Hari Yang Mengistimewakan Hidup

Seorang teman lama pernah berkata beberapa belas tahun lalu, “Sebenarnya ada makna lain lho kita merayakan hari besar, seperti Lebaran, Thanksgiving, Valentine’s Day.”

Saya tanya balik, “Which is …?”

Which is, we celebrate the idea or the spirit of the special day.”

Meaning …?”

Meaning, we emphasize or glorify the idea. Contohlah Lebaran. Minta maaf dan memaafkan gak usah nunggu sampe Lebaran. Tapi pas Lebaran, kita kayak diingetin lagi kalo minta maaf dan memaafkan itu penting. Valentine’s, gak perlu nunggu 14 February buat ngungkapin perasaan cinta. Tapi pas hari itu, the idea of love is being celebrated. Okelah, akhirnya emang dikomersialisasikan way too much. But what isn’t?”

“Oke. Kalau ulang tahun?”

“Itu sangat personal. Kan kita lagi ngomong public holiday.”

Saya mengangguk.

Dan baru sekarang saya temukan jawabannya: bahwa hari lahir kita pun selayaknya kita akui keberadaannya.

Mau dirayakan dengan mentraktir keluarga dan kerabat, boleh. Mau pergi liburan, bisa. Mau sekedar ambil cuti setengah hari supaya bisa sarapan bersama, silakan.

Yang penting, we acknowledge our existence. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Kita mengakui keberadaan kita sendiri yang masih hidup, dengan cara sekecil apapun. Sekedar bangun pagi dan sadar kalau hari ini adalah hari lahir kita, lalu mengangkat bahu tak peduli sambil langsung beraktifitas seperti biasa, itu juga sudah cukup untuk dibilang merayakan ulang tahun.

Selama kita masih ingat kapan kita mulai berada di dunia ini, dalam versi apapun, berarti kita masih hidup.

Kita boleh tak peduli hari libur keagamaan, hari libur nasional, atau hari libur lainnya.

Tetapi hari lahir kita, jangan sampai terlupakan.

Karena hal kedua setelah nama yang ditanyakan petugas berwajib saat identitas diri kita hilang, adalah tanggal lahir kita.

Celebrate your birthday, the best way you know how.

And carry on enjoying your life.

Advertisements

3 thoughts on “Hari Yang Mengistimewakan Hidup

Leave a Reply