Malu Bertanya Sesat di Jalan … Banyak Nanya Malu-maluin

SAAT bertanya, beberapa dari kita pasti pernah mengalami hal berikut.

  • Mendapatkan jawaban yang diawali: Begitu aja kok enggak tahu?”
  • Mendapatkan jawaban yang diawali: Google aja ndiri (jawabannya)!
  • Mendapatkan jawaban yang diselipkan kalimat: “Bego banget sih.
  • Mendapatkan jawaban yang diawali dengan tertawa mengejek, senyum yang seolah mengolok, ekspresi merendahkan. Jawaban pun disampaikan dengan intonasi seakan-akan kita adalah orang bodoh sekecamatan.
  • Mendapatkan jawaban yang diawali dengan marah-marah. Entah karena yang bersangkutan sedang sibuk, hanya malas meladeni, atau memang begitu perangainya.

Respons-respons yang bagi beberapa orang terasa kurang menyenangkan di atas sejatinya tak dapat dihindari saat ini. Di era ketika semua orang menjadi lebih sibuk menjalani kehidupannya masing-masing, ketika menit demi menit waktu menjadi sangat berharga untuk dibiarkan berlalu begitu saja (hal ini berarti, menjawab pertanyaan kita sama dengan membuang waktu dan pikiran), ketika penggunaan mesin pencari seperti Google dan Bing sudah menjadi kebutuhan sehari-hari, dan ketika signifikansi diri (merasa sebagai orang penting) makin adiktif, bikin candu.

Dengan signifikansi diri, seseorang merasa dirinya begitu penting. Dalam konteks bertanya dan menjawab ini, seseorang merasa penting karena menjadi yang ditanya, sumber informasi, jawaban, dan petunjuk bagi orang lain. Kita yang bisa mengenali gelagatnya saat seseorang terkesan agak angkuh saat memberi respons.

Mendapatkan tanggapan-tanggapan seperti di atas, baiknya tak usahlah dimasukkan ke hati atau baper, apalagi sampai dendam. Sebab setidaknya kita menjadi lebih tahu, mana orang-orang yang pantas ditanyai dan tidak. Mana yang cocok dijadikan teman lebih jauh di luar lingkungan kampus, kantor, atau pekerjaan, ke area yang lebih personal, dan yang tidak. Cukup tahu saja, kemudian jauhi atau tinggalkan. Karena ketenteraman hati itu lebih penting.

Selebihnya, pengalaman tidak menyenangkan tadi juga mendorong kita untuk belajar mencari tahu dengan cara lain, tanpa harus merepotkan orang dengan bertanya. Karena belum tentu seseorang senang ditanya-tanyai. Meskipun suatu saat nanti bisa terjadi sebaliknya. Giliran dia yang akan bertanya kepada kita.

Nah!

Ada kalanya kita yang bertanya, dan ada kalanya pula kita menjadi yang ditanya. Hanya perkara waktu. Namun, permasalahannya bukanlah siapa yang bertanya atau apa yang ditanyakan, melainkan bagaimana kita—sebagai yang ditanya—merespons pertanyaan tersebut.

Pada akhirnya, semua akan kembali ke kita. Satu hal yang pasti, jika kita pernah mendapat perlakuan tidak menyenangkan, apakah worth it bila kita melakukan hal tidak menyenangkan yang sama kepada dia?

Di sinilah pentingnya kita untuk menyadari serta memaklumi diri sendiri dan keadaan yang dihadapi. Akan lebih baik, sebagai penanya maupun yang ditanya, memahami situasi dan kondisi dimulai dari satu hal mendasar: adanya kebutuhan.

Ya jelas dong ada kebutuhan, makanya seseorang bertanya. Bahkan bertanya untuk sekadar mencari perhatian juga beranjak dari situ.

  • Penting/Tidak Penting

Baik penanya maupun yang ditanya bisa memiliki persepsi yang berbeda soal yang satu ini. Ada pertanyaan yang disampaikan karena si penanya benar-benar tidak tahu, dan membutuhkan jawaban segera. Ada pula penanya yang memang hobi bertanya, clueless terhadap persoalan yang dihadapinya, dan terbiasa bergantung pada petunjuk orang lain.

Ada sebagian orang, yang dari kecil diajarkan untuk mengusahakan sesuatu semaksimal mungkin terlebih dahulu, sebelum akhirnya terpaksa meminta bantuan orang lain saat sudah mentok dan tidak ada jalan keluar. Kita akan dengan mudah mengenali orang-orang yang seperti ini, sehingga jawaban pun bisa diberikan dengan ringan.

Ada juga sebagian orang, merasa sudah pandai dan berat memberi jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang dirasanya sepele. Apabila mereka memang benar-benar pandai, mereka semestinya bisa mengenali atau membedakan mana pertanyaan yang disampaikan secara bersungguh-sungguh, dan yang cuma sekadarnya. Lagipula, karena pandai, mereka pun tak hanya memberikan jawaban bulat-bulat, tetapi ditambahkan dengan petunjuk selanjutnya. Minimal agar si penanya bisa melakukan metode atau cara lain terlebih dahulu dalam mencari jawaban. Bertanya adalah langkah terakhir.

