Kisah Sial Urban

Memilih untuk commuting dengan transportasi publik memang tidak selalu indah ceritanya. Aspek menyenangkannya memang dari segi waktu tempuh dan makian yang bisa dihemat, ketimbang menggunakan kendaraan pribadi. Terutama untuk pekerja seperti saya yang tinggal di selatan Jakarta dan berkantor di bagian barat.

Efek baiknya juga, saya jadi lebih asertif dalam menegur orang yang mencoba berlaku tak sopan, antre sembarangan, dan yang mengambil sisi kanan eskalator tetapi tidak berjalan. Daripada ngomel dalam hati, kan?

Nyeri!

Tapi semakin sering mengalami, membuat saya semakin malas bersuara, seringnya ya sudahlah biarkan saja. Misalnya, ketika naik KRL dari stasiun tanahabang ke arah Depok atau Bogor, yang biasanya masih cenderung lengang. Semua penumpang seperti tersentil survival instinct dan berebut kursi yang masih kosong. Walaupun saya sudah berdiri di atas garis kuning – garis batas peron yang calon penumpang boleh berdiri – tetap saja begitu menjelang kereta berhenti selalu ada orang memaksa berdiri di depan saya, walau risikonya hidung tersenggol kereta.

Yang saya sering sebal juga dengan orang yang berkeras untuk berdiri di dekat pintu, padahal stasiun tujuan masih jauh, padahal di bagian dalam kereta masih lowong. Untuk melampiaskan biasanya ketika saya turun saya tak peduli untuk menabrak atau menginjak kaki sambil menegur sambil lalu: “Jangan berdiri di pintu, MAS!”

Risiko berdiri di pintu

Beberapa hari yang lalu, saya bisa keluar kantor agak sore, dan menanti di garis kuning seperti biasa. Seperti biasa pula seorang mas mas dengan santainya melangkah ke depan saya ketika kereta berhenti. Mungkin pikiran saya langsung sibuk kesal , tetapi tetap dengan asumsi kalau dia akan masuk ke bagian tengah kereta dan ikut rebutan duduk di kursi. Ternyata si mas malah berhenti di pintu dan berdiri di pinggirnya yang membuat saya limbung karena langkah saya ke depan terhalang jadi mengantisipasi dengan melangkah agak ke sisi, walhasil kaki saya meleset dari lantai kereta dan saya jatuh ke dalam kereta dengan posisi tertelungkup.

“Mas! Kalau masuk ya masuk, jangan berhenti di pintu gitu, bikin kagok aja!” Kontan omelan langsung keluar, sementara saya baru sadar, tentu dia tidak sadar dan tidak peduli apa yang terjadi di belakangnya. Saya pun berdiri dan langsung pasang posisi seperti biasa tanpa menunggu reaksi dari mas yang ditertawakan temannya. Mungkin juga temannya menertawakan saya, sih, tapi bodo amat.

Moral of the story (tetap harus ada ya): jangan pernah sok mengantisipasi arah gerakan orang di depan kalau tidak mau jatuh terjelungup.

Advertisements

Leave a Reply