Bahagia itu Sederhana, Katanya… (Part 2)

Photo: Felix Mittermeier

SETIAP orang punya kebahagiaan versi masing-masing, dan pasti mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Hal-hal yang memicu timbulnya perasaan bahagia pada anak kecil, tentu berbeda dengan remaja, orang dewasa, dan orang lanjut usia.

Boleh dibilang menjadi kelanjutan dari tulisan berjudul sama tiga tahun lalu, daftar hal-hal sederhana yang membahagiakan terus bertambah dan bertambah. Setidaknya dari apa yang saya alami dalam dua tahun terakhir.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhananya bisa bangun tidur di pagi hari dengan tepat waktu, sehingga memiliki kesempatan yang cukup untuk melakukan aktivitas yang telah direncanakan semalam sebelumnya. Sempat membuat sarapan sederhana dengan hasil sempurna, dan menghabiskannya tanpa terburu-buru. Mandi dan mematut diri dengan sebagaimana mestinya, untuk kemudian mulai berangkat ke kampus atau tempat kerja tepat sesuai perkiraan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana tidak perlu menunggu elevator terlalu lama. Setelah memencet tombol, bilik elevator tiba kurang dari satu menit. Begitu pula saat turun, tidak banyak lantai yang disinggahi.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana langsung mendapat tempat atau posisi yang nyaman di bus TransJakarta atau kereta listrik, baik berdiri atau duduk, tanpa terlalu berdesakan atau orang-orang yang suka mendorong sembarangan. Sehingga perjalanan selanjutnya dapat dilalui dengan relatif menyenangkan. Bisa sambil kembali melanjutkan tidur sejenak, membaca buku, atau mendengar musik.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana mendapat kode promo ketika membuka aplikasi transportasi online yang membuat ongkos perjalanan berkurang sekian puluh persen. Dalam hal ini, selalu ada alasan untuk mengeluh ketika kita tidak memiliki kendaraan pribadi. Namun, dengan tinggal dan berkehidupan di Jakarta, juga akan selalu ada alasan untuk mengeluh selama berkendara. Itu sebabnya, bagi sebagian orang yang lain …

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa duduk di kendaraan sendiri, mengatur kecepatan dan rute perjalanan sendiri, mengupayakan efisiensi dan efektivitas perjalanan sendiri, dan berkesempatan untuk mengatur kenyamanan sendiri dalam berbagai situasi. Terlebih jika ada sopir pribadi, sehingga durasi perjalanan bisa diisi dengan beberapa kegiatan. Baik yang menyangkut pekerjaan, atau bersantai.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa memiliki dan mempertahankan suasana hati yang positif setibanya di kampus atau kantor. Ditambah lagi bertemu dengan teman atau kolega yang menyenangkan, situasi lingkungan yang bersih, dan catatan agenda pekerjaan yang dapat ditangani. Lebih dari itu, adalah kemampuan menyadari dan mensyukuri bahwa profesi atau pekerjaan yang dilakoni saat ini benar-benar terasa menyenangkan di segala aspek. Sedangkan bagi para pekerja lepas …

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa berkiprah secara profesional tanpa harus terikat waktu, penghasilan, dan keberadaan dengan hanya satu perusahaan. Bisa bekerja di mana saja, bisa mengupayakan situasi kerja seperti apa pun juga, dan tetap diperhitungkan sebagai seseorang dengan kemampuan. Intinya, bukan menjadi karyawan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa mendapatkan solusi atau alternatif ide ketika sedang menghadapi masalah. Baik solusi yang dipikirkan dan diusahakan sendiri, maupun alternatif ide yang dihasilkan dari diskusi dan rapat dengan orang-orang yang menyenangkan diajak bekerja sama.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana ketika ingin makan di tempat langganan, eh ada menu favorit. Bisa juga ketika datang ke restoran, ternyata ada promo khusus untuk menu yang diidam-idamkan. Mulut puas, perut kenyang, isi dompet pun bisa sedikit terselamatkan. Di sisi lain …

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana punya kemampuan untuk menolak ajakan kawan untuk makan, jalan-jalan, atau melakukan berbagai kegiatan bersuka lainnya, ketika benar-benar sedang “kering”. Tanpa perlu menutup-nutupi keadaan, atau malah mengorbankan sisa uang untuk menyelamatkan muka di depan orang lain. Berani bilang: “Sori, aku lagi bokek.” Demi keputusan yang lebih realistis.

(in general) will NEVER say “jangan di tempat yang mahal”. Akan jungkir balik dengan seribu alasan before just saying a place is out of budget.

