Pablo dan Diego

mandegar-313

“Ketika aku harus mengajak kamu pergi jauh dari kota ini, apakah kamu mau ikut?”

“Kemana?”

“Menghilang.”

“Menghilang dari siapa?”

“Orang-orang yang mengenal kita. Kita pergi ke tempat dimana kita menjadi asing.”

“Bagaimana dengan pekerjaan kamu? Bagaimana dengan pekerjaan aku?”

“Aku bisa menyetir. Aku juga bisa memangkas rambut. Di tempat asing aku ingin menjadi sopir. Atau pemotong rambut?”

“Bagaimana dengan aku?”

“Kamu, bisa melatih kebugaran di gym.”

“Apakah kita pindah ke kota yang ada gym-nya?”

“Bisa kita cari.”

“Apakah kita perlu berganti nama?”

“Untuk apa?”

“Sekalian aja. Aku ndak suka namaku ini.”

“Nanti aku carikan nama yang pantas untuk kamu.”

“Ndak perlu. Aku mau mengarang sendiri.”

“Ya sudah.”

“Fahri.”

“Ha? Siapa?”

“Ya, aku mau berganti nama menjadi Fahri.”

“Hmmm..”

“Eh, Diego saja. Aku menyukai nama Diego.”

“Hmmm..”

“Bagaimana, bagus bukan?”

“Entahlah. Aku ga akan keberatan sepanjang kamu nyaman dipanggil Diego.”

“Pablo!”

“Ha?”

“Iya, kamu aku ganti namamu menjadi Pablo.”

“Kenapa Pablo?”

“Macho. Aku suka nama yang menggambarkan kelaki-lakian yang tegas.”

“Diego… Hmmm. Pablo… Hmmm.”

“Bagaimana jika nama itu membuat kita malah terlalu mudah untuk dikenali. Nama itu terlalu asing menurutku. Bahkan di negeri asing.”


Pablo dan Diego. Sebut saja begitu. Dua remaja yang saling berkenalan dari twitter. Mereka saling mengenal dari perbincangan tak teratur. Awalnya saling sahut. Lalu saling retweet. Lalu mereka saling follow.

“Hai..”

“Hai..”

“Jalan?”

Dari pertemuan usai jam kerja menjadi pertemuan yang terus disengaja. Mereka saling memahami. Mereka saling mengerti. Tak pernah bilang saling suka, tapi suatu ketika mereka berpelukan manja.

“Bagaimana kalau kita melanglang buana?”

“Aku mau.”

“Kamu carikan tiket, aku urus hotelnya.”

Mereka saling angguk. Tersenyum. Lalu raba yang menjelma rasa saling mengisi.

Malaysia. Bali. Bangkok. Maladewa. Singgapur. Manila. Mereka keliling mencari sesuatu yang mereka inginkan. Mereka ingin berdua. Mereka ingin bebas untuk menampakkan keakraban tanpa rasa was-was.

“Kamu mau pindah saja tinggal denganku?”

Anggukan tanda setuju. Mereka bekerja sama. Bolak-balik angkut kasur, galon kosong, dua tas besar berisi baju, setumpuk buku dari kos menuju apartemen. Mereka bahagia.

Mereka bergantian memasak. Sekali waktu mereka mencuci baju bersama. Jika malas, mereka berdua menghantarkan setumpuk baju ke binatu di lantai satu.

“Aku mau memelihara kucing.”

“Jangan. manajemen sini galak. Jika kita ketahuan, kita bisa diusir.”

“Sebegitunya? Biarin aja. Aku mau kucing.”

“Kenapa harus kucing?”

“Maksud kamu?”

“Bagaimana kalau ikan?”

“Kenapa ikan?”

“Lebih aman.”

“Ikan apa?”

“Hmmmm..”

“Ikan apa?”

“Cupang?”

“Hahahahahahaha..”

” Hahahahaha..”

Lalu tanpa perlu ke pasar ikan mereka saling menitipkan cupang. Leher. Dada. Paha. Punggung. Tengkuk.

Suatu sore yang tak begitu manja. Dilihatnya sang kekasih dengan  paras yang sedih tanpa keceriaan yang bergelora.

“Kenapa?”

“Ayahku bertanya.”

“Apa jawab kamu?”

Sebuah anggukan.

“Dia tahu Kita?”

Sebuah anggukan lagi.

“Lalu?”

“Aku diminta pulang sekarang juga.”

“Bilang saja nanti lebaran sekalian.”

“Jika besok aku tak ada di depan pintu, dia yang akan kesini. Bersama Abang. Juga Paman.”

“Dia tahu alamat kita.”

Sebuah anggukan lagi.

“Kok bisa?”

“Aku pernah beritahu Abang”.

“Apa rencana kamu? Pulang. Menyerah?”

Sebuah gelengan. “Entahlah. Aku capek.”

“Ketika aku harus mengajak kamu pergi jauh dari kota ini, apakah kamu mau ikut?”

“Kemana?”

“Menghilang.”

“Menghilang dari siapa?”

“Orang-orang yang mengenal kita. Kita pergi ke tempat dimana kita menjadi asing.”

“Bagaimana dengan pekerjaan kamu? Bagaimana dengan pekerjaan aku?”

“Aku bisa menyetir. Aku juga bisa memangkas rambut. Di tempat asing aku ingin menjadi sopir. Atau pemotong rambut?”

“Bagaimana dengan aku?”

“Kamu, bisa melatih kebugaran di gym.”