Dari cara demikian, tidak perlulah kiranya sampai emosi, dan mengatakan: “Tinggal dijawab. Apa susahnya sih?

Harap diingat, sesederhana apa pun pertanyaannya, seseorang bertanya karena dia tidak tahu, bukan karena dia bodoh.

Kesan ini yang terjadi di sekolah-sekolah negeri, ketika banyak murid enggan bertanya lantaran takut dianggap bodoh. Baik oleh teman sekelas, maupun ironisnya, oleh sang guru sendiri. Ketidaktahuan pun bercokol, bertahan, dan menghambat kemajuan.

Photo by Joshua Rawson-Harris

  • Perbedaan Tingkat Emosional

Mustahil untuk bisa benar-benar memahami seseorang, luar dan dalam. Apa yang kita anggap biasa-biasa saja, bisa jadi luka bagi orang lain.

Dalam kaidah agama, norma sosial dan pergaulan umum, kebiasaan di masyarakat, dan sebagainya sudah ada poin-poin bagaimana menjadi manusia yang baik lewat tutur kata. Hanya saja, saat ini kita tengah hidup di dunia yang berisik dan gaduh. Dengan bersikap seperti asket, resi di pertapaan, yang irit bicara tetapi sakti mandraguna, kita malah dianggap aneh. Tidak semua orang bisa menjalani hidup profesionalnya seperti Limbad.

Di sisi lain, ada juga banyak orang yang saking akrabnya sampai bisa melempar cacian dan serapahan tanpa menyinggung lawan bicara. Itu sudah lain cerita.

Jadi, berikanlah jawaban saat ditanya. Berikan informasi tambahan jika diperlukan, sekaligus petunjuk agar si penanya bisa paham, bukan cuma tahu.

Dengan tidak memberikan jawaban yang diperlukan, apalagi kalau pakai acara mengejek, bukan hanya menghalangi orang lain, tetapi juga mempermalukannya. Iya deh, tidak semua orang sepandai, secerdas, sepintar, dan berpengetahuan luas seperti kamu. Tak perlulah sombong.

Begitu pula bagi yang bertanya, silakan dipikirkan dulu apakah pertanyaan yang disampaikan bakal membuat dirinya terkesan agak … kurang berwawasan, atau bagaimana. Bertanyalah dengan baik. Jangan malah nyolot. Jangan memaksakan pertanyaan supaya keinginannya terpenuhi, setelah dijawab, eh … melengos begitu saja.

Tidak semua orang memiliki kualitas welas asih seperti Dewi Guanyin dalam serial Kera Sakti, yang selalu menjawab pertanyaan dari semua umat manusia dengan sabar dan telaten.

  • Manusia Tetap Butuh Bersosialisasi

Andai semua hal bisa dijawab oleh Google, Bing, Wikipedia, Harvard Business Review (HBR), dan sejenisnya, manusia pun tidak lagi perlu saling bertanya. Efektif dan efisien, tetapi kering, dingin, dan sepi.

It’s not your fault for craving such a quiet time. Akan tetapi, alih-alih membenci situasi (dan kesal terhadap seseorang yang bertanya atau mengajak bicara), coba tanyakan pada diri sendiri: “Apa sih yang bikin aku tidak suka dengan kondisi ini?”, “Kenapa aku merasa kesal, ya?

Sebagian besar jawabannya pasti: “Malas”, “Capek”, “Siapa kamu?

Doyan tidak menggubris orang lain secara sengaja, ya sewaktu-waktu harus siap untuk merasakan tidak nyamannya tak digubris oleh orang lain pula. Fair, kan? Ini bukan cara semesta membalas dendam. Ini hanya sebuah keterkondisian, yang niscaya. Jadi, tidak perlu merasa jadi korban, merasa teraniaya, ataupun merasa diperlakukan tidak adil. Hanya perubahan posisi, kok … dan itu alamiah. Ndak usah baper.

  • At the end, it’s your own problem

Bagaimana pun juga, perasaan menyenangkan atau tidak menyenangkan muncul dari dalam diri sendiri. Kita adalah subjek sekaligus objek kehidupan kita sendiri, bukan orang lain. Bukan dari orang yang bertanya, bukan pula dari orang yang kita tanya. Berhasil mendapatkan jawaban yang kita inginkan, berterima kasih lalu lanjutkan urusan. Tidak berhasil mendapatkan jawaban yang kita inginkan, move on lalu lanjutkan urusan.

Gon, kok ini jadi ribet amat sih?
Namanya juga hidup manusia. Kalau yang enggak ribet itu, jadi plankton aja.

[]

Advertisements

3 thoughts on “Malu Bertanya Sesat di Jalan … Banyak Nanya Malu-maluin

Leave a Reply