Aku Nggak Enak Sama Kamu, Jadi Enaknya Gimana?

“Beb.”

“Ya, beb.”

“Nanya dong.”

“Pake nanya lagi.”

“Belum nanya itu, beb.”

“Oh iya, ding. Kenapa, beb? Lho kok malah aku yang nanya.”

“Nggak papa, beb. Beb, kamu udah berapa kali resign dari kerjaan?”

“Wah, berapa kali ya. Harus diinget-inget dulu. Lupa.”

“Nyante aja, beb. Ini lampu merah masih lama kok.”

(radio masih saja memutar lagu Mirror dari Justin Timberlake)

“Beb? Itu ngitung apa ngelamun? Jangan ketiduran, beb.”

“Oh, eh … Ya gara-gara nginget-nginget yang dulu-dulu, jadi ngelamun. Ada lah 5-6 kali resign dari kerjaan.”

“Hmmm. Berarti cukup betah juga ya di satu kerjaan.”

“Kalo sama kerjaan sih, setia lah. Kalo sama yang ngajak setia, biasanya dikerjain.”

“Eits, jangan curcol, beb. Lagi full moon ini.”

“Oke, beb. Kenapa gitu kok tumben nanya masa lalu yang bukan masalah lu?”

“Pengen tau aja, beb. Masih inget nggak cara ngomong pas resign dari kerjaan?”

“Waduh, beb. Nggak inget lah kalo itu.”

“Tapi nggak mungkin langsung ngomong aja ‘kan?”

“Yah, beb. Ngajak jadian anak orang aja mikir lama. Apalagi keluar dari kerjaan, beb. Mikirnya lama banget. Kalo perlu sampe bikin daftar do’s and don’ts, pros and cons buat temen mikir. Galaunya bisa lebih dari galau gak dikirimin pesen “lagi ngapain?” ama cacar, beb. Calon pacar.”

“Galaunya bisa berapa lama, beb?”

“Tergantung. Kayaknya sih, semakin tua semakin lama galaunya. Maklum, semakin berumur kesempatan kerja baru juga semakin sedikit. Sama kayak dating kalo gitu ya. The pool of available and eligible ones is getting smaller, beb.”

“Kamu emang selalu doyan hubung-hubungin ya, beb.”

“Soalnya lagi gak berhubungan, beb.”

“Wah, bener juga, beb. Coba kalau lagi berhubungan, pasti nggak mungkin deh ngeladenin obrolan macam ini.”

“Emang kamu mau resign, beb?”

(radio memutar lagu Strong Enough dari Sheryl Crow)

“Lagi bingung, beb. Lagi super jenuh sama kerjaan sekarang. Tapi belum ada kerjaan baru. Nggak sempet juga cari-cari peluang baru. Fully occupied sampe gak ada social life ini, beb. Tapi ada yang lebih penting sih, beb.”

“Apa itu, beb?”

“Gimana ya cara ngomong kalo mau resign?”

“Minta waktu ama bos, mungkin?”

“Minta waktunya sih harusnya nggak masalah ya, beb. Yang masalah itu adalah the actual ngomongnya. Apalagi ngomong ke bos-bos yang practically temen juga. Kantor kecil, projects alhamdulillah banyak. Jadi ya mau gak mau semuanya dikerjain bareng-bareng, rame-rame. Jadi ya deket. Dan mungkin saking deketnya, udah seperti kayak temen deket, mungkin keluarga malah, karena frekuensi waktu bersama cukup tinggi. Tapi sekarang mau keluar, susahnya setengah mati.”

“Hmmm. Udah berapa lama keinginan pengen keluar ini muncul?”

“Well, sudah cukup lama sih, benernya. Somehow I don’t see myself doing this anymore, beb. Kayak udah cukup. Pengen take a break. Bukan pengen istirahat malah. Pengen stop doing it for good, beb.”

“Jenuh, beb?”

“Jenuh banget, beb.”

What made you jenuh, beb?”

Everything, beb.”

And you said everything, because …”

“… because …”

“… because your mind is clouded by you being exhausted, maybe?”

“Bisa jadi, beb.”

“Sudah ada kerjaan lain? I mean, calon kerjaan lain?”

It’s too early to say sih, tapi ada lah peluang baru.”

Good to know. So what stops you in saying to the bosses? Karena gak enak?”

“Karena gak enak.”

(radio memutar lagu No One dari Alicia Keys)

“Mungkin karena bos yang deket dan jadi temen ya.”

But they are your bosses first before you become their friends, beb.”

True.”

“Dan kalau aku inget-inget lagi sekarang, hampir semua obrolan aku pas resign atau keluar dari kerjaan ya akhirnya yang jujur. Kerjaan pertama di sales, jujur akhirnya bilang kalo kerjaan sales gak cocok. Terus akhirnya dapet kerjaan yang pas, tapi harus keluar juga, ya jujur karena dapet better offer. Pernah juga keluar karena ada urusan keluarga yang makan waktu lama. Ya mungkin karena lebih enak ngomong yang sesungguhnya sih, beb. Kita bukan aktor pemenang Oscar ini. Boro-boro, beb. Nominasi acara 17-an di kampung aja juga nggak mungkin.”

“Jadi aku harus jujur ngomong kalo aku jenuh, gitu, beb?”

You’ll find your way in finding the reason, and eventually saying the truth. Jangan sekarang ya, beb. You’re too exhausted to think. Let alone to plan. Sama kayak jangan ngambil keputusan waktu lagi marah, jangan ngambil keputusan waktu pikiran lagi butek. Take a day off maybe, beb? And do nothing for 24 hours? No phone, no text, no internet?”

“Semacam detox ya, beb?”

“Semacam itu lah, beb.”

“Okelah kalau begitu. Oo .. oo .. okelah kalau begitu.”

“Jangan nyanyi, beb. Aku nggak bawa obat sakit kepala sekarang.”

“Beb?”

“Ya, beb?”

“Kenapa dari tadi kita manggil “bab beb bab beb” melulu ya? Pacar bukan. Gebetan bukan. Friend with benefit juga nggak ada benefit yang oke.”

“Ya daripada nggak ada, beb.”

“Bener juga, beb.”

“Hey, beb.”

“Ya, beb?”

“Jujur sama diri sendiri is the way to stay sane and survive this life.”

“Langsung aku bikin desain kaos pake quote tadi, beb.”

“Sama stiker ya, beb.”

“Oke, beb.”

Advertisements

2 thoughts on “Aku Nggak Enak Sama Kamu, Jadi Enaknya Gimana?

  1. Kenapa ya setiap galau, setiap resah terutama masalah kerjaan buka linimasa kayak dapet temen mencurahkan isi hati. Ini tu kayak yg aku rasain belakangan ini pengen resign, penat, capek, tertekan. tp mau resign takut susah dapet kerjaan lg. Mn jomblo. 😂

Leave a Reply