Berdiri di Atas Waktu Yang Berjalan

Sudah jam 12 malam. Mata saya mulai terasa berat. Namun masih ada yang mengganjal di hati, sehingga membuat saya belum bisa tidur.

Apalagi penyebabnya, kalau bukan sedang kehabisan ide untuk menulis di Linimasa ini.

Biasanya memang kalau sudah mentok tidak ada bahan yang terpikirkan untuk ditulis, saya memilih tidur. Lalu ketika bangun keesokan harinya, buru-buru saya menulis di Linimasa. Ini sekaligus pengakuan jujur saya kepada Anda semua, bahwa banyak sekali tulisan saya di Linimasa yang Anda baca itu hasil dari kepepet.

Namun malam ini, saya memilih untuk berusaha menulis sebelum tidur.
Kalau sudah tidak ada ide, maka saya akan melihat ke folder draft tulisan incomplete di komputer. Ada beberapa tulisan yang pernah saya buat, yang ketika tidak bisa diselesaikan dengan baik, saya simpan dalam folder tersebut. Siapa tahu bisa saya selesaikan suatu hari nanti.

Ternyata malam ini saya masih belum bisa menyelesaikan beberapa tulisan tersebut.
Saya menelusuri lagi folders yang lain. Saya membuka salah satunya, yang berisi tulisan-tulisan lama. Kebanyakan untuk blog pribadi. Blog yang sudah berumur belasan tahun. Tentu saja isinya adalah tulisan saya pada saat berumur belasan tahun lebih muda dari sekarang.

Saya tersenyum membaca tulisan-tulisan tersebut. Sambil menghela nafas, saya berpikir, “Do I still believe in the same thing as I did back then?” Apa saya masih meyakini apa yang saya tulis dulu? Kok sepertinya sudah tidak lagi?

Saya baca lagi beberapa tulisan lama. Masih tersenyum, sambil mengangguk-angguk.

Anda pernah membaca ulang tulisan lama yang dulu Anda buat? Bisa itu puisi, surat, catatan pribadi, atau apapun bentuknya. Kadang kita suka berpikir sambil geli sendiri, “What was I thinking? Kok bisa ya, dulu nulis kayak gini, mikir kayak gini.”

Bisa saja. Kenapa tidak? We were what we were then. We are what we are now. We grow.

Baik itu grow up atau grow old, semuanya menunjukkan kalau cara kita memandang dan menyikapi hidup pasti berubah, sesuai umur yang bertambah. Makin tambah umur kita, makin banyak pengalaman hidup yang sudah dijalani. Makin bertambah umur kita, makin berubah juga cara pandang hidup kita.

Dan perubahan itu akan tercermin di karya-karya yang kita buat, atau di pekerjaan yang kita lakukan. Perubahan itu termasuk kemungkinan untuk mengulang lagi apa yang pernah kita buat atau kerjakan. And that’s normal. Karena semakin tua, semakin besar juga gairah kita untuk clinging on the glory days of the past.

Waktu terus berjalan. Sebaiknya kita pun juga terus berjalan, supaya tidak tergilas jaman.

Advertisements

Leave a Reply