Begitu isi twit seorang kawan digital, kemarin.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa menikmati kesendirian, dijauhkan dari keramaian, dan kepadatan manusia. Karena itu merupakan kebutuhan bagi mereka yang introver, dan menemukan hampir segalanya dari dirinya sendiri. Kalaupun tidak …

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana seperti yang sudah Mbak Lei ceritakan di tulisan terbarunya. Yakni kemahiran dan kesempatan untuk mengelola kehidupan sosial sedemikian rupa. Memiliki porsi waktu, tenaga, dan perhatian yang cukup untuk tetap terhubung dengan semua lingkaran antarmanusia tanpa berlebihan. Bisa memulai, terlibat, dan menyudahi interaksi di momen yang tepat, tanpa perlu dianggap less sociable oleh orang lain. Sesuatu yang disadari kian tidak penting seiring perkembangan fase hidup, tetapi seringkali terlalu masif untuk dibiarkan larut begitu saja.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana dikelilingi kawan-kawan yang paling cocok. Bukan sekadar orang-orang baik, melainkan orang-orang yang tepat. You just know. Andai ternyata ada yang berubah pun, kita memiliki kekuatan untuk segera move on. Kembali fokus dengan kehidupan yang sedang dijalani. Di sisi lain …

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana ketemu orang baru, ternyata ngobrolnya nyambung, serasa mendapatkan penyegaran otak, dan mendapat asupan referensi sesuai keinginan. Selebihnya, mana tahu bisa muncul ketertarikan dan seterusnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa terus menjaga kesehatan, berolahraga, merasa sehat, dan benar-benar sehat lewat hasil pemeriksaan profesional. Dengan segala upaya ini, kita berusaha menunjukkan kendali penuh atas tubuh. Menjaga dan memastikannya selalu berada dalam keadaan optimal. Meskipun pada akhirnya, kematian tetap berhak datang tiba-tiba. Setidaknya, berpulanglah tanpa kesakitan. Berbarengan dengan itu, kendali penuh atas tubuh juga ditandai dengan kepemilikan asuransi, baik untuk perawatan kesehatan maupun jiwa. Singkatnya, kalau sakit ada yang membantu membayari, apabila meninggal pun ada sejumlah uang yang bisa ditinggalkan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana rasa puas setelah membersihkan kamar dan kamar mandi semaksimal mungkin. Berasa kinclong dan menyenangkan, ditambah lagi baru tahu kalau odol bisa digunakan untuk membersihkan semua permukaan stainless steel. Mendapatkan kinclong secara harfiah.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa berjalan, beraktivitas, atau melakukan kegiatan-kegiatan harian di mana saja tanpa gangguan dan pelecehan seksual. Ketika para wanita bisa berjalan tanpa khawatir menghadapi catcalling, dan beragam hal yang bikin risi lainnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana tinggal tidak terlalu jauh dari tempat kerja. Apalagi kalau bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Bisa juga merasa bahagia, setelah tahu bahwa tempat tinggal baru saat ini hanya berjarak 10-15 menit berjalan kaki ke commuting hub, semisal stasiun kereta api listrik atau halte TransJakarta.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana baru menemukan home bakery atau toko roti kecil tetapi menyenangkan, atau pun rumah makan masakan Tionghoa yang menjual pangsit goreng enak di dekat tempat tinggal.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana selalu terhubung dengan orang-orang penyebar kesempatan untuk terus berkarya. Bersama mereka, kita terus bertumbuh dari berbagai sisi. Melalui peristiwa-peristiwa baik atau buruk, membuat kita menjadi lebih baik.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana banyak hal yang tak pernah kita sadari sebelumnya. Kebahagiaan bagi seseorang, bisa jadi terlihat sepele dan remeh bagi orang lain. Namun, bagaimana pun juga, hal itu memberi kebahagiaan bagi mereka.

… dan seperti biasa, daftar ini tidak akan pernah ada habisnya. Dengan senang hati saya akan membaca kebahagiaan dari hal-hal sederhana versi Anda.

Oleh karena itu, jangan lupa untuk selalu berbahagia. Kalau perlu, ciptakan sendiri kebahagiaanmu.

Oh, ya, satu lagi.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa menjadi diri sendiri, dan apa adanya.

[]

Advertisements

3 thoughts on “Bahagia itu Sederhana, Katanya… (Part 2)

  1. Bahagia itu sederhana,
    Sesederhana menemukan toilet kantor sepi ketika sedang ingin pup.

    Bahagia itu sederhana,
    Sesederhana mendengar info “Flight Attendants, prepare for landing!” dari ruang kemudi setelah penerbangan-penerbangan dinas.

    Bahagia itu sederhana,
    Sesederhana menemukan uang 2000 saja di kantong celana/baju yang sudah lama gak dipakai.

    Bahagia itu sederhana,
    Sesederhana pas lembur lihat ke luar jendela, ada senja bagus di Jakarta.

    Bahagia itu sederhana,
    Seserhana melihat update-an tulisan di linimasa. Terima kasih byk Mas Gono, sudah sangat rajin dan tepat waktu selalu memberi bacaan. Berasa kayak Tuesday with Morrie, ini Wednesday with Dragono Halim.
    Terima kasih banyak Linimasa, gak terasa udah mau 4 tahun.

    Banyak sih, sangkin sederhananya.
    Ini favorit :
    “Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa menjadi diri sendiri, dan apa adanya.”

    • Wah, keren! Terima kasih sudah membaginya, dan terima kasih juga sudah membaca.

      Semoga list-nya semakin panjang, karena berarti ada lebih banyak hal sederhana yang bisa terasa membahagiakan.

Leave a Reply