Karat

Dua kata yang menakjubkan buat saya adalah “ketok magic”. Pernah dengar kata ini, ‘kan? Biasanya kita temui di pinggir jalan, dalam bentuk bengkel kecil, dengan ban mobil atau ban sepeda motor yang berserakan atau bergelantungan di langit-langit.

Mereka menawarkan jasa untuk memperbaiki kerusakan kendaraan bermotor yang biasanya cenderung parah, dan bengkel resmi kebanyakan menyerah. Apalagi kalau tidak diasuransi atau masa asuransi sudah lewat. Maka hadirlah “ketok magic” ini, yang bisa menutupi kerusakan mobil atau sepeda motor kita.

Tergantung tingkat keahliannya, bisa-bisa mereka menutupi kerusakan sampai kendaraan kita terlihat seperti baru. Tapi kalau tidak terlalu ahli, biasanya kerusakan sekedar diperbaiki sampai kendaraan bisa berfungsi lagi. Toh fungsi yang paling penting, bukan?

Kalau konsep “ketok magic” ini diaplikasikan ke dalam kehidupan manusia, maka yang langsung terbayang adalah operasi plastik. Atau jenis perawatan lain seputar muka, baik itu karena musibah, atau sekedar menunda penuaan. Cuma tulisan kali ini tidak membahas tentang perawatan muka, karena muka penulis ini pun perlu perawatan.

Kali ini saya ingin mengajak kita ngobrol sejenak tentang kemampuan kita. Kemampuan, skill, yang kita miliki karena keahlian yang kita pelajari secara resmi, atau tekuni sekian lama sampai terbiasa, atau karena tuntutan hidup, namun karena satu dan lain hal, akhirnya terhenti. Sampai kita menjalaninya lagi.

Seorang teman di grup WhatsApp pernah berkeluh kesah, “Gue pikir ya, punya anak kedua itu bisa lebih relaxed, karena udah punya pengalaman ama anak pertama ya. Ternyata salah besar, saudara-saudari! Apa jaraknya kelamaan ya? Lima tahun kan gak lama! Tapi kayak gue udah lupa gitu musti ngapain dulu.”

Sementara salah satu tante saya (budhe itu bahasa Indonesianya apa ya?), yang pernah berprofesi sebagai guru, lalu menjadi pejabat negara sekian puluh tahun lamanya, lalu pensiun dan sekarang menjadi dosen, pernah bercerita, “Waduh, aku ndredheg lho dua minggu sebelum ngajar lagi setelah gak ngajar puluhan tahun. Udah lupa bikin materi ngajar itu kayak apa. Hari-hari pertama ya gitu, masih banyak “aa ee aa ee” pas ngajar. Tapi abis itu ya sudah, wis biasa lagi. Tau gitu dulu-dulu tak sempetin ya, ngajar atau jadi dosen tamu. Cuma dulu ya gak ada waktu.”

Saya pernah mewawancarai seorang aktor teater. Dia seniman senior, kaliber besar. Namun selama belasan tahun, dia sempat menarik diri dari seni peran. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali, dan kemunculannya disambut dengan sangat meriah. Wawancara saya lakukan di negeri seberang. Saya tanya, apakah dia sempat nervous saat datang pertama kali ke tempat latihan. Dia melihat saya beberapa saat, lalu terdiam, dan dengan suara pelan namun penuh wibawa, dia menjawab, “Yes, very much. I feel like a has-been, I feel my skill, the acting skill I have learned, carved and perfected for years is now … (dia terdiam lagi) … rusty. And it hurts me to realize that I am now bringing this rusted skill to the table. But somehow, the worry stopped at the door. When I open the door, the director, other actors, crew members, they greeted me with smile. No, no standing applause or something like that. Just saying “hi”, “welcome”, with sincere smile. And when the reading started, I observed. I looked around. I paid attention to what they said. Then my turn came. They observed. They looked at me. They paid attention. We exchanged notes. Only by then I know that this rusty feeling of having an outdated skill can only be fixed by other people, and their sincerity in accepting. And they can only accept you, when you accept yourself as you are, in the present.”

Waktu dan perjalanan hidup kita sebagai manusia memang kadang tidak bisa kita atur dan rencanakan sedetil mungkin. Kejutan berupa kejadian-kejadian yang tidak kita sangka datang dalam hidup membuat kita sering kali terpaksa mengubah rencana yang sudah kita buat.

Setelah berkutat di satu konsentrasi pekerjaan selama beberapa tahun terakhir, mulai pertengahan tahun lalu saya memutuskan untuk meninggalkan konsentrasi tersebut. Lalu saya kembali mengerjakan hal lain yang pernah saya kerjakan cukup lama, dimulai lebih dari satu dekade yang lalu. Meskipun masih dalam industri yang sama, namun cakupan, konsentrasi, dan cara bekerjanya sangat berbeda.

Saya mengakui ke teman saya yang menjadi partner kerja sekarang, “Terus terang gue sempat kagok. Menangani hal-hal ini yang udah lama gak gue pegang bertahun-tahun. Macam sepeda, ini mulai dari pedal sampai stang semua sudah karatan. I really feel rusty. And I wish ada semacam ketok magic yang bisa bikin gue get back and up and running again so smoothly.

Teman saya hanya tertawa, dan saya melanjutkan, “Tapi ya gue anggep ini learning curve lagi lah. And I’ll come around to it again, I promise.

Dan mungkin tak ada salahnya kalau kita sedikit berharap ada keajaiban: bahwa dari hal yang berkarat, bisa menghasikan karya gemilang bak emas 24 karat.

Semoga.

Selamat berlibur.

PS: Tentu saja, perhatikan lirik lagu di bawah ini.

Advertisements

4 thoughts on “Karat

Leave a Reply