“Apakah kita pindah ke kota yang ada gym-nya?”

“Bisa kita cari.”

“Apakah kita perlu berganti nama?”

“Untuk apa?”

“Sekalian aja. Aku ndak suka namaku ini.”

“Nanti aku carikan nama yang pantas untuk kamu.”

“Ndak perlu. Aku mau mengarang sendiri.”

“Ya sudah.”

“Fahri.”

“Ha? Siapa?”

“Ya, aku mau berganti nama menjadi Fahri.”

“Hmmm..”

“Eh, Diego saja. Aku menyukai nama Diego.”

“Hmmm..”

“Bagaimana, bagus bukan?”

“Entahlah. Aku ga akan keberatan sepanjang kamu nyaman dipanggil Diego.”

“Pablo!”

“Ha?”

“Iya, kamu aku ganti namamu menjadi Pablo.”

“Kenapa Pablo?”

“Macho. Aku suka nama yang menggambarkan kelaki-lakian yang tegas.”

“Diego… Hmmm. Pablo… Hmmm.”

“Bagaimana jika nama itu membuat kita malah terlalu mudah untuk dikenali. Nama itu terlalu asing menurutku. Bahkan di negeri asing.”

“Soal nama, biar nanti kita pikirkan lagi. Bagaimana dengan uang tabungan kita?”

“Aku habis. Kemarin sudah buat angsuran terakhir.”

“Mobil?”

Sebuah anggukan dilayangkan. “Kalau kamu?”

“Sama. Kita apes. Selamanya kita akan berada disini. Atau malah kita harus akhiri. Uang sewa apartemen sudah terlanjur aku bayarkan hingga Oktober”

“Kamu mau begitu?”

“Kalau kamu?”

Sebuah gelengan dilayangkan.

“Sama, aku pun tak mau.”

“Lalu?”

“Biar kutelpon kakakku.”

“Untuk apa?”

“Aku mau jual mobil kamu. Uangnya buat kita pergi jauh.”

“Bukannya kakak kamu pun tahu tentang kita?”

“Iya.”

“Kamu yakin?”

“Iya.”

“Yakin..?”

“IYA!”

“Tapi bukannya dia rajin shol.. ah, sudahlah. Terserah kamu aja deh.”

“Biar aku coba”. Lalu ditekannya layar dengan gambar angka-angka. “Assalamualaikum..” Ditunggunya respon dari suara di sebrang sana.

..

“Iya kak. Baik kak. Jadi begitu kak. Nanti detilnya aku we-a kak.”

“Bagaimana? Kakakmu apa responnya?”

“Positif. Mobil dia ga butuh. Katanya dia akan pinjamkan uang untuk kita.”

“Serius?”

“Iya.”

“Kok bisa?”

“Entahlah, aku pun tak tahu alasannya. Hanya saja katanya aku diminta memberikan detil dana yang diminta.”

“Ya sudah, ayo kita kirimkan saja rincian uang untuk tiket dan keperluan untuk sebulan ke depan.”

Lalu mereka sibuk berhitung. Sibuk juga berpikir seberapa banyak uang yang mereka perlukan. Seberapa besar mereka akan bertahan hidup sebelum memperoleh pekerjaan yang bisa memberi mereka “makan”.

Belum sempat mereka selesai, sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar gawai. sebuah pesan dari layanan mobile banking. Sederetan angka tertera. Lalu pesan muncul di notifikasi WA.

Ini dari kaka, buat kamu dan dia. Pergilah. Cari kota yang lebih bisa bikin kamu merasa bahagia. Jika perlu  berkelana hingga seberang sana. Kaka alhamdulillah baru saja menjual salah satu rumah di Bandung. Itu buat kamu semua. Semoga bahagia.

Mereka tertegun.

Hanya satu kalimat yang mereka sanggup tulis.

“Kenapa Kaka baik banget?”

Tak ada jawaban. Hanya read doang. Mereka bingung. Tak disangka, dari akan melepas kendaraan hingga mendapatkan dana yang lebih dari cukup untuk pergi jauh. Juga cukup untuk berganti nama. Hingga berpuluh-puluh kali berganti. Pablo. Diego. Javier. Fahri. Junaedi. Emha. Haidar. Ainun. Fikar. Atau sebut nama siapapun. Mereka sedang bahagia.

Bantuan ini sangat mereka harapkan. Namun tak menyangka sedemikian mudah. Tanpa nyana. Pagi-pagi sekali mereka berkemas. Tak banyak yang dibawa. Hanya sepenggal harapan dan sedikit kenangan.

Ketika akan menuju bandara, sebuah notifikasi di we-a muncul. Kaka rupanya.

“Bagaimana?”

“Bentar, aku buka..”

Lalu mereka membaca bersama:

“Mencintai Tuhan yang sempurna, suci, dan agung itu mudah. Yang paling sulit adalah mencintai manusia yang serba kekurangan. Ingatlah, orang tidak akan mengerti selain apa yang dia cintai. Selama kita tidak pernah belajar mencintai ciptaan Allah, maka kita tidak akan pernah benar-benar mencintai apa pun dan tak akan pernah mengenal Allah…”

(Syamsi Tabrizi)

Mereka berdua saling berpandangan. Mereka yakin, Pablo dan Diego adalah nama yang bagus kelak.

-TAMAT-

salam anget,

roy

Advertisements

12 thoughts on “Pablo dan Diego

Leave a Reply