Memilih dan Menghapus Kenangan

SETELAH membaca surel yang diterima 21 April lalu, baru sadar kalau selama ini sudah memiliki dan mempergunakan layanan flickr selama lebih dari sebelas tahun. Sampai akhirnya muncul pengumuman bahwa media layanan penyimpanan, yang kemudian berubah menjadi semacam media sosial berbasis fotografi serius itu telah dibeli oleh SmugMug–baru pertama kali dengar nama itu–per April kemarin.

Dengan pengambilalihan layanan oleh SmugMug, semua pengguna lama flickr diberi pilihan untuk meneruskan atau menutup akunnya. Jika tidak ada respons apa pun, semua data pengguna flickr akan otomatis dipindahkan ke infrastruktur SmugMug efektif sejak 25 Mei mendatang.

Disebut sebagai media sosial berbasis fotografi serius, pengguna flickr bisa menyimpan dan menampilkan foto-fotonya dalam format terbesar sekalipun. Memberikan atribusi atau label pada foto-foto tersebut, apakah boleh diunduh dan dipergunakan secara umum non komersial di bawah kategori Creative Commons atau tidak, serta fitur-fitur lainnya. Berbeda dengan Instagram, semua foto yang diunggah ke flickr tidak mengalami (atau minim) kompresi. Juga disediakan dalam berbagai ukuran.

Nah, bukan sebagai seorang fotografer profesional, atau seseorang yang cenderung suka menimbun foto tanpa kejelasan manfaat dan tujuan, ditambah lagi tidak terlalu ingin menambah satu lagi perpanjangan identitas digital, saya memilih untuk segera menutup akun. Untungnya flickr menyediakan layanan mengunduh semua foto yang telah ada.

Dari total 758 foto yang telah diunggah ke akun flickr sejak pertama kali, ternyata hanya ada 93 foto yang ingin diambil kembali. Alasannya beragam.

Kenapa hanya 93?
Apakah sisanya tidak penting?
Enggak sayang sama sisanya?
Bagaimana cara memilihnya?

Banyak dari kita, atau bahkan hampir kita semua, selalu bisa punya masalah dengan masa lalu, bayang-bayang, atau kenangan yang menyertainya. Mustahil untuk dihilangkan, dan justru bisa muncul sewaktu-waktu untuk kembali memunculkan berbagai perasaan. Yang menyenangkan, terlebih yang tidak.

Andai saja, menghapus gambaran masa lalu dan perasaan yang menyertainya semudah memilih dan mengunduh foto-foto di akun flickr tadi, hidup kita saat ini barangkali bisa jauh lebih ringan dan terbebas dari residu emosional yang tidak perlu. Dengan segala pertimbangan, alasan, serta latar belakang, kita bisa menentukan mana saja kenangan yang akan dipertahankan, mana yang sepantasnya dibuang atau ditinggalkan.

Tak perlu sampai seperti orang yang baru putus dari pacarnya, yang kemudian buru-buru menghapus foto di semua media sambil dipeluk kesedihan dan penuh air mata.

Sayangnya, kita tidak memiliki kemewahan itu. Entah apa alasannya, bagi yang percaya, tuhan tidak menganugerahi manusia dengan kemampuan tersebut, berikut malah melengkapinya dengan aneka perasaan terusan.

Silakan dibayangkan, seberapa besar penyesalan Adam dan Hawa ketika mereka harus memulai hidup di dunia, setelah dibuang dari taman firdaus atas sebuah kesalahan bersama. Bisa dibayangkan Hawa berkata: “Tahu gitu, mending enggak usah (makan buah).” Malu, putus asa, dan sejenisnya.

Silakan ganti dan skenarionya dengan cerita kita masing-masing. Ada yang salah memilih seseorang, meninggalkan yang pasti untuk kegembiraan dan kesenangan sekejap; ada yang salah memilih pekerjaan, meninggalkan kantor lama dengan segala keterbatasannya demi gengsi dan reputasi; ada yang salah memilih nasihat, membuat diri jauh dari keluarga dan kemudian terlampau malu untuk pulang; dan lain sebagainya.

