuk pembersih untuk double cleansing, akhirnya hati tertambat ke bentuk cleansing balm sebagai pembersih pertama. Merk yang digunakan tentu dari Korea Selatan, yang cukup mudah ditemukan di mana-mana.

animated

Tetapi ada yang mengganggu dengan produk balm ini (saya sudah mencoba beberapa brand), yaitu mengambil produknya dari dalam potnya harus dengan spatula, karena sulit dicolek dengan jari, kalaupun bisa, kurang higienis ya. Nah, biasanya spatulanya itu diletakkan di bawah tutup, di atas lapisan plastik, yang sungguh tak praktis, sering jatuh, akhirnya spatulanya biasanya saya letakkan saja di atas tutup produk ini.

animated (1)

Tapi kan sekali lagi, kurang higienis ya, dan rentan terkena debu dan zat lainnya yang bertebaran di udara. Sementara untuk mencucinya setiap kali mau mengambil produk untuk membersihkan muka, kok pe-er banget rasanya.

animated (2)

Tapi tidak saya pikirkan itu terlalu banyak, sampai ketika saya sedang mengunjungi Jepang, dan di salah satu drug store (yang tidak pernah saya lewati tanpa menghampiri) ternyata ada cleansing balm walau dari merk yang belum terlalu populer. Begitu yang lama habis, saya bukalah cleansing balm Jepun itu, dan lihatlah spatulanya!

animated (3)

animated (4)

Awalnya, saya kira spatula itu dilem di bawah tutup, sehingga begitu sekali diambil tidak akan bisa diletakkan di tempat yang sama, ternyata, bagian bawah tutup wadah dan ukuran spatula dibuat kompatibel sehingga spatula akan pas terpasang di sana ketika tidak sedang digunakan, dan tidak akan jatuh walau wadah ditutup kembali!

Sungguh pemecahan sederhana namun jitu terhadap masalah yang mungkin tak pernah dipertimbangkan oleh orang lain (kecuali pengguna cleansing balm seperti sisterhood of double cleansing), dengan desain yang tidak berlebihan tetapi tepat guna, dan membuat terharu dan sebagai pengguna merasa dihargai masalahnya.

Apa itu kurang contoh desain sebagai jalan keluar dari masalah yang kita miliki? Menurut saya proses seperti ini adalah underrated. Semua orang berlomba terlihat keren, tetapi jarang ada yang bertanya “bagaimana menyelesaikan masalah dengan keren?” Walhasil, desain menjadi sesuatu yang berlebihan, tanpa esensi.

Apakah Anda ada contoh lain? Mungkin bisa dibagikan di komentar, saya ingin membacanya!

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Desain

  1. Saya belum pernah ke Jepang, tapi pernah setia menonton Channel Japan di Metro TV. Salah satu desain produk yang saya ingat adalah celana dari bahan antikusut jadi pemiliknya ga perlu repot menyetrika.
    Pas nonton acara tentang produk Jepang lain, saya kagum dengan pertimbangan mereka saat bikin desain kemasan pembalut wanita. Jadi plastik di dalamnya dibuat dari bahan yang tidak “berisik” waktu dibuka. Alasannya karena perempuan Indonesia masih sering malu kalau ketahuan ganti pembalut. Menurut saya ini benar-benar niat gitu lho

Leave a Reply