Perjalanan Itu Masih Panjang

Ketika kita mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu, maka yang menemani kita adalah perbuatan kita sendiri.

Tadinya saya berpikir bahwa menciptakan produk adalah salah satu cara mengekalkan aktivitas yang pernah dilakukan oleh kita. Produk itu atau sesuatu itu akan menjadi abadi. Atau setidaknya kita berupaya menjadi abadi.

Namun ternyata.

Bukan saja menciptakan sesuatu atau berkarya menjadikan sesuatu bentuk hadir dalam tampilan fisik yang dapat menjadi kekal. Ada hal lain yang lebih tahan lama. Ketika apa yang kita lakukan adalah menciptakan kesan dalam ingatan. Bisa siapa saja ingatan itu tertancap. Kita sendiri atau orang lain.

Ternyata.

Beraktivitas bersama manusia lainnya jauh lebih abadi. Karena tidak hanya ingatan pernah bersama menghabiskan waktu, tapi akibat dari kebersamaan itu akan terus mengikuti.

Saat berinteraksi dengan orang lain, ingatan kita ternyata juga menggunakan indera penciuman. Kita ingat aroma tubuh kawan bicara. Atau bau mulutnya. Saat bertatap muka, kita juga mendengar suaranya. Tidak hanya melihat dengan mata namun juga mendengar dengan telinga. Aalagi bersentuhan kulit. Ada sensasi yang luar biasa. Bisa dimulai dari bersalaman. Atau berpelukan. Atau hal lainnya yang bisa mulai Anda bayangkan sendiri.

Akan tetapi.

Interaksi antara kita dengan orang lain ternyata tidak sekekal pertemanan kita dengan konsekuensi apa yang kita lakukan. Tidak melulu ketika kita berinteraksi dengan orang lain, atau sendiri, atau beramai-ramai. Yang kekal adalah akibatnya.

Apa maksudnya?

Ketika kita saling mencaci. Yang teringat adalah sakitnya. Lebih kekal daripada rasa lapar yang segera hilang usai sarapan. Ketika kita mengetik pesan via whatsapp, atau pesan pendek SMS, atau mention di twitter. Lalu kita ketik send. Maka yang menemani kita dalam penantian tak berujung apa respon yang akan dijawab oleh kawan bicara di seberang sana adalah reaksi rasa cemas, rasa takut, rasa senang, atau rasa sedih. Padahal kawan bicara kita sendiri belum merespon apapun. Atau bahkan tanpa adanya respon itu adalah sebuah respon itu sendiri. Berganti situasi. Kita ditemani pikiran macam-macam. Apakah dirinya marah? Apakah Bapak itu kecewa saya mengajukan cuti mendadak?

Tanpa disadari sahabat sejati kita adalah situasi ketika kita usai melakukan sesuatu.

Seberapa banyak dialog yang kita lakukan kepada diri sendiri. Lewat jalan pikiran dan suara-suara hati yang terus menerus hadir.

Jika demikian adanya maka kita sebetulnya berteman dengan logika, akal sehat, mood, perasaan, ketakutan, ego, nafsu, dan semua hal yang menjadi teman diskusi dalam hati sebelum mengambil keputusan.

KnowledgeandExperience

Adapun kita berteman dengan si Susi, karena perasaan kita menyukai Susi. Mengapa kita menyukai Budi, ternyata karena ego kita menyukai Budi yang selalu memuji kita apapun yang sedang kita lakukan. Mengapa kita menyukai Muthia. Ternyata karena ketika kita berada di dekatnya bawaannya nafsu melulu.

Semua individu di luar kita bisa berteman dengan kita jika “teman sejati kita” yakni hasil diskusi antara logika dan perasaan dengan banyak jenisnya  itu telah merestui pertemanan kita dengan orang lain.

Namun rupanya.

Ternyata.

Oalah.

Teman yang katanya sejati tersebut begitu rentan. Mungkin ini yang disebut mudahnya membolak-balikan kalbu. Mood kita berubah. Emosi kita berbenah atau makin kacau. Logika kita bisa digunakan, bisa juga bahkan tak diajak bicara. Nafsu kita kadang mendominasi atau malah melemah raib entah kemana.

Hal ini terkadang berubah ketika diri kita menemui sebuah situasi dimana kita terlibat didalamnya. Terkadang akibat perbuatan kita yang telah dilakukan tidak siap diterima oleh seluruh teman “sejati” kita tadi. Tinggal “aku” dan “situasi”. Mau dibawa hubungan aku dan situasi ini?

Terkadang saat kita ketahuan mencontek, semua akal dan mood kita tak terkendali dan tak mau menemani. Yang setia adalah situasi dimana Pengawas ujian memarahi kita, mengambil lembar jawaban kita, dan menyuruh kita keluar ruangan.

Maka kita lebih sejati, lebih memiliki nilai kemurnian yang lebih tinggi antara “aku” dan “akibat dari kelakuan si aku”.  Sebuah pertemanan sebab-akibat.

Oleh karena itu. Jika saja kita sadar sesadar-sadarnya, maka dalam setiap kesempatan kita akan berkenalan dengan sahabat baru yang bernama “situasi” baru. Semakin kita memberanikan diri berbuat sesuatu maka kita memiliki probabilitas lebih tinggi untuk berkenalan dengan “akibat” baru, yang menjadi teman kita, dan syukur-syukur kita ingat, sehingga ketika kita menemui situasi yang hampir serupa, kita lebih mudah mencerna situasinya dan meresponnya secara lebih bijaksana.

Berlibur di negeri orang. Pulang kampung. Pindah tempat kerja. Menjajaki perkenalan dengan lawan jenis. Adalah bagian dari memperbanyak “teman”.

Mungkin inilah sejatinya makna dari “guru terbaik adalah pengalaman“.

Bersyukurlah. Semoga perjalanan kita masih panjang. Kita diberi kesempatan untuk mengenal “guru” kita lebih lama dan lebih banyak.

Reguklah.

salam anget,

Roy

Advertisements

Leave a Reply