Yang pasti, inginnya kenangan-kenangan tersebut bisa ditanggalkan di belakang. Membuat kita bisa benar-benar fokus menjalani saat sekarang tanpa gangguan. Namun, sekali lagi sayangnya, manusia tidak seperkasa itu menghadapi masa lalunya sendiri.

Kalaupun ada orang-orang yang sedikit lebih tahan dengan apa pun yang pernah terjadi sebelumnya, bisa jadi dia memang sudah dingin hati, jauh dari ekspresi emosi dan membuatnya relatif susah didekati. Kita pasti pernah bertemu orang-orang yang seperti ini. Jika kita merasa tidak nyaman, tentu saja itu bukan salah mereka. Selalu ada penyebab di balik semua akibat.

Lantaran kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadap hal tersebut, hanya ada dua cara untuk berdamai dengan perasaan diri sendiri, dan terus berusaha maksimal menjalani hidup.

Pertama, membiarkannya berlalu.

Mustahil bagi kita untuk menghilangkan kenangan, kecuali bila mengalami amnesia. Mau tidak mau, selalu ada peluang ketika kenangan tidak menyenangkan kembali muncul, dan menyerang kesadaran kita kapan saja, dan di mana saja. Ada yang sanggup menghadapinya dengan cara masing-masing, tetapi tidak sedikit pula yang terganggu suasana hatinya. Membuat mereka tidak bisa beraktivitas dengan maksimal, emosional dan mengganggu manusia lain di sekitarnya, sampai ke berbagai dampak buruk yang lain.

Membiarkannya berlalu bukan hal yang mudah. Perlu penguasaan perasaan, belajar menjadi indifferent atau bersikap netral, bukan apatis, bukan pula tidak acuh. Dengan bertindak “cukup tahu”, efek emosional yang muncul tidak semengguncangkan biasanya. Kita benar-benar menyadari saat ini, semua yang berlangsung, dan masa lalu adalah masa lalu. Sekadar bayangan, dan seharusnya tidak memberi dampak apa-apa, kecuali bila diladeni. Yang berarti, kita memutuskan berbuat sesuatu, menyikapinya dengan tindakan lain, yang bisa jadi menghasilkan dampak baru.

Kedua, menjadikannya pengalaman.

Sebagai makhluk, salah satu keunggulan manusia adalah potensi untuk memiliki kebijaksanaan. Menjadikan masa lalu sebagai sumber pengalaman dan pelajaran adalah salah satunya. Sama seperti di sekolah, mudah susahnya sebuah pelajaran tetap akan kita lalui sesuai jadwal. Kita hadapi, kita simak dan pahami. Tatkala ujian, barulah kita membuktikan kemampuan kita menjalankannya. Setelahnya, sudah. Begitu saja.

Analogi lainnya. Bagi yang gemar menulis blog pasti pernah merasa geli dengan tulisan sendiri dari beberapa tahun lalu. Menertawakan ide dan pemikiran pada saat itu, sudut pandang yang mungkin masih kekanak-kanakan dan dangkal. Kini, dengan kita yang ada di saat ini, semuanya bisa terlihat jelas sebagai sebuah alur perubahan. Kita yang dulu menjadi kita yang sekarang. Melihat proses pertumbuhan dari sudut pandang berbeda.

Begitu pula dengan 665 foto lainnya di akun flickr saya. Berbagai hasil jepretan yang tidak jelas maksud dan juntrungannya, akan tetapi terasa keren banget di saat itu. Setidaknya hari ini, saya sudah bisa memutuskan untuk meninggalkan, menghapus, dan merelakan 665 foto yang sudah dikumpulkan sejak lebih dari sepuluh tahun lewat.

Sepuluh tahun lalu.

Terus belajar berdamai dengan masa lalu, dan memperlakukan mereka sebagai mana mestinya.

[]

Advertisements

Leave a Reply