Bayangkan Saja Tahun Depan di Halaman Pertama Koran Kompas Terpampang Tommy Soeharto Tersenyum dan Tertulis: “INDONESIA, MOHON DOA RESTU. Mari Kita Berkarya.” SATU HALAMAN PENUH.

(Contoh 1)

Misalnya:

Saya di internet punya banyak pengikut. Lalu teman saya datang menghampiri dan meminta bantuan saya menjadi buzzer untuk kepentingan usahanya: jual obat penggugur kandungan. “Ini aselik Roy. Namanya Cytotec. Ampuh. Kamu cukup ngetwit: “Cytotec, solusi kita semua.” Lalu kamu kasih link situs aku. Satu tweet aku kasih satu juta. Seminggu saja kamu tweet-kan, sehari dua kali. Lumayan, saya bayar 10juta. Boleh kok dikasih hestek #ad atau #sponsor.”.

Dan misalnya saya adalah pun orang yang ndak terlalu peduli soal aborsi. Lalu saya menyanggupi penawaran teman saya itu dan tweetkan sesuai apa yang ia minta seminggu penuh.

Pertanyaan:

Apakah ini adalah bagian dari keberpihakan saya terhadap kaum “the freedom of choice” dan pro aborsi, atau orang selayaknya memisahkan antara pendapat pribadi dan keputusan saya memuat iklan tersebut.

Dengan keputusan saya memuat iklan tersebut saya menganggap saat itu adalah fungsi akun saya sebagai akun inklusif yang free market. Tidak berpihak dan berjalan selayaknya orang bisnis. Jika ada yang perlu, harga cocok, saya jalankan.

(Contoh 2)

Jika pun ekstrimnya ada seorang guru ngaji yang akan membayar saya dengan harga yang sama, seminggu kemudian agar saya ngetweet ayat-ayat suci dari kitab yang menjelaskan bahwa perbuatan aborsi itu dosa besar, dengan bayaran yang sama persis, saya pun akan menyanggupinya.

(Contoh 3)

Atau karena iklan rokok semakin sulit tayang di acara televisi maupun internet. Saya diminta untuk menulis artikel di blog ini yang intinya bahwa saya bikin cerpen dengan tokoh pria idaman lebih keren dari Dilan dan kerjaannya merokok melulu tapi produktif dan berprestasi. Intinya cerita dibangun untuk menunjukkan kesan pria keren itu merokok. Atas cerpen saya saya akan dibayar 5juta rupiah. Boleh saja dalam keterangan di bawah cerpen, saya menulis bahwa cerpen ini adalah cerpen bayaran dengan sponsor PT. Djarum Pentoel.

Perusahan rokok yang bayar saya itu paham bahwa pembaca blog saya adalah anak usia 15 tahun hingga 28 tahun, misalnya. Saya sendiri pun paham bahwa perusahaan rokok tersebut paham atas audiens pembaca blog ini.

Lantas apa yang sebaiknya saya lakukan?

Apakah saya berhak menolak pengajuan iklan terselubung tersebut? Ataukah saya wajib menerima iklan apapun yang memberikan kompensasi berupa uang tunai kepada saya, dengan dasar bahwa saya adalah pihak yang seharusnya tidak menolah tawaran apapun sebagai sebuah bukti saya independen tidak berpihak kepada siapapun, walaupun faktanya saya memuat suatu pesan komersil berdasarkan bayaran.

Contoh ekstrim lagi:

(Contoh 3)

Ada tukang becak, namanya Naga. Dia biasa kasih tarif 10 ribu dari ujung jalan Malioboro dekat pintu kereta stasiun Tugu hingga depan penjual batik Hamzah yang dulu bernama Mirota. Sayangnya Naga itu orangnya rasis. Setiap ada orang Jawa mau naik Becak, dia menolak. Dia ndak suka jok becaknya dinodai keringat orang Jawa. Walau manis tapi hitam, pikirnya. Dia hanya mau menerima penumpang yang beretnis Arab atau Cina. Prinsip dia bahwa pribumi banyak yang sudah bela. Gilirannya untuk membela etnis Priangkasa (kebalikan pribumi).

Dapat dibenarkankah soal ini?

Yang sering kita baca tanpa sengaja adalah papan pengumuman:

(Contoh 4)

“Terima Kos Karyawati Muslim”


 

Agak sulit memang untuk memisahkan antara keberpihakan individu dan aktivitas bisnis dengan “nilai moral maupun susila”.

Soal aborsi, soal merokok, soal warna kulit dan soal agama adalah sebagian kecil persoalan yang muncul atas perbedaan. Sangat berbeda dari apa yang saya contohkan.

Soal penolakan aktivitas bisnis karena agama dan soal warna kulit bukan bicara moral. Tidak ada hubungannya sama sekali.

Sedangkan pilihan hidup misalnya pro aborsi atau tidak dan atau soal pro perokok atau bukan, ini adalah pilihan yang sifatnya subyektif dan rentan diperdebatkan bahkan timbul kericuhan.

Lantas menjadi pertanyaan apakah dengan memuat iklan terkait salah satu pihak yang bicara soal ini kita berhak diadili bahwa kita memiliki keberpihakan atas salah satu pandangan?


 

Justru lebih mudah dengan apa yang dilakukan oleh Red Welby atas permintaan Midred untuk memasang iklan yang mengusung peran moral, sebagaimana diceritakan filem “Three Billboards Outside Ebbing, Missouri”.

Apakah bisnis perlu diperlakukan layaknya lembaga akademik yang netral dan menjungjung tinggi nilai-nilai kebebasan sehingga sepatutnya siapapun yang dalam forum akademik, berdiri di atas mimbar, dainggap sebagai sebuah bektuk kebebasan berpendapat dan hanya menjadi konsumsi pendidikan.

Maka bisnis adalah bisnis. Siapapun yang meminta dimuat iklannya maka kita wajib membolehkannya, sepanjang secara terang-benderang tidak terjadi gerakan tipu-tipu dengan seolah-olah itu adalah konten padahal iklan. Berbeda dengan isi berita (jika itu media) atau isi tweet (jika saya seorang buzzer).

Hal ini adalah soal klasik. Saat ini saja Twitter masih memutuskan untuk tidak memuat iklan soal bitcoin. Atau Facebook yang menolak iklan tentang postingan yang berbau HOAX. Atau Bu Ajijah yang menolak gadis Toraja Nasrani untuk menyewa kamar indekosnya yang diperuntukkan khusus bagi Muslimah.

Pertanyaan terakhir:

Misalnya:

Menjelang hari pencoblosan dalam pemilu 2019 kelak, Partai Berkarya memasang iklan dengan gambar wajah Tommy Soeharto tersenyum dan  dengan tulisan: “INDONESIA, Mohon Doa Restunya.” di halaman pertama harian KOMPAS, dan memasang iklan di seluruh kanal media, baik televisi, youtube, twitter, hingga radio. Iklan ini tidak pada hari yang sama namun berturutan.

Tommy-Soeharto

Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?

Atas nama bisnis, bolehkah Kompas menerima pemasangan iklan sehalaman penuh terhadap sosok anak penguasa Orba? Atas nama keberpihakan politik, bolehkah Kompas menolak pemasangan iklan tersebut?

Silakan yang mau berkomentar bisa menulis di kolom komentar atau mensyen saya di twitter Roysayur  

Salam anget,

Roy Soeharto

 

 

 

foto: detik.com

 

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Bayangkan Saja Tahun Depan di Halaman Pertama Koran Kompas Terpampang Tommy Soeharto Tersenyum dan Tertulis: “INDONESIA, MOHON DOA RESTU. Mari Kita Berkarya.” SATU HALAMAN PENUH.

  1. nah disini menariknya. apa benang merah kedua contoh kak Yenni?

    ketika kompas yang begitu dicitrakan humanis membawa amanat suara hati rakyat, tidak menolak pengajuan iklan dari siapapun.

    tidak menolak berarti ada penekanan pada bisnis adalah bisnis.

    dengan demimian ini bertolak belakang dengan pendapat kak Yenni soal tawaran kos.
    jika sejalan dengan prinsip bisnis adalah bisnis, maka sedianya ibu kos menerima siapapun yang bermaksud kos disana. selama ia dapat membayar dan mematuhi tata tertib.

    bukan begitu?

    • Ah, kayaknya aku salah, Om Roy. Salah karena pakai kata “termasuk”. Jadi bikin soal iklan Kompas dan terima kos muslim jadi berhubungan. Maaf, maaf.
      Tapi aku masih berkeyakinan kalau sah-sah saja ibu kos cuma mau menerima anak kos muslim karena kos-kosan adalah properti pribadi. Gak adil memang, tapi kita juga ga bisa maksa ibu kos yang seperti ini untuk menerima anak kos beragama lain.
      Ini pendapatku, lho, dan bukan karena aku muslim.

  2. Kalau menurutku, sih, sah-sah aja kalau Kompas mau memuat iklannya Partai Berkarya. Business is business, menurutku.
    Termasuk kalau seorang pemilik indekos maunya cuma menerima anak kos muslim. Itu juga sah aja, kan propertinya.

Leave a